HAKTEKNAS dan Momentum Kebangkitan Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0

Kamis, 21 Februari 2019 | 17:13 WIB


Denpasar (21/2) – Memasuki era revolusi industri 4.0 atau era yang sering disebut sebagai ‘era disrupsi’, inovasi berbasis digitalisasi merupakan urgensi yang tidak bisa diabaikan. Masyarakat yang hidup di era ini dituntut serba taktis dan inovatif: mampu mengakomodasi semua kebutuhan yang bisa mendukung kualifikasi dan kompetensi diri, serta membangun kemandirian dan daya saing wilayah.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai lembaga tertinggi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pembangunan sumber daya manusia masa depan yang optimis dan siap menghadapi tantangan, terus melakukan berbagai percepatan dan kebijakan yang bisa mendukung beragam kebutuhan tersebut.

Karena itu, agenda tahunan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, merupakan salah satu momentum yang tepat, yang bisa digunakan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan perkembangan teknologi yang terus berubah.

Tahun ini Bali sebagai provinsi dengan potensi pariwisata terbesar di Indonesia, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Launching HAKTEKNAS ke-24 Tahun 2019. Sebelumnya acara ini pernah diselenggarakan di beberapa wilayah seperti Tangerang, Makassar, dan Riau. Tema yang diusung pada HAKTEKNAS tahun ini adalah Iptek dan Inovasi Dalam Industri Kreatif 4.0 dengan subtema Industri Kreatif 4.0 untuk Kemandirian dan Daya Saing Daerah.

Tema tentang industri 4.0 diambil sebagai salah satu upaya edukasi bagi masyarakat agar pemahaman terkait prinsip dan pola kerja era ini semakin baik. Sebab jika perkembangan teknologi di era ini tidak dipahami dan dimanfaatkan dengan baik, akan jadi boomerang yang malah dapat mendisrupsi penggunanya.

Di era disrupsi ini sendiri manusia merupakan objek pertama yang rawan terdisrupsi Salah satu contohnya adalah perkembangan AI. Teknologi ini awalnya akan diramalkan akan mendisrupsi para pekerja sebelum memberi dampak pada dunia kerja. Para pekerja dipaksa mengubah pola dan gaya kerjanya, bahkan hingga bagaimana para pekerja berpikir. Pekerja yang tidak mampu beradaptasi dengan AI, maka akan tergerus dan tergusur dengan segera.

Sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM yang ada agar tidak terdisrupsi oleh perubahan, tahun ini pemerintah pusat menaikkan anggaran riset sekitar Rp 2,5 triliun dari angka sebelumnya Rp 1,75 triliun.

Menristekdikti, Prof. Nasir mengatakan bahwa riset utamanya harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena selama ini dalam praktiknya, riset kerap hanya dibiarkan begitu saja tanpa diarahkan dengan baik.

“Ke depan riset harus menjadi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan industri atau masyarakat, ” ujar Menteri Nasir.

Salah satu alasan dari naiknya alokasi anggaran riset dari pemerintah pusat pun adalah untuk meningkatkan publikasi di perguruan tinggi dari yang tahun ini berada di angka 31 ribu publikasi menjadi 35 – 40 ribu publikasi. Dari total alokasi yang dikucurkan tersebut, ke depan diharapkan bisa memberikan impak luar biasa pada masyarakat Indonesia.

Karena menurut Menteri Nasir, masalah utama di Indonesia adalah kurang kuatnya koordinasi antara peneliti di perguruan tinggi, maupun peneliti di Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan industri.

Seluruh kegiatan HAKTEKNAS tahun 2019 sendiri, nantinya akan dipusatkan di Provinsi Bali, dengan harapan dapat memberikan impak seperti meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya Iptek dan Inovasi, tumbuh kembangnya industri kreatif yang berdaya saing di era revolusi industri 4.0, dan meningkatnya peran iptek dan inovasi untuk kemandirian dan daya saing daerah.

Acara yang dilaksanakan di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Kota Denpasar, tidak hanya dihadiri langsung oleh Menristekdikti dan Direktur Jenderal, Eselon I dan II Kemenristekdikti, Gubernur Bali, dan Kepala LL Dikti Wilayah VIII, melainkan dihadiri langsung oleh Pejabat Pemerintahan Provinsi Bali, Pejabat Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Bali, serta sekitar 50.000 mahasiswa perguruan tinggi di Bali.

Adapun Launching HAKTEKNAS 2019 ini ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Menteri Nasir dan Gubernur Bali I Wayan Koster. Dilanjutkan dengan penabuhan gendang baleganjur, pelepasan balon udara bertuliskan Hakteknas ke-24, pemutaran perjalanan Hakteknas, kemudian diteruskan dengan senam bersama Poco-Poco dan Maumere yang diikuti oleh para peserta yang menghadiri acara. (iqbal)