Kemenristekdikti Gelar Diskusi Buku Kontribusi Ilmuwan Diaspora Indonesia

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:47 WIB


JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, menyelenggarakan acara diskusi buku “Kontribusi Ilmuwan Diaspora dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia”, pada Selasa, 26 Maret 2019, di Century Park Hotel Jakarta. Acara yang bertujuan mendiseminasikan peran dan fungsi ilmuwan diaspora terhadap pembangunan bangsa ini turut menghadirkan narasumber yang telah banyak mengecap asam garam dunia keilmuan dan pendidikan tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, yakni Elisabeth A.S. Dewi, Ph.D. dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Alan F. Koropitan, Ph.D. dari Institut Pertanian Bogor, dan Prof. Deden Rukmana dari Alabama A&M University, Amerika Serikat.

Para penulis yang bukunya diulas ini sendiri merupakan ilmuwan diaspora Indonesia yang sebelumnya terdaftar sebagai peserta Visiting World Class Professor (WCP) Tahun 2016 dan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) Tahun 2017. Sebuah program yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), sebagai wadah pertemuan antara ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri untuk berkolaborasi, menghasilkan inovasi bermutu yang tidak hanya berguna bagi bangsa sendiri, tetapi juga bagi bangsa di dunia.

Sekretaris Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. John Hendri, dalam sambutannya mengatakan sejak hubungan pemerintah dengan diaspora terbentuk melalui program WCP dan SCKD, ada banyak peran dan impak yang telah didapatkan pemerintah dari kerja para ilmuwan diaspora selama ini. Salah satunya ialah peningkatan publikasi ilmiah Indonesia di jurnal internasional yang cukup signifikan.

“Keberadaan diaspora juga sangat membantu, terutama bagi masyarakat yang ingin menuntut ilmu di luar negeri.” ujarnya.

Narasumber diskusi yang merupakan penulis dan editor buku, Prof. Deden, mengatakan buku ini sangat penting untuk dipublikasikan dan diketahui banyak orang, sebab isi yang terdapat dalam buku ini berkaitan dengan masa depan bangsa.

“Memang, dari segi kuantitas dan kualitas, diaspora kita masih di bawah China, India, dan Korea, tapi kami (diaspora), terus mengupayakan yang terbaik untuk bangsa. Salah satu upaya yang kami lakukan di antaranya adalah yang terdapat dalam buku ini,” ungkapnya.

Buku “Kontribusi Ilmuwan Diaspora dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia” ini sendiri dibagi dalam 5 bagian, yakni bagian pertama “Sekilas tentang Ilmuwan Diaspora dan Penguatan Pendidikan Tinggi di Indonesia”, yang ditulis oleh Deden Rukmana dan Zulfan Tadjoeddin. Bagian ini membahas tentang kegiatan WCP 2016 dan SCKD 2017 dan peran ilmuwan diaspora dengan dunia riset dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Bagian kedua “Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kesehatan di Indonesia”, yang ditulis oleh Tjandra Yoga Aditama, Taifo Mahmud, Boya Nugraha, Mulyoto Pangestu, Azhar Zam dan Bibin Bintang Andriana. Bagian ini membahas tentang pengembangan sumber daya IPTEK di Indonesia, terutama dalam bidang kesehatan.

Bagian ketiga “Potensi dan Strategi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi di Indonesia”, yang ditulis oleh Anto Mohsin, Bagus Muljadi, Iswandaru Widyatmoko, Lydia Wong dan Satria Zulkarnaen Bisri, Halim Kusumaatmaja, dan Vincentius Adi. Bagian ini membahas tentang peningkatan budaya ilmiah di Indonesia dengan mengembangkan kemampuan dan keahlian mengeksplorasi dunia sains dan teknologi di masyarakat di era revolusi industri 4.0.

Bagian empat “Pengembangan Kolaborasi antara Pendidikan Tinggi, Industri dan Pemerintah di Indonesia”, yang ditulis oleh Dani Harmanto, Muhamad Reza, Muhammad Aziz dan Taufiq Asyhari. Bagian ini membahas tentang potensi dan strategi pengembangan triple helix melalui kerja sama antara pendidikan tinggi, industri dan pemerintah di Indonesia serta urgensi pembangunan link-and-match untuk pengembangan IPTEK dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Bagian kelima “Kontribusi Ilmuwan Diaspora Indonesia”, yang ditulis oleh Ari Angriawan, Kiki Adi Kurnia, Dwi Susanto, Oki Muraza, Ratna Balgis, Sud Sudirman dan Victor Ginting. Bagian ini membahas tentang pengalaman para diaspora dalam WCP 2016 dan SCKD 2017 serta penelitian lanjutan mereka berdasarkan kerja sama dengan mitra ilmuwan di Indonesia.

Co-editor buku yang juga narasumber diskusi, Dr. Alan, mengatakan bahwa apa yang ditulis para diaspora dalam buku ini benar-benar membuatnya tertegun. Kabar mengenai besarnya potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia memang sering ia dengar. Namun, pengetahuan mendalam tentang potensi tersebut baru ia dapatkan setelah membaca buku ini.

“Saya jadi optimis akan Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Buku ini sendiri, menurut Dr. Alan telah mematahkan ungkapan brain drain yang selama ini sering disematkan kepada diaspora. Para diaspora Indonesia, khususnya yang ada di buku ini lebih tepat disebut sebagai brain circulation: fisik di luar, tetapi pikiran dan hati ada di dalam.

Dr. Elisabeth, narasumber yang juga mantan diaspora Amerika dan Australia, mengatakan bahwa di mana pun diaspora berada dan sehebat apa pun karier mereka di luar negeri, kerinduan akan kampung halaman selalu tumbuh. Bahkan kemajuan teknologi yang saat ini memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan sanak-saudara di tanah asalnya pun, itu tidak cukup membantu.

“Kompleksitas memang akan selalu jadi bagian dari kehidupan diaspora di tempat tinggal mereka,” tambahnya.

Apresiasi juga diberikan Dr. Elisabeth kepada diaspora (penulis buku) yang di tengah kompleksitasnya menjalani kehidupan di luar negeri, tetapi masih menyediakan diri untuk terus berkontribusi bagi bangsa. Ia pun menyarankan agar ke depan, hubungan antara ilmuwan diaspora dengan industri dalam negeri harus segera dibangun. Sehingga konsep dan ide pembangunan yang tertuang dalam buku ini bisa direalisasikan dengan segera.