Pentingnya Academic Leader di Era Industri 4.0

Kamis, 22 Agustus 2019 | 12:31 WIB


 

Masih dalam serangkaian kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019, Direktorat Sumber Daya Iptek dan Dikti menggelar kuliah umum World Academic Leader: Kepemimpinan pendidikan tinggi dalam menunjang pembangunan nasional, Kamis (22/8) di Hotel Sultan, Jakarta.

Mengundang pembicara Ali Ghufron Mukti selaku Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti dan Kadarsyah Suryadi selaku Rektor Institut Teknologi Bandung sekaligus peraih Academic Leader Award 2018.

Dirjen Ghufron menjelaskan, terdapat dua pengertian mengenai academic leader. Pengertian pertama, yaitu leader dalam pengertian menguasai pengetahuan tertentu, sehingga dia mengembangkan ilmu itu memiliki pengikut bahkan pengembangan ilmunya dapat mempengaruhi kebijakan dan berguna untuk masyarakat luas.

Pengertian kedua, academic leader diartikan sebagai seseorang yang menjadi pemimpin di sebuah institusi akademik. Ia juga menjelaskan hal tersebut dalam istilah di Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) merupakan seorang dosen dengan tugas tambahan, namun harus visioner, inspiring dan segalam macamnya.

Senada dengan Dirjen Ghufron, Prof. Kardasyah Suryadi menambahkan bahwa menjadi leader harus memiliki visi.

“To be leader harus buat visi yang jelas yg bisa dipahami oleh yang di bawahnya. Kalau visinya tidak dimengerti si bawahan maka itu leader untuk dirisendiri bukan Universita,”jelasnya.

Kemudian, Ali Ghufron menjelaskan pentingnya diera relovusi industri 4.0 yang semakin kompleks dan penuh perubahan ini diperlukan adanya Academic Leadership. Ia juga memaparkan bahwa pengembangan karakter menjadi begitu penting di era ini.

“Di kemenristekdikti membangun sebuah rencana strategis tidak cukup perguruan tinggi academic leader itu membangun perguruan tinggi sebagai agent of education, agent of riset, agent of culture, agent of economic development, tapi juga agent of culture development atau mengembangakan karakter,” tuturnya.

Ali Ghufron mengatakan bahwa dalam proses mengoptimalkan pendidikan karakter, Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti membangun berbagai macam program, termasuk program mengenai World Class Profesor, dan Sekolah Cendekiawan Kelas Dunia (SKCD).

Lalu, mengenai pembahasan riset dan teknologi yang semakin berkembang. Kardasyah Suryadi mengatakan bahwa di zaman yang sudah modern ini muncullah Demokratisasi Ilmu Pengetahuan yang siapa saja bisa mendapat ilmu pengetahuan tanpa masuk kelas.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa World Class Research tidak melulu tentang peneilitian tingkat dunia, namun dapat diaritikan sebagai penelitian yang bisa menyelesaikan permasalahan lokal tetapi hasil dan metodologinya diakui dunia.

Dalam akhir pemaparannya, Kardasyah Suryadi mengatakan bahwa semakin berkembangnya Ilmu Pengetahuan suatu bangsa dia akan dihormati oleh bangsa lain.