Perkuat SDM Kemaritiman, Dirjen Ghufron: Lihat Relevansinya

Rabu, 16 Januari 2019 | 9:22 WIB


JAKARTA – Kemaritiman menjadi sektor yang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Hal ini bukan tanpa alasan karena dengan dua per tiga luas lautan daripada daratan, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang besar dan melimpah. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk memperkuat sektor ini, termasuk melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) kemaritiman yang dilakukan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti memaparkan, pendidikan tinggi memiliki andil besar dalam melahirkan SDM bidang kemaritiman masa depan. Namun, saat ini antara ketersediaan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri masih belum relevan. Bahkan, tidak sedikit institusi pendidikan tinggi mendirikan program studi yang lulusannya sudah melimpah, tetapi tidak terserap di dunia kerja.

“Oleh sebab itu, kami di Direktorat Sumber Daya Iptek Dikti menghitung antara supply dan demand SDM di berbagai sektor utama pembangunan, termasuk di sektor kemaritiman. Selama ini yang terjadi di perguruan tinggi, mendirikan program studi tidak melihat kebutuhan, sehingga lulusan pada akhirnya tidak terserap di bidangnya,” tuturnya dalam diskusi Poros Maritim di Jakarta, Selasa (15/1).

Akademisi, ucap Dirjen Ghufron diharapkan berkontribusi menyumbangkan pemikiran serta terobosan agar mempercepat pembangunan SDM bidang kemaritiman. Sementara pihaknya saat ini sudah menyusun cetak biru atau grand design melalui Buku Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Iptek dan Dikti Sektor Kemaritiman. Hasilnya, sektor kemaritiman memiliki cakupan yang luas, dari mulai teknologi kemaritiman, perikanan, industri dan transportasi, hingga konservasi laut.

Grand design pengembangan SDM iptek dan dikti sendiri bertujuan mewujudkan relevansi pada pendidikan tinggi Tanah Air. Perhitungan tersebut meliputi pemetaan sekaligus skenario jumlah lulusan, program studi, fakultas, serta universitas yang dibutuhkan untuk menyokong sektor kemaritiman hingga tahun 2030. Hasil ini, lanjut Dirjen Ghufron, harus menjadi rujukan dalam pembukaan program studi maupun universitas.

“Saya melihat semangat dari berbagai pihak untuk memperkuat sektor kemaritiman ini, sampai ada yang mengusulkan mendirikan universitas kemaritiman. Namun, perlu dilihat relevansinya sehingga kami ingin agar hasil grand design ini digunakan sebagai rujukan sebelum mendirikan prodi, apalagi universitas,” ucap Dirjen Ghufron.

Lebih lanjut, dia menerangkan kondisi umum kebutuhan SDM bidang kemaritiman Tanah Air. Pada penangkapan ikan, lanjut Ghufron, suplai SDM Dikti akan berlebih setelah tahun 2030. Kondisi ini dilatarbelakangi adanya kebijakan moratorium kapal eks asing. Terdapat dua skenario yang digunakan, yaitu potensi stok ikan laut sebanyak 12,5 juta ton, dan kedua potensi stok ikan laut sebanyak 20 juta ton.  Sedangkan dari industri pengolahan, jika kondisi membaik pada tahun 2020, maka suplai diploma tidak mencukupi. Bahkan, suplai sarjana juga tidak mencukupi jika produksi penangkapan ikan meningkat.

Dirjen Ghufron menambahkan, skenario produksi akuakultur akan meningkat linier pada tahun 2025, 2035, dan 2045, yakni mencapai 2,5 kali. Pada kondisi tersebut, kebutuhan SDM sarjana akan berlebih setelah tahun 2033. Sementara SDM diploma dan pascasarjana masih kurang.

“Kalau untuk bidang transportasi laut kami identifikasi lebih memerlukan lulusan diploma. Sedangkan untuk SDM bidang konservasi laut ini masih kurang, baik pada level sarjana maupun pascasarjana,” ujarnya.

Terkait pengembangan SDM bidang kemaritiman sendiri, Dirjen Ghufron juga mengupayakan peningkatan sarana dan prasarana pada pendidikan bidang kemaritiman yang sudah ada saat ini. Sebagai contoh, masih banyak fakultas, program studi, terutama politeknik yang kesulitan melakukan praktik lantaran tidak ada akses untuk belajar di kapal. Oleh sebab itu, Dirjen Ghufron berharap ke depan kapal-kapal eks asing yang melanggar, sebaiknya tidak ditenggelamkan, namun di siti untuk kepentingan pendidikan.

“Kapal-kapal tersebut jika bisa dimanfaatkan tentu sangat baik, digunakan untuk menjadi lab bagi mahasiswa kemaritiman,” tutup Dirjen Ghufron. (ira)