Konsep Green Campus Jadi Topik Utama Workshop Perencanaan dan Desain Kampus Perguruan Tinggi Indonesia

Senin, 8 April 2019 | 19:16 WIB


Jakarta – Direktorat Sarana dan Prasarana, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti menyelenggarakan Workshop Perencanaan dan Desain Kampus Hemat Energi dan Kondusif untuk Perguruan Tinggi Negeri Indonesia pada Senin, 8 April 2019, di Vertu Harmoni Jakarta. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 63 Perguruan Tinggi ini bertujuan memberi bekal pengetahuan yang baik perihal konsep perencanaan pembangunan perguruan tinggi dengan memperhatikan aspek lingkungan, keagamaan, teknologi, dan kemanusiaan. Hal ini sebagai salah satu bentuk dukungan Perguruan Tinggi dalam pembangunan human capital di masa depan.

Deputy Country Director Indonesia at Asian Development Bank (ADB), Said Zaidansyah, dalam sambutannya mengatakan selama ini ADB berkomitmen untuk terus memberi dukungan pemerintah dalam pembangunan human capital di Indonesia. Bahkan saat ini, ADB memiliki rencana menjadikan pembangunan human capital sebagai prioritas pemerintah dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024. Salah satu hal yang saat ini jadi konsentrasi ADB adalah pembangunan sarpras atau infrastruktur kampus yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebab, menurutnya, elemen terciptanya situasi yang kondusif saat proses belajar-mengajar di kampus adalah sarana dan prasarana yang baik. Itu merupakan faktor penting yang bisa menjadikan pendidikan Indonesia semakin berkualitas.

“Saya berharap, melalui acara ini, akan terjalin komunikasi atau kerja sama antara perguruan tinggi dengan para eksper dan komponen lainnya untuk sama-sama merumuskan pembangunan green campus yang inklusif dan sustainable,” ujarnya.

Direktur Sarpras, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Sofwan Efendi, sepakat bahwa ke depan, pembangunan kampus tidak hanya memperhatikan fisik belaka, tetapi ada unsur lainnya yang harus diperhatikan seperti sinkronisasi dengan alam dan aksesibilitas yang memungkinkan menciptakan pola komunikasi antara kampus, alam, dan penggunanya. Green building sendiri tidak hanya soal fisik, tetapi juga psikologi. Bila konsepnya diterjemahkan, ialah lingkungan kampus harus sehat, asri, dan ramah, yang mampu melayani seluruh komponen civitas akademik di kampus, terutama di era digitalisasi seperti sekarang.

“Jangan sampai gedungnya digital, tetapi penghuninya belum green. Digitalisasi sendiri jika tidak diharmonisasikan dengan lingkungan, ini akan statis. Karena di kampus terdapat dosen, tendik, mahasiswa, dan komponen SDM lainnya. Para pengguna ini harus jadi prioritas yang pertama merasakan manfaat dari pembangunan,” tambahnya.

Direktur Sofwan juga mengatakan pada tahun 2019, dari 122 PTN terdapat 101 PTN mangkrak. Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, Direktorat Sarpras tengah menyiapkan skema pendanaan melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak, (PNBP). Seluruh perwakilan perguruan tinggi yang hadir dalam acara ini oleh Direktur Sofwan diajak bekerja sama untuk sama-sama menyelesaikan bangunan mangkrak dengan memanfaatkan dana dari PNBP.

“Saya minta bantuan agar sama-sama segera menyelesaikan bangunan yang mangkrak. Karena semakin lama bangunan mangkrak itu dibiarkan, maka biaya untuk menyelesaikannya akan semakin mahal,” tegasnya.

Ir. Diana Kusumastuti, M.T., Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, yang hadir sebagai panelis dalam acara tersebut mengatakan Kampus baru yang dibangun diharapkan setidaknya memenuhi standar, berkelanjutan, dan berwawasan global. Saat ini, pembangunan secara nasional, khususnya kampus mesti merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs), yang mana salah satu tujuan di sana adalah berkaitan dengan lingkungan seperti air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, serta penanganan perubahan iklim.

Menurutnya, permasalahan global yang terjadi di dunia salah satunya disebabkan oleh meningkatnya populasi global yang tinggal di perkotaan. Hal ini mendorong masivitas pembangunan gedung-gedung di kota.

“Gedung sendiri merupakan salah satu penyumbang terbesar karbon dioksida di dunia. Karena itu, saat ini, kita tengah memfokuskan kebijakan pada pembangunan gedung hijau. Permennya sudah ada. Nanti, kampus harus mengikuti regulasi pembangunan yang telah ditetapkan oleh PUPR,” ujarnya.

Isu pembangunan kampus yang ramah lingkungan juga menjadi pokok utama bahasan Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. Ali Ghufron Mukti sesuai dengan visi Sarpras 2019 “pembangunan sarpras yang baik dan konvensional yang sesuai dengan era rebolusi industri 4.0”. Pada kesempatannya mengisi sesi akhir acara, Dirjen Ghufron mengatakan prioritas dan strategi pendanaan Kemenristekdikti terbagi dalam 4 prioritas, yakni 1) PTN Satker Baru di wilayah 3T; 2) PTN Baru di wilayah non 3T; 3; PTN BLU, dan; 4) PTN BH.

Dirjen Ghufron berpesan dalam proses pembangunannya, infrastruktur kampus harus mampu mendorong penyediaan ruang hijau yang nyaman, efektif dalam pemanfaatan energi yang ada dan efisien dalam pemanfaatan sumber daya yang ada.

“Infrastruktur kampus yang baik harus mampu menerapkan konsep 3R: reduce, reuse, dan recycle. Bagaimana sumber daya yang digunakan di kampus, bisa dikelola, sehingga bisa digunakan kembali. Praktik seperti itu harus mampu dilakukan oleh kampus,” ungkapnya.

Pembangunan green campus sendiri ke depan diharapkan tidak hanya berhenti pada konsep belaka, tetapi bisa terus diedukasi sehingga bisa menyentuh seluruh lapisan civitas akademik di kampus. Selain itu, Dirjen Ghufron mengatakan pembangunan gedung di kampus juga jangan hanya mengejar orientasi semata, tetapi fungsi. Karena hal paling penting dari sebuah pembangunan bukan tentang gedung tersebut mampu berdiri atau tidak, tetapi bagaimana SDM di kampus tersebut dapat mengakses gedung itu dengan mudah. (Iqb)