Senjakala Produksi Ikan Kerapu Indonesia

Selasa, 8 Januari 2019 | 16:30 WIB


“There is nothing more enticing, disenchanting, and enslaving than the life at sea.”

—Joseph Conrad

 

Nelayan yang hidup di sepanjang garis pantai Sulawesi Selatan—atau mungkin di seluruh Indonesia—pasti tak pernah mengira jika ikan kerapu yang setiap hari mereka tangkap di lautan kini memasuki senjakalanya. Migrasi kerapu ke luar perairan Indonesia, perubahan iklim dan serentetan bencana yang terjadi belakangan ini, bukan penyebab utama mengapa kita berada pada posisi saat ini. Namun, kurangnya pengetahuan nelayan dalam hal pengelolaan ikan di lautanlah, penyebab utama dari semuanya.

Potensi kerapu Indonesia saat ini berada pada angka 30% dari potensi 100%. Angka ini sendiri setiap hari terus mengalami penurunan dan berpotensi akan habis dalam beberapa tahun mendatang. Padahal kerapu merupakan salah satu komoditas yang telah lama menjadi tulang punggung perekonomian bangsa kita.

Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc., ahli ekologi terumbu karang yang saat ini menjabat sebagai Dekan Sekolah Pascasarajana Universitas Hasanuddin Makassar, mengungkapkan alasan mengapa kondisi kerapu di lautan memasuki senjakala seperti sekarang lantaran tidak adanya kesadaran masyarakat dalam mengelola sumber ikan di lautan dengan baik. Selain itu, para nelayan cenderung mengambil ikan dengan jumlah banyak, tetapi ikan yang diambil belum dikatakan ‘matang’ secara ukuran. Aktivitas seperti ini tentu sangat merugikan kesediaan kerapu di lautan masa depan.

Laut tenang dengan debur ombak yang berkejaran menuju pantai memang kerap membuat nelayan abai untuk mulai sadar betapa lautan dalam pun perlu diperhatikan. Kehidupan yang dijanjikan laut tidak pernah abadi. Padahal laut sendiri telah sejak lama menjadi tulang punggung perekonomian bangsa kita. Laut menjadi salah satu potensi yang bisa dimanfaatkan untuk membuat masyarakat Indonesia hidup dalam kesejahteraan. Situasi inilah yang dilihat pemerintah Indonesia yang tercantum dalam nawa cita bangsa dengan makna tersirat ‘ingin menjadikan maritim sebagai sumber devisa baru bagi negara’.

“Tidak ada cara lain untuk kita bisa lepas dari kondisi ini selain mengedukasi nelayan tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap kepada lautnya,” ujar Prof. Jompa.

Menurut Prof. Jompa, budidaya kerapu yang saat ini dijalankan di berbagai perairan Indonesia sebagai upaya mengatasi susutnya pertumbuhan kerapu di lautan, bukanlah solusi yang bisa menyelamatkan potensi laut kita di masa depan. Sebab, tidak semua ikan bisa dibudidaya dan permintaan pasar terhadap kerapu hasil budidaya sangat minim.

Melihat letak geografis Indonesia yang dikelilingi lautan, idealnya Indonesia mampu memproduksi kerapu sebanyak 1 juta ekor per hari. Namun, produksi kerapu Indonesia hanya berada di angka 500 ekor per hari. Skema produksi yang dilakukan nelayan merupakan penyebab utama rendahnya produksi kerapu kita.

“Masalah utama yang sering terjadi dalam produksi kerapu kita adalah nelayan tidak tahu kapan waktu dan tempat yang tepat menangkap kerapu. Nelayan kita seringkali mengganggu proses pemijahan kerapu. Selain itu, karena permintaan pasar terhadap kerapu yang masih hidup sangat tinggi, mereka sering menggunakan bius sebagai alat utama menangkap kerapu. Dalam kasus ini, memang ikan berhasil ditangkap dalam kondisi hidup, tetapi ada komponen lain yang dikorbankan seperti rusaknya karang yang menjadi tempat tinggal bagi kerapu. Dampak dari aktivitas ini adalah kerapu tidak lagi memiliki tempat untuk tinggal sehingga proses reproduksi mereka menjadi terganggu,” ujarnya.

Prof. Jompa dibantu oleh Miftakhul Khasanah, mahasiswa PMDSU Batch II Universitas Hasanuddin Makassar, selama ini terus berusaha untuk menjaga laut dan seisinya dengan cara mengedukasi kelompok nelayan di Sulawesi Selatan dan sekitarnya tentang manajemen yang tepat menangkap kerapu dan berapa jumlah serta ukuran ideal kerapu layak tangkap. Hal ini tak lain bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi dan nilai kerapu di pasar tanpa merusak ekosistem kerapu di lautan. Karena berbicara tentang lautan, kita tidak hanya berbicara tentang produksi kerapu, tetapi berbicara tentang aspek sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.

Sosialisasi ini penting dilakukan tidak hanya kepada nelayan, tetapi kepada pemerintah pusat agar segera mengeluarkan aturan terkait penangkapan kerapu di lautan. Jika manajemen penangkapan kerapu tidak dilakukan mulai dari sekarang, kerapu di lautan Indonesia dipastikan akan bergerak menuju senjakalanya.

Di antara jenis ikan yang hidup di lautan, kerapu merupakan jenis ikan yang sangat unik. Seluruh kerapu pertama kali terlahir dengan berjenis kelamin betina. Kemudian sebagian besar dari kerapu baru akan berganti kelamin menjadi jantan setelah ukuran mereka bertambah menjadi 500 gram–1 kilo. Pengetahuan tentang karakteristik kerapu ini sendiri tidak banyak dipahami nelayan sebagai salah satu cara mereka untuk mempertahankan produksi kerapu di lautan.

“Jika nelayan kita banyak mengambil kerapu dalam ukuran yang masih kecil (di bawah 500 gram) dengan jumlah yang sangat besar, kelak siapa yang akan menjadi kerapu jantan dan mengawini kerapu betina? Sebaiknya penangkapan kerapu dilakukan sebelum kerapu mencapai 600 gram. Aturan ini harus segera ditetapkan jika ingin menyelamatkan produksi kerapu di lautan. Karena sepanjang pengetahuan saya, hanya Indonesia, negara yang terus memproduksi kerapu, tetapi tidak memiliki batas ukuran kerapu yang layak diperdagangkan,” tutupnya. (Iqbal)