Kemenristekdikti Sasar Millennial pada Pengembangan SDM Tahun 2019

Senin, 28 Januari 2019 | 15:17 WIB


JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan Bedah Kinerja 2018 dan Fokus Kinerja Kemenristekdikti 2019 dengan tema Penyiapan SDM Millennial Indonesia Kreatif, Inovatif, dan Berdaya Saing Tinggi, Senin (28/1).

Pada kesempatan tersebut, Menristekdikti Mohamad Nasir bersama seluruh jajaran Eselon I di lingkungan Kemenristekdikti beserta Kepala LPNK membedah capaian-capaian selama tahun 2018, meliputi realisasi anggaran, serta output program di masing-masing unit utama. Tahun 2018, Kemenristekdikti sendiri mendapat alokasi anggaran senilai Rp41,28 triliun, yang mana pada akhir tahun telah mencapai realisasi sebesar 91,26%.

“Realisasi anggaran tahun 2018 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2017 yang waktu itu 89,19%. Realisasi ini di atas rata-rata realisasi anggaran nasional yang sebesar 90,95%. Capaian ini dapat tercapai berkat kerja keras seluruh para Dirjen dan seluruh pihak,” ujar Menteri Nasir.

Lebih lanjut, Menteri Nasir memaparkan berbagai capaian pada program-program unggulan yang telah dijalankan sepanjang tahun 2018. Tercatat, APK pendidikan tinggi Indonesia terus meningkat, dimulai dari tahun 2015 baru 29,92%, tahun 2016 meningkat 31,61%, tahun 2017 naik menjadi 33,37%, hingga pada tahun 2018 sudah mencapai 34,58%. Begitu juga dengan daya saing Indonesia, yakni Global Competitiveness Index World Economic Forum yang pada tahun 2018 berada pada peringkat ke-45 dari 140 negara dengan skor 65.

Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut Menteri Nasir juga mengapresiasi pesatnya jumlah publikasi internasional Indonesia yang sejak tahun 2015 mulai didorong peningkatannya oleh Kemenristekdikti. Berdasarkan data Scopus terakhir, publikasi internasional Indonesia sudah mencapai 30.924 publikasi, di mana hanya terpaut tipis dengan Malaysia yang memiliki 31.968 publikasi. Menteri Nasir menyebut, tahun 2019 awal ini Indonesia berpeluang besar menyalip Malaysia, dan menjadi urutan teratas di Asia Tenggara.

“Saya meyakini kita memiliki potensi besar untuk leading terkait publikasi internasional. Jumlah dosen saat ini lebih dari 267 ribu, di mana jumlah guru besarnya 5.500 lebih. Kami sudah mendorong mereka, termasuk para lektor kepala dan lektor untuk menulis melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Tak hanya itu, program PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) yang dimiliki oleh Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti juga mampu menaikkan jumlah publikasi. Bayangkan, sudah ada empat mahasiswa PMDSU yang dapat menerbitkan lebih dari delapan publikasi internasional,” tutur Menteri Nasir.

Mahasiswa PMDSU sendiri berkewajiban untuk menerbitkan minimal dua publikasi internasional untuk dapat lulus pada program percepatan studi bagi doktor muda tersebut. Menengok kemampuan mahasiswa PMDSU itu, maka strategi ke depan yang akan dilakukan oleh Kemenristekdikti adalah mendorong perguruan tinggi yang memiliki program pascasarjana supaya para mahasiswa S-2 dan S-3 juga menulis publikasi.

Fokus Kemenristekdikti pada kinerja tahun 2019 lainnya, khususnya bagi pengembangan SDM millennial adalah pada penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dengan pembelajaran daring tersebut, Menteri Nasir mengatakan, ke depan akan terjadi satu profesor untuk 1.000 mahasiswa. Oleh sebab itu, perlu ada strategi khusus untuk memberdayakan dosen yang selama ini hanya mengajar secara tatap muka.

“Kami sedang membicarakan lebih lanjut untuk memberdayakan dosen. Kami mencoba berdiskusi dengan Singapura yang juga sedang berupaya memberdayakan para dosennya karena adanya pembelajaran online. Langkah pertama akan kami petakan dulu para dosen yang nantinya tidak masuk dalam pembelajaran online,” imbuh Menteri Nasir.

Bersamaan dengan acara ini, juga dilaksanakan Penyerahan Anugerah Jurnalis dan Media Kemenristekdikti 2018. Anugerah ini diberikan sebagai apresiasi Kemenristekdikti terhadap jurnalis dan media massa yang berkomitmen memberikan informasi terkini dan faktual mengenai isu-isu ristekdikti. Selain itu, diluncurkan pula Call Center ‘126’, yaitu transformasi dari ‘1500661’ yang bertujuan memudahkan akses pemberian layanan kepada masyarakat pendidikan tinggi di Indonesia. (ira)