Sambut Visi Pemerintahan ke Depan, Kemenristekdikti Perkuat Manajemen Talenta

Senin, 15 Juli 2019 | 19:28 WIB


JAKARTA – Sejak ditetapkan sebagai Presiden Indonesia terpilih, Joko Widodo (Jokowi), menyampaikan pidato pertamanya di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu, (14/7), dalam acara Visi Indonesia. Dalam pidatonya tersebut, Presiden Jokowi menyampaikan lima sasaran prioritas yang akan dikerjakan pemerintahannya selama 5 tahun mendatang, salah satunya adalah pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, pembangunan SDM menjadi kunci bagi suksesnya pembangunan Indonesia ke depan.

Dalam upaya mewujudkan pembangunan tersebut, tahun ini pemerintah memiliki pendekatan berbeda, yakni menerapkan manajemen talenta dalam setiap prosesnya. Manajemen talenta ini, secara khusus digunakan oleh pemerintah untuk mengelola SDM Indonesia, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang berpotensi membawa Indonesia bersaing di tingkat global. Salah satu sasaran dari konsep ini adalah melibatkan ilmuwan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia agar dapat berkontribusi lebih besar terhadap percepatan pembangunan, sehingga menjadikan Indonesia lebih adaptif, produktif, inovatif, serta kompetitif.

Sebagai salah satu sosok penting dalam pembangunan SDM di pendidikan tinggi, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Prof. Ali Ghufron Mukti, mengaku senang ketika mendengar pembangunan SDM Indonesia menjadi satu dari lima sasaran prioritas pemerintah Indonesia ke depan. Senada dengan Presiden Jokowi, Dirjen Ghufron juga mengatakan bahwa SDM sejatinya merupakan kunci sebuah pembangunan. Tanpa SDM yang baik, pembangunan dapat dipastikan akan sulit berjalan dengan baik.

Dimintai pendapat terkait manajemen talenta yang diterapkan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan, Dirjen Ghufron mengungkapkan bahwa Kemenristekdikti sebetulnya sudah menyambut, bahkan sudah mengerjakan, dan berencana akan terus mengembangkan dan memperkuat hal tersebut secara tajam dan terarah.

“Kita juga sudah membuat pemetaan SDM di Kemenristekdikti ke depan, kira-kira sampai tahun 2024 bahkan 2030, sehingga prioritas pembangunan SDM itu, kita betul-betul sudah bisa menyambutnya,” tuturnya.

Saat ini, Kemenristekdikti juga tengah menyiapkan manajemen talenta yang secara khusus berfokus pada pengelolaan SDM Indonesia. Bahkan, menurutnya, terkait pemanfaatan diaspora, Kemenristekdikti, sudah lebih dulu melihat diaspora sebagai salah satu potensi yang bisa dimanfaatkan pemerintah sebagai jalan lain membangun bangsa.

“Selain menyiapkan manajemen talenta, kita juga membuka ruang bagi ilmuwan diaspora yang dari berbagai bidang keilmuan yang memiliki pengalaman dan cocok untuk kebutuhan kita, agar bisa memberikan kontribusi lebih banyak bagi percepatan pembangunan di Indonesia. Melalui pemanfaatan diaspora, artinya, ini kita tengah membangun Indonesia dari dunia,” ujarnya.

Menurut Dirjen Ghufron, Kemenristekdikti juga saat ini telah mengondisikan peta kekuatan diaspora sedemikian rupa. Ini dimaksudkan agar semakin memudahkan jalan bagi pemerintah untuk bersinergi dengan diaspora lebih dalam.

Sejak Kemenristekdikti menggagas program pemanfaatan diaspora melalui skema Visiting World Class Professor (2016) dan Simposium Cendekia Kelas Dunia (2017 dan 2018), kolaborasi antara ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri, setidaknya telah menghasilkan 25 Under Review Journal, 30 Submitted Journal, 18 Manuscript Journal, 35 Accepted Journal, 28 Proceeding, 90 Published Journal, dan 18 Conference, hingga Short course di Universitas terbaik di dunia. Tentunya, ini merupakan sebuah capaian dan langkah yang baik untuk membawa dunia akademik Indonesia semakin menyala di peta keilmuan dunia.

Tahun ini, Kemenristekdikti bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia akan kembali menggelar Simposium Cendekia Kelas Dunia, pada 18-25 Agustus 2019, di Jakarta. Sebanyak 57 ilmuwan diaspora dari berbagai negara dengan bidang keilmuan yang berbeda akan turut serta dalam acara ini.

“Pemanfaatan diaspora sendiri sangat penting untuk membantu meningkatkan mutu dan produktivitas SDM Iptek dan Dikti melalui kolaborasi dan jejaring internasional,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan SCKD di tahun ini, Dirjen Ghufron berharap pemerintah dan stakeholder terkait dapat mengambil kesempatan untuk menyinergikan diaspora dengan program-program unggulan yang dimilikinya sebagai salah satu bagian dari manajemen talenta itu sendiri. Keberadaan diaspora juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu mempercepat transfer ilmu dan teknologi serta research and development (R&D), membantu mengintegrasikan Indonesia dengan komunitas riset global dan industri maju, serta menjadikan perguruan tinggi Indonesia menjadi perguruan tinggi berkelas dunia. (iqbal)