Sukses Menjadi Ilmuwan Kelas Dunia Ala Diaspora India

Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:14 WIB


 

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam membangun pengetahuan ilmuan Indonesia tahun ini kembali mengadakan acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) dengan tema “Bangkit dan Bersinergi : Membangun Kejayaan Pengetahuan Indonesia di Pelataran Dunia”. Kegiatan ini  dihadiri oleh 52 ilmuwan diaspora dari 13 negara di dunia, dan mendapat antusiasme dari sekira 800 peserta umum yang terdiri atas akademisi dan mahasiswa Indonesia.

Acara ini diisi oleh para ilmuwan serta para tokoh hebat seperti rektor ITB, Prof. Kadarsah Suryadi, serta Mantan Wakil Presiden periode 2009-2014, Prof. Boediono, Turut hadir pula, pembicara internasional yang juga merupakan fisikawan dari India-Australia, Professor Chennupati Jagadish. Sepanjang kariernya, pria yang akrab disapa Prof. Jagadish ini telah meraih banyak penghargaan, termasuk salah satunya IEEE Pioneer Award in Nanotechnology pada tahun 2015.

Mengangkat tema “Failures Are Pathway to Success”, Prof. Jagadish mengawali kuliah umumnya dengan menceritakan mengenai perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Terlahir di desa kecil di India yang bernama Vallurupalem, Andhra Pradesh, India, Prof. Jagadish menceritakan bahwa banyak sekali kegagalan-kegagalan yang pernah ia alami semasa hidupnya. Meski begitu, kegagalan-kegagalan tersebut justru membuatnya bisa belajar sehingga menjadi sukses seperti sekarang ini.

“Saya sudah mendapatkan lebih dari 300 rejection letter ketika mendaftar kerja semasa saya hidup. Jadi jika Anda belum mencapai angka tersebut, maka janganlah menyerah” kata Professor Jagadish di Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Selain menceritakan mengenai perjuangan hidupnya, alumnus University of Delhi itu juga memaparkan apa saja yang para diaspora dapat lakukan dalam rangka membantu memaksimalkan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Terdapat banyak poin yang ia sampaikan mengenai poin ini, termasuk di antaranya menyarankan agar para diaspora dapat terus-menerus mengunjungi universitas/institusi di Indonesia untuk membagikan ilmunya. Selain itu, Prof. Jagadish juga berharap dapat berkolaborasi dengan para kolega yang berasal dari Indonesia untuk membentuk program pendanaan Bersama.

“Diaspora Indonesia berperan menjadi jembatan atau membuat jembatan antara negara Indonesia dengan negara tempat ia bekerja,” lanjutnya.

Melalui acara SCKD 2019 ini, Professor Chennupati Jagadish berharap bahwa program pemberdayaan ilmuwan diaspora ini dapat berlanjut sehingga terjalin kolaborasi serta transfer ilmu dari para diaspora kepada dunia akademik di Tanah Air.