Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia, Cara Kekinian Mengenalkan Sains ke Millennial

Jumat, 29 November 2019 | 12:32 WIB


BANDUNG – Penyelenggaraan pameran foto mungkin sudah kerap dilakukan di berbagai tempat. Namun, kali ini Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI menyelenggarakan pameran foto dengan sebuah misi, yakni mengenalkan ilmuwan-ilmuwan muda di Tanah Air. Hal ini diwujudkan melalui pameran foto bertajuk “Potret Ilmuwan Muda Indonesia” yang diselenggarakan mulai 27 November s.d. 2 Desember 2019 di Galeri Orbital Dago, Bandung.

Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia sendiri dibuka untuk umum. Penentuan lokasi di galeri serta kafe sendiri dipilih lantaran menyasar generasi millennial yang kerap menghabiskan waktu untuk sekadar ngopi, nongkrong atau mengerjakan tugas di lokasi tersebut.

Terkait penyelenggaraan pameran, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, para ilmuwan muda perlu berkenalan dan dikenalkan kepada publik. Kesan serius yang melekat pada diri ilmuwan pun harus segera diubah. Oleh sebab itu, pameran foto menjadi salah satu cara populer untuk mediseminasikan sains sehingga tercipta masyarakat yang rasional, yakni percaya akan fakta berdasarkan ilmu pengetahuan.

“Ditjen SDID mengambil inisiasi untuk mengenalkan ilmuwan atau akademisi muda yang bersinar dan berkarya mengembangkan ilmu pengetahuan secara serius serta berkelanjutan kepada publik. Hal ini amat penting untuk menumbuhkan persepsi positif kepada publik terkait dunia ilmu pengetahuan Indonesia. Selain itu, keinginan Indonesia untuk bergeser dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan kondisi masyarakat yang rasional,” kata Dirjen Ghufron menanggapi penyelenggaran Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia.

Lebih lanjut, Dirjen Ghufron menjelaskan bahwa masyarakat rasional adalah masyarakat yang mampu mendedah fenomena berbasis fakta, memiliki rasa ingin tahu untuk kemajuan, dan mampu menjadikan sumber daya hayati menjadi ladang penumbuh kemajuan ekonomi dengan nilai tambah pengetahuan. Gairah inilah yang perlu digaungkan, terutama kepada generasi muda. Jangan sampai dengan kemajuan teknologi saat ini millennial justru menjadi individu yang gampang termakan berita bohong (hoax).

Di sisi lain, Dirjen Ghufron mengungkapkan, Indonesia tak pernah kekurangan individu hebat. Puluhan ilmuwan yang fotonya dipajang di pameran hanya sebagian kecil dari SDM unggul yang dimiliki Indonesia. Bahkan, kiprah anak bangsa yang mendunia, terutama melalui jalur akademik pun patut disoroti.

“Kami berupaya untuk terus merangkul berbagai sumber daya manusia Indonesia di mana pun mereka berada. Sejak tahun 2016, bahkan sebelumnya, kami telah melibatkan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) untuk bersama-sama melaksanakan pembangunan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi. Peran ilmuwan muda pun sama pentingnya dengan para ilmuwan ilmuwan senior, yaitu memberikan masukan pengembangan pendidikan tinggi yang terbarukan sesuai dengan kondisi dan semangat zaman. Namun demikian tetap memahami tantangan serta kondisi yang menjadi ciri khas Indonesia. Kuncinya, kami selalu siap mendengar gagasan konstruktif bagi kemajuan Indonesia,” terang Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Alan F. Koropitan mengatakan, hingga saat ini belum ada yang bisa menggantikan alm. B.J. Habibie sebagai figur ilmuwan Indonesia, yaitu menjadi panutan bagi berbagai kalangan. Padahal, banyak ilmuwan muda berbakat yang telah menghasilkan berbagai karya gemilang. Sayangnya, mereka jauh dari sorotan media dan perhatian masyarakat. Bahkan, profesi sebagai seorang ilmuwan pun kurang popular di kalangan generasi millennial.

Alan menambahkan, perlu ada acara-cara baru untuk mengomunikasikan sains kepada generasi muda. Pameran ini, ucap Alan, menjadi sarana yang pas untuk lebih mengenalkan dunia akademik kepada publik. Profesi sebagai ilmuwan pun tak dipandang sebatas ilmu eksakta, tetapi juga mencakup bidang sosial hingga seni.

“Ilmuwan yang tergabung di ALMI berusia pada rentang 30 sampai dengan 40 tahun. Mereka tersebar di berbagai institusi di Indonesia. Dengan diselenggarakannya pameran ini, saya melihat bahwa cara berkomunikasi seperti ini justru yang lebih menginspirasi generasi muda,” sebut Alan.

Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia sendiri dibuka oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Wilayah IV, Uman Suherman, Kamis (27/11) malam. Pada kesempatan tersebut, Uman secara khusus mengapresiasi inisiatif Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti yang dalam hal ini menggandeng ALMI pada penyelenggaraan pameran. Menurut Uman, pameran ini dapat menjadi ruang publik untuk mendekatkan sains kepada masyarakat luas.

“Ilmuwan ini adalah cikal bakal dari riset dan penelitian. Di sini ada 32 ilmuwan yang fotonya ditampilkan, mereka tentu memiliki keunggulan masing-masing di bidang yang digelutinya. Semangat dari pameran ini adalah supaya nanti bermunculan sosok-sosok ilmuwan lain yang dapat menginspirasi,” tutur Uman pada pembukaan pameran.

Berbicara mengenai foto para ilmuwan, fotografer pada Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia, Yoggi Herdani menjelaskan, latar belakang tercetus ide memotret ilmuwan adalah krisis sosok ilmuwan, terutama di kalangan generasi muda. Ia kemudian mengamati bahwa meski sama-sama bekerja di laboratorium, masing-masing ilmuwan mengoperasikan alat yang berbeda sesuai dengan bidang risetnya. Maka dari itu, Ia sengaja memotret para ilmuwan di ruang, laboratorium atau bengkel tempat mereka menghabiskan waktu sehari-hari.

“Foto-foto dalam pameran termasuk dalam fotografi portrait yang mengambil ruang dan subjek fotonya (environment portrait). Pemilihan ilmuwan yang difoto berdasarkan rekomendasi dari ALMI, juga dilihat dari karya dan kontribusi yang telah ditorehkan. Para ilmuwan ini tersebar dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, mayoritas di Jawa, tetapi ada pula yang berasal dari luar Jawa, seperti Bali. Para ilmuwan ini juga beberapa pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah,” ujar Yoggi.

Sementara sang kurator, Henrycus Napitsunargo mengungkapkan, tujuan dari pameran ini sudah jelas, yakni memberikan apresiasi kepada para ilmuwan muda yang berprestasi namun seakan tenggelam di tengah hiruk pikuk isu-isu sosial saat ini. Sang fotografer sendiri, imbuh Henrycus menggunakan kamera gulungan film untuk memotret setiap ilmuwan. Adapun untuk masing-masing ilmuwan menghabiskan satu sampai dua rol film. Menurut dia, kemampuan seseorang dalam mengonstruksi visual potret berperan penting pada pemanfaatan kekuatan citraan foto potret itu sendiri.

“Dengan mengadopsi konstruksi visual foto potret dan pendekatan dokumentasi estetik, proyek pameran ini bisa disebut sebagai kolaborasi antar-profesi dengan dasar apresiasi antara subjek dan sang fotografer. Pameran ini juga menawarkan sebuah inspirasi untuk publik, terutama generasi muda untuk mengenal lebih dekat para ilmuwan berprestasi,” tukasnya.