Konsep Pembangunan SDM Indonesia Jadi Bahasan di ISIC 2019

Kamis, 4 Juli 2019 | 10:52 WIB


Nottingham, Inggris – Pengembangan sumber daya manusia (SDM) kini tengah menjadi prioritas pembangunan Pemerintah Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, baik di tingkat dasar menengah maupun pendidikan tinggi dioptimalkan untuk mendorong daya saing bangsa.

Baru-baru ini, di hadapan peserta Indonesian  Scholars International Convention (ISIC) 2019 yang diselenggarakan di University of Nottingham, Inggris, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti memaparkan konsep pengembangan SDM Iptek dan Dikti  Tanah Air yang saat ini masih menghadapi berbagai kendala dan tantangan. Secara garis besar tantangan tersebut terdiri atas akses, kualitas, pemerataan, serta relevansi.

Dirjen Ghufron menjelaskan, akses pendidikan yang berkualitas di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Sedangkan menurut populasi penduduk, baru sekira 8,5% atau 15,5 juta orang dari total jumlah penduduk Indonesia yang mampu lulus dari perguruan tinggi. Sebanyak 26,3% berpendidikan SMA, dan sisanya yaitu 65% hanya mengenyam pendidikan sampai di tingkat SMP (22,8%) dan SD (42,4%). Di sisi lain, dalam beberapa dekade ke depan Indonesia memiliki potensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

“Oleh sebab itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi penentu dalam perubahan bagi kemajuan bangsa. Pertama, untuk menuju keluar dari negara dengan pendapatan menengah, Indonesia harus mendorong ekonomi yang berbasis pada inovasi. Kedua, untuk mendongkrak daya saing, kita perlu menaikkan inovasi. Perguruan tinggi sendiri memiliki tugas menjadi agen pembangunan ekonomi melalui hasil riset dan inovasi, termasuk meningkatkan peringkat universitasnya melalui publikasi internasional,” tutur Dirjen Ghufron di University of Nottingham, Inggris.

Terkait kualitas pendidikan tinggi, Dirjen Ghufron mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi. Namun, secara institusi baru 12,48% yang setidaknya terakreditasi B. Kampus terbaik dalam negeri, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, hingga Universitas Gadjah Mada sendiri masih berusaha keras untuk masuk dalam peringkat 200 besar dunia. Menurut Dirjen Ghufron, kendala ini dipengaruhi oleh tata kelola kampus yang belum secara efektif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya.

Strategi pembangunan sumber daya iptek dan dikti sendiri perlu memperhatikan relevansi di dunia kerja atau industri. Dirjen Ghufron menambahkan, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang justru menjadi pengangguran. Selain masalah kemampuan dan soft skill, pendirian program studi di perguruan tinggi belum berdasarkan pada prioritas kebutuhan pembangunan.

“Untuk mencetak lulusan siap pakai di industri, Kemenristekdikti tengah memperkuat bidang vokasi. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi dosen vokasi menjadi fokus kami. Para dosen ditingkatkan kualifikasinya melalui berbagai skema beasiswa jenjang Doktor. Selain itu, kami juga memiliki program pelatihan, baik di dalam maupun luar negeri untuk para dosen, serta mendukung sarana prasarana pendidikan di politeknik,” ujar Guru Besar dari UGM itu.

Program lain yang kini diperkuat oleh Kemenristekdikti adalah kolaborasi dan jejaring internasional. Melalui para ilmuwan diaspora, para akademisi dalam negeri berkesempatan untuk lebih mudah melakukan joint research, bahkan membuka peluang kerja sama dengan institusi berkelas dunia. Dirjen Ghufron mengatakan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, para ilmuwan diaspora bersama akademisi Tanah Air berhasil menerbitkan 72 publikasi.

“Para ilmuwan diaspora ini mampu menjadi katalis dalam pembangunan SDM dalam negeri. Kami yakin, mereka walaupun tinggal dan berkarier di luar negeri masih memiliki jiwa nasionalisme, dan ingin berkontribusi bagi negaranya,” terannya.

Strategi lainnya, imbuh Dirjen Ghufron, yakni meningkatkan jumlah Doktor usia muda. Terobosan yang dilakukan adalah membuka beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) bagi para lulusan S-1 yang memiliki IPK tinggi. Beasiswa ini merupakan percepatan studi Magister sekaligus Doktor dalam kurun waktu empat tahun.

“Lulusan PMDSU akan menjadi Doktor muda, karena mereka yang mendaftar beasiswa ini dibatasi usianya, tidak boleh lebih dari 24 tahun. Saat ini, lulusan PMDSU bahkan sudah ada yang menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi,” tandas Dirjen Ghufron.

Selain Dirjen Ghufron, turut hadir menjadi pembicara pada acara tersebut adalah Rektor IPB, Arif Satria. Ia menyampaikan strategi IPB dalam kerjasama hilirisasi riset di era persaingan yang kini akan masuk pada revolusi industri 5.0. Dalam paparannya, Arif menjelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan kecakapan baru. Setiap negara mengidentifikasi kebutuhan kecakapan yang berbeda-beda. (ira)