Kemampuan Membaca dan Penguasaan Bahasa Inggris Jadi Kendala Utama Akademisi di Indonesia

Selasa, 28 Mei 2019 | 22:14 WIB


Surabaya – Puluhan dosen dan mahasiswa pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur mengikuti Sosialisasi Program Beasiswa Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah (PKPI)/ Sandwich-Like Program Tahun 2019 di Gedung Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya, Selasa, 28 Mei 2019. Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM), Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (Ditjen SDID), Kemenristekdikti ini bertujuan meningkatkan mutu, kuantitas, dan kualitas publikasi dosen dan mahasiswa pascasarjana di Indonesia. Acara yang dihadiri oleh Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. beserta jajarannya dan Plt. Direktur Kualifikasi SDM, Ditjen SDID, Kemenristekdikti, Juniarti Lestari beserta stafnya, ini dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.

Dalam kesempatannya membuka acara, Dirjen Ghufron menyampaikan bahwa menulis karya ilmiah untuk dipublikasikan merupakan kewajiban seorang akademisi yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, sebagai seorang akademisi ada baiknya kita melihat kembali lebih dalam tentang dasar keilmuannya.

“Sebagai seorang akademisi kita seharusnya tahu sudah sejauh mana perkembangan penelitian di bidang kita,” tegasnya.

Dirjen Ghufron juga mengungkapkan bahwa persoalan dasar yang sering kali dialami akademisi Indonesia dan cukup menghambat produktivitas penelitian adalah kurang pekanya mereka dalam melihat fenomena atau masalah. Padahal seorang akademisi sejatinya adalah orang yang bermasalah. Tanpa masalah, sebuah karya atau penelitian tidak akan pernah dilahirkan.

Terkait bagaimana cara menggali atau menemukan masalah untuk dijadikan penelitian, Dirjen Ghufron berbagi tip kepada peserta sosialisasi. Salah satu inti dari tip yang dibagikannya adalah “mengubah cara membaca”. Menurutnya, membaca adalah inti dari pemaknaan dan penemuan terhadap suatu masalah. Namun, sayangnya cara membaca kita masih bermasalah. Kita belum bisa membaca dengan serius. Ada strategi khusus agar bacaan yang kita baca tidak mudah begitu saja hilang atau terlupakan. Sederhananya, kita harus mengenali diri kita dan tahu jenis bacaan apa yang sedang dibutuhkan. Ini cukup membantu agar bahan bacaan yang kita baca, tidak kita lupakan begitu saja.

“Karena ada banyak yang harus kita baca, kita juga harus memiliki critical appraise. Jangan sampai  apa yang kita baca tidak banyak memiliki peran dalam menunjang keilmuan kita,” tegasnya.

Selain membaca, masalah mengapa akademisi Indonesia sulit mempublikasikan karya di jurnal internasional bereputasi adalah karena kemampuan Bahasa Inggrisnya. Dr. Ir. Edwan Kardena, Ph.D., dosen Institut Teknologi Bandung, salah satu narasumber utama sosialisasi, mengatakan selain membaca penguasaan Bahasa inggris jadi kendala utama yang kerap dihadapi dosen atau mahasiswa pascasarjana dalam menulis publikasi.

Bahasa Inggris masih jadi momok menyeramkan padahal dosen atau mahasiswa pascasarjana dituntut produktif menulis dan menghasilkan publikasi.

Dr. Edward dalam kesempatannya juga bercerita, meski sehari-hari kita sering mendengar percakapan Bahasa Inggris, bahkan  membaca teks berbahasa Inggris, penguasaan Bahasa Inggris tidak pernah serta merta datang begitu saja. Dibutuhkan usaha yang keras untuk bisa menguasainya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mengikuti kursus di berbagai lembaga yang tersedia.

“Bagi seorang dosen atau mahasiswa pascasarjana, kemampuan Bahasa Inggris mau tidak mau harus segera dioptimalkan. Karena itu menjadi syarat untuk meraih supervisor penelitian, terutama di beasiswa PKPI,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Bahasa Inggris bukan hanya sekadar mengetahui arti dan makna sebuah kata atau kalimat, tetapi bagaimana cara menggunakannya untuk berkomunikasi dan membuat sebuah kalimat. Bahasa inggris juga penting untuk meningkatkan network yang selama ini belum bisa dijalin dengan baik oleh dosen dan mahasiswa pascasarjana di Indonesia lantaran keterbatasan mereka dalam penguasaan Bahasa Inggris.

“Padahal kita memiliki banyak topik riset yang menarik untuk digarap lebih lanjut. Jika kita tidak mampu menguasai Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional untuk menuliskan itu semua, apa artinya?” []