Internasionalisasikan Lembaga, Undiksha Undang Ilmuwan Diaspora

Sabtu, 12 Januari 2019 | 0:59 WIB


SINGARAJA, BALI – Euforia perayaan tahun baru 2019 yang masih menyelimuti berbagai lembaga pendidikan tinggi Indonesia ternyata tidak berpengaruh banyak terhadap civitas akademika Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Mereka harus menekan keinginan untuk berlibur bersama sanak-saudara lantaran kampus, tempat mereka bekerja kini tengah melakukan sebuah lompatan. Tahun 2019, Undiksha mencanangkan sebuah program jangka panjang yakni menginternasionalisasikan universitas yang terletak di utara Bali ini.

Dalam rangka mewujudkan misi internasional tersebut serta memantapkan visi menjadi universitas unggul yang berlandaskan falsafah Tri Hita Kirana di Asia pada 2045, Undiksha melakukan terobosan dengan menggelar Focus Group DiscussionPemantapan dan Penguatan Publikasi Internasional dan Joint Researchpada 11 Januari 2019 di Aula Undiksha. Narasumber yang dihadirkan dalam acara ini adalah Dr. Bagus Putra Muljadi, ilmuwan diaspora yang saat ini menjabat sebagaiDirector of Indonesia Doctoral Training Partnershipdi NottinghamUniversity. Dalam kesempatannya ini, Dr. Bagus mengungkapkan bahwa Nottingham University siap menjalin kerja sama dengan Undiksha tentang pengembangan SDM di bidang ilmu tertentu, terutama ilmu tentang Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Dr. Bagus juga menyampaikan bahwa beberapa hal terkait pembangunan akan dengan sangat mudah dilakukan oleh kampus di Indonesia apabila bisa memanfaatkan pengalaman dan koneksi yang dimiliki diaspora di mana pun mereka berada. Diaspora harus menjadi hubatau jembatan penghubung antara ilmuwan dalam negeri ke luar negeri. Output dari jalinan hubungan ini sendiri diharapkan tidak hanya berhenti pada perkenalan, tetapi masuk ke kolaborasi untuk menghasilkan suatu publikasi.

“Melalui kolaborasi, kaca mata penelitian kita menjadi luas karena multidisiplin. Misalnya menggabungkan antara science dan engineering atau antara olahraga dan teknologi, dan masih banyak lagi bidang lainnya,” ujar Dr. Bagus.

Publikasi bagi seorang dosen di Indonesia sendiri merupakan sebuah kewajiban yang sudah diatur dalam Permen 20 tahun 2017 Kemenristekdikti. Sebuah aturan yang sejak pertama kali diluncurkan—mungkin sampai hari ini—banyak menuai kecaman dari dosen-dosen di berbagai universitas di Indonesia. Tidak banyak dosen Indonesia berhasil melihat Permen tersebut secara makro, sehingga banyak universitas Indonesia belum bisa beranjak dari teaching universityke research university. Akan tetapi tidak semua universitas lantang menyuarakan penolakan, salah satunya adalah Undiksha.

Rektor Undiksha, Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd., pada kesempatannya berbicara di hadapan audiensiyang hadir dengan proporsi dosen, peneliti, dan pejabat Undiksha, mengatakan sejak pertama kali pemerintah mengeluarkan Permen 20 tentang kewajiban menulis jurnal dan dihilangkannya tunjangan bagi dosen yang tidak produktif, Undiksha salah satu kampus yang sama sekali tidak terlibat dalam aksi penolakan tersebut. Bahkan menurut pengakuan Dr. Jampel, Undiksha sudah terlebih dahulu mengeluarkan aturan menulis jurnal bagi seluruh dosen dibandingkan Kemenristekdikti dengan Permen 20-nya.

Sebagai pemimpin di kampus pendidikan terbesar di Pulau Bali, Dr. Jampel merasa gelisah lantaran produktivitas publikasi dosen Undiksha tidak begitu banyak. Kampus yang ditetapkan pada tanggal 11 Mei 2006 berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Perubahan IKIP Singaraja menjadi Undiksha ini tercatat hanya baru menghasilkan publikasi tidak lebih dari 100 publikasi. Padahal potensi penelitian di alam tempat Undiksha berdiri sangatah melimpah.

Demi mengubah citra Undiksha di mata publik, Dr. Jampel kemudian akhirnya membuat kampanye masif kepada pendidik dan tenaga pendidik untuk mendongkrak produktivitas publikasi karya. Bahkan di era kepemimpinannya, Undiksha telah membentuk tim pendamping khusus untuk mengontrol proses penelitian dan penulisan jurnal.

“Pengetahuan kita belum sampai ke sana. Kita masih perlu mengadopsi pengetahuan dan pembaharuan strategi dari luar yang salah satunya melalui Dr. Bagus. Kami ingin cepat mewujudkan visi itu. Paling tidak di tahun 2025, semuanya bisa tercapai. ” ujarnya.

Alasan Dr. Jampel mendatangkan Dr. Bagus ke Undiksha bukan hanya berharap posisinya saat ini di Nottingham bisa membuka keran kerja sama antara Undiskha dengan kampus tempat MRI dilahirkan. Selain itu, Dr. Jampel berharap sosok Dr. Bagus bisa menjadi inspirasi baru bagi seluruh civitas akademika Undiksha untuk menjadi ‘sosok ilmuwan muda berprestasi’. Selain itu, Dr. Jampel berharap ke depannya Dr. Bagus tidak hanya datang ke Undiksha sebagai narasumber acara, tetapi jauh lebih itu. Bisa menjadi dosen tamu, reviewer, atau World Class Professoryang berguna mewujudkan misa menginternasionalisasikan Undiksha.