Malam ini, Malam Penyambutan Ilmuan Diaspora Indonesia dalam SCKD 2019

Minggu, 18 Agustus 2019 | 16:06 WIB


 

Jakarta – Sebanyak 52 ilmuwan diaspora yang diundang untuk mengikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019, malam ini akan disambut dan diperkenalkan. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah memastikan sebanyak 52 ilmuwan diaspora akan hadir dalam SCKD di Jakarta pada 18-25 Agustus 2019.

Ilmuwan diaspora yang hadir dalam acara ini merupakan diaspora yang memiliki kompetensi dan skill mumpuni yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih pada negara, terutama dalam akselerasi dan transfer keilmuan, serta kemajuan riset bagi peningkatan daya saing bangsa.

Ketua Pelaksana, Yudi Darma mengatakan, SCKD tahun ini memang tidak berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, di tahun ini ilmuwan diaspora dijadwalkan melakukan kunjungan ke Istana Wakil Presiden Republik Indonesia untuk berdiskusi, membahas ilmu pengetahuan Indonesia perihal manajemen talenta SDM di Indonesia.

Pada penyelenggaraannya Kemenristekdikti bekerjasama dengan mitra strategis seperti Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Akademi Ilmuan Muda Indonesia (ALMI), dan Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I-4). Ini dilakukan agar marwah serta maksud dan tujuan dari penyelenggaraan SCKD dapat tercapai.

Yudi Darma juga menyampaikan bahwa pelaksanaan SCKD tahun ini juga akan dihadiri oleh ilmuwan diaspora terkemuka dunia seperti Professor Chennupati Jagadish, an Indian-Australian physicist and academic, is a Distinguished Professor of Physics at the Australian National University Research School of Physics and Engineering dan Professor Rose Amal is a UNSW Scientia Professor and an ARC Laureate Fellow.

Selain itu, SCKD tahun ini juga akan turut memghadirkan sosok penting di balik Pembangunan Ekonomi Nasional yakni Prof. Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2009-2014.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Cecep Hermawan, mengatakan konsep SCKD sangat sejalan dengan apa yang selama ini diharapkan pemerintah tentang kolaborasi antar-sektor dan pemanfaatan talenta Indonesia di luar negeri untuk kemajuan bangsa.

Dirjen Cecep juga mengapresiasi perihal kerja sama yang saat ini dijalin antara Kemenristekdikti dan Kementerian Luar Negeri pada pelaksanaan SCKD tahun ini. “Ini merupakan embrio yang ditunggu-tunggu. Kolaborasi tanpa sekat antara lembaga pemerintah,” ujarnya.

Dr. Hutomo Suryo Wasisto, ilmuwan diaspora Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Head of LENA-OptoSense, CEO of IG-Nano, di TU Braunschweig, Germany, mengucapkan rasa terima kasihnya yang dalam kepada pemerintah lantaran telah diberikan kesempatan untuk terus bersumbangsih pada negara melalui program ini.

Baginya SCKD bukan hanya sekadar seremonial belaka, tetapi momentum untuk menguatkan jalinan kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dan lembaga pendidikan dan penelitian di luar negeri.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menyambut baik apa yang dikatakan Dirjen Cecep terkait kolaborasi antar-lembaga. Terlebih lagi, menurutnya, kolaborasi dan sinergi antar-lembaga sebelumnya juga disinggung oleh Presiden Joko Widodo pada Sidang Tahunan di MPR, 16 Agustus 2019.

Menurutnya, kebutuhan Indonesia akan SDM unggul sudah tidak bisa ditahan lagi. Bonus demografi yang akan dihadapi saat ini akan sangat menentukan jalannya roda pembangunan Indonesia di masa depan bila saat ini sudah dipersiapkan dengan baik. Ketersediaan SDM yang unggul menjadi kunci untuk memudahkan jalan Indonesia menjadi negara yang maju.

Melihat potensi yang ada, Dirjen Ghufron mengingatkan jangan sampai sumber daya alam yang dimiliki Indonesia jadi sebuah kutukan dan terjebak dalam gap ekonomi negara-negara yang sedang berkembang.

Dirjen Ghufron mengatakan SCKD menjadi agenda yang tepat dalam mengukuhkan kembali jejaring kebangsaan yang dimiliki bangsa serta pengelolaan manajemen talenta demi menyongsong Indonesia berdaya. Tidak hanya bagi SDM dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

“Apa yang dimiliki Indonesia, hendaknya perlu dieksplorasi lebih dalam lagi agar mampu menciptakan sebuah inovasi, untuk itu, Indonesia membutuhkan ahlinya,” tutupnya. (alawi)