Undang 52 Ilmuwan Diaspora, Wapres Jusuf Kalla Buka Acara SCKD 2019

Senin, 19 Agustus 2019 | 19:05 WIB


JAKARTA – Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) tahun 2019 resmi dibuka. Berbeda dari tahun sebelumnya, pembukaan SCKD kali ini ditandai dengan audiensi Bersama Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (19/8). Penyelenggaraan SCKD 2019 sendiri melibatkan 52 ilmuwan diaspora dari 13 negara di dunia.

Audiensi ilmuwan diaspora Bersama Wapres dihadiri langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) dan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), A.M. Fachir. Membuka acara, salah satu ilmuwan diaspora yang sekaligus Ketua Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4), Prof. Deden Rukmana memberikan apresiasinya kepada Pemerintah Indonesia  terkait kesempatan yang diberikan untuk turut membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan.

“Terimakasih kepada Pemerintah, khususnya Kemenristekdikti melalui Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti yang telah menginisiasi program ini. SCKD bagi kami adalah rumah untuk pulang, sebuah wadah untuk berkumpul serta bersinergi dengan akademisi lainnya dari berbagai bidang ilmu,” tuturnya.

Sementara kepada para ilmuwan diaspora, Wapres Jusuf Kalla (JK) meminta mereka yang telah sukses berkarier di perguruan tinggi luar negeri untuk menularkan budaya pendidikan yang baik ke dalam negeri. Menurut dia, kepulangan ilmuwan diaspora ke Tanah Air bukan hal yang utama. Sebaliknya, ilmuwan diaspora harus banyak belajar dari iklim akademik satu negara ke negara lainnya. Dengan begitu, JK berharap para ilmuwan diaspora dapat membagikan pengalaman tentang kemajuan pendidikan di masing-masing negara mereka berada.

“Bila ada suatu budaya yang baik, para diaspora bisa ikut menularkan. Anda bisa memberikan informasi, kemudian memberikan perubahan dengan kebiasaan atau budaya yang baik,” ujar Wapres JK.

Wapres JK menyampaikan, selama ini Pemerintah telah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Selain melalui alokasi anggaran pendidikan sebanyak 20%, Pemerintah juga menyiapkan berbagai skema beasiswa supaya anak bangsa dapat kuliah di perguruan tinggi terbaik dunia. Salah satunya, yakni melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Terkait peran ilmuwan diaspora, JK pun menilai para ilmuwan diaspora itu dapat menyumbang bagi kemajuan negaranya. Ia mencontohkan ilmuwan diaspora dari Cina dan India yang begitu besar, dan juga hebat. Bahkan, di Filipina keberadaan diaspora menjadi penyumbang 20 persen Produk Domestik Bruto atau (GDP) negara tersebut.

“Begitu hebatnya diaspora mereka, India, disamping banyak ke Amerika, perusahaan Malaysia Indonesia, CEO dari India, google, microsoft pepsicola, citibank, macam macam, ada gubernur di AS. Begitu hebat diaspora mereka,” imbuh JK.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kemenristekdikti hadir mendukung para ilmuwan diaspora untuk berkontribusi di Indonesia melalui berbagai cara, termasuk melalui Simposium Cendekia Diaspora Kelas Dunia (SCKD) yang mendiskusikan banyak gagasan-gagasan bagi bangsa Indonesia.

“Sesuai dengan impian yang disampaikan Bapak Presiden RI Jokowi, yaitu penekanan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia pada tahun 2020 dan seterusnya, dan sesuai dengan semboyan yang disampaikan pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus Tahun 2019, yaitu ‘Sumber Daya Unggul, Indonesia Maju’, hal ini adalah sangat penting tentang ‘bagaimana seluruh warga negara Indonesia yang ada di luar negeri bisa berkontribusi untuk membangun pendidikan maupun ekonomi Indonesia menjadi lebih baik’,” ungkap Menteri Nasir.

Mewakili para ilmuwan diaspora, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Deden Rukmana mengungkapkan ada antusiasme dari ilmuwan Indonesia di berbagai negara untuk berkontribusi nyata kepada Indonesia.

“Para ilmuwan diaspora yang datang di sini berjumlah 52 orang dari 13 negara. Di antara mereka juga ada yang telah  lebih dari 25 tahun di luar Indonesia,” ungkap Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Deden Rukmana.

Ketua I4 juga mengungkapkan bahwa lamanya para diaspora Indonesia bekerja di luar negeri tidak membuat mereka enggan berkontribusi untuk Indonesia.

“Berapa tahun pun ilmuwan diaspora sudah di luar, baik satu dua tahun maupun 25 tahun, tapi kecintaan kami terhadap Republik Indonesia tetap tinggi dan mendalam, jadi ketika Indonesia memanggil, kami datang,” ungkap Ketua I4 Deden Rukmana.

Dalam kesempatan ini turut hadir Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Deden Rukmana, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (SDID) Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Sesirjen Yusrial, Karo Kerja Sama dan Kompublik Nada Marsudi, Plt. Karo Hukum dan Organisasi Ani Nurdiani Azizah, Karo SDM Ari Hendrarto Saleh, Sesdirjen SDID  Anondho Wijanarko, Sesdirjen Kelembagaan Iptekdikti Agus Indarjo,  Direktur Sarana dan Prasarana SDID Mohammad Sofwan Effendi, para ilmuwan diaspora, dan para pejabat  Kemenristekdikti lainnya.