Kemenristekdikti Dorong Masa Depan Kesehatan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Sabtu, 19 Oktober 2019 | 16:45 WIB


JAKARTA — Dunia kesehatan di Tanah Air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Di antaranya ialah menyangkut sistem layanan kesehatan dan juga sumber daya manusia bidang kesehatan.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kembali menyelenggarakan The Jakarta Meeting on Medical Education (JAKMED) sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman, hasil penelitian dan pengetahuan bidang kesehatan khususnya dalam area pendidikan kedokteran.

JAKMED ke-12 tahun ini berlangsung pada 18-20 Oktober 2019 dengan tema Faculty Development 4.0: Facilitating Robot-Proof Medical and Health Professions Education. Pertemuan berskala nasional tersebut menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.

Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Ali Ghufron Mukti dalam sambutannya mengatakan bahwa pemerintah telah memiliki sejumlah orientasi kebijakan, termasuk di bidang kesehatan.

“Selain komitmen dan kepemimpinan, kita juga terus memperkuat sistem kesehatan dengan reformasi sistem pembiayaan dan layanan kesehatan. Literasi serta optimalisasi revolusi industi 4.0 melalui reorganisasi kelembagaan baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujarnya seraya membuka secara resmi acara JAKMED 2019 di Aula IMERI, FKUI, Salemba, Jakarta, Sabtu (19/10).

Di era society 5.0, layanan kesehatan adalah salah satu domain yang paling diuntungkan melalui pemanfaatan teknologi mutakhir. Digitalisasi biometrik, contohnya, bukan hanya mampu mengobati tetapi juga mencegah penyakit yang konon belum bisa disembuhkan.

Ali Ghufron berharap layanan kesehatan dan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi akan dapat menjangkau hingga ke desa-desa di daerah terpencil.

“Dengan memanfaatkan penggunaan teknologi, kita harapkan bisa mendeteksi layanan kesehatan terdekat serta meminimalisir dampak akibat suatu penyakit,” tandas Ali Ghufron.

Kegiatan JAKMED 2019 juga dirangkai oleh Pertemuan Ilmiah Tahunan V Perhimpunan Pengkaji Ilmu Pendidikan Kedokteran (PERPIPKI) pada 17 Oktober 2019 dan Pertemuan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Dunia untuk wilayah Asia Tenggara atau Association of Academic Health Centers International (AAHCI) South East Asia Regional Meeting pada 18 Oktober 2019.

JAKMED 2019 dihadiri oleh stakeholder dunia kesehatan, khususnya kedokteran, di antaranya Direktur Indonesia Medical Education and Research Institute Prof. Dr. dr. Badriul Hegar Syarif, Sp. A(K), PhD. Chairman of JAKMED 2019 dr. Ardi Findyartini, PhD. Vice President & Dean School of Health Professions, Eastern Virginia Medical School USA Prof. C. Donald Combs, PhD. Dean of Faculty of Health, Medicine and Life Sciences University of Maastricht Prof Albert Scherbier. Curtin University Australia Prof. Sandra Kemp. Yong Loo Lin School of Medicine Singapore Dr. Dujeepa Samarasekera. Editor in Chief Korean Journal of Medical Education Prof. Young Mee Lee. Dean of Faculty of Medicine UI Prof. Ari Fahrial Syam. Rektor UI Muhammad Anis.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UI Muhammad Anis menegaskan bahwa sejauh ini UI telah menjalankan komitmen untuk memperbaiki kehidupan kesejahteraan masyarakat Indonesia serta turut berkontibusi terhadap pendidikan kesehatan di dunia.

“Menghadapi revolusi industri 4.0, saya percaya dari event JAKMED ini akan banyak pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru yang akan memperkaya dunia pendidikan kesehatan dan kedokteran di Indonesia,” pungkasnya.