Pembangunan Dosen, Solusi Menyiapkan Bonus Demografi 2045

Jumat, 14 Desember 2018 | 1:48 WIB


Jakarta (12/12) – Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti melalui Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyelenggarakan “Lokakarya Calon Penerima Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) Dalam Negeri (DN) Tahun 2018” di Vertu Harmoni 13-14 Desember 2018. Peserta yang hadir dalam acara ini merupakan dosen dari berbagai perguruan tinggi Indonesia yang sebelumnya telah melalui beragam ujian yang telah dilaksanakan oleh penyelenggara. Peserta yang hadir di sini nantinya akan melanjutkan studi ke jenjang S-3 di perguruan tinggi terbaik dalam negeri.

Lokakarya ini sendiri bertujuan memberikan pembekalan kepada calon penerima beasiswa agar ketika menjalani masa studi nanti, para penerima beasiswa tidak lagi terkena sindrom gegar budaya, tetapi menjadi penerima beasiswa yang mampu memaknai setiap prosesnya.

Dalam lokakarya ini turut serta hadir, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2009-2014), Prof. Dr. Ir. H. M. Nuh, DEA. sebagai pembicara kunci, setelah sebelumnya Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti, terlebih dahulu memberikan pengarahan kepada para peserta tentang kondisi Pendidikan Tinggi saat ini dan langkah apa yang sebaiknya oleh para akademisi lakukan.

Dalam kesempatannya, Prof. M. Nuh menjelaskan tentang berbagai prinsip yang harus diperhatikan seorang dosen ketika menjalankan proses tri darmanya. Menurutnya pendidikan (tinggi) adalah sistem rekayasa sosial terbaik dan teruji untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan suatu bangsa. Karena itu, tugas seorang dosen tidak dapat dilakukan secara sambil-lalu. Dosen adalah inti dari pelaksanaan pembangunan nasional. Ia adalah seorang ahli nujum yang mampu melihat masa depan: menerobos ruang-ruang gelap masa depan yang penuh ketidakpastian.

“Seorang dosen juga harus jadi seorang inspirator yang bisa mencetak generasi pemungkin. Dosen juga harus jadi penyemai kreator-kreator peradaban, tanpa abai terhadap nilai-nilai dasar dosen yakni kejujuran, pembelajaran sejati, kreatif-inovatif, optimistis-motivator, dan keteladanan,” imbuhnya.

Generasi pemungkin yang dimaksud Prof. M. Nuh adalah generasi yang mampu melihat setiap kemungkinan (peluang) dari setiap ketidakmungkinan. Membentuk dosen dengan karakterisasi demikian tentu tidak mudah. Butuh waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Beasiswa yang selama ini dikeluarkan oleh pemerintah, menurutnya bisa menjadi salah satu cara membentuk dosen ideal yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kualifikasi dan kompetensi seorang dosen sangat penting bagi Indonesia yang saat ini tengah berlari melakukan pembangunan di berbagai sektor strategis. Hal ini gencar dilakukan agar bonus demografi generasi emas yang diprediksi akan didapatkan Indonesia di tahun 2045, kelak tidaklah sia-sia.

“Satu hal yang paling penting dari kerja seorang dosen adalah menanamkan value pada generasi saat ini. Karena yang sedang dosen lakukan hari ini bukan hanya sekadar mengajar, tetapi menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni di masa depan,” tuturnya.

Maka dari itu dosen dituntut terbuka terhadap segala macam pengetahuan dan mampu melihat berbagai kemungkinan secara mendalam. Bagaimanapun dosen adalah seseorang yang berbekal hasil pendidikan masa lalu yang mendidik masa kini untuk menyiapkan generasi masa depan di dalam ruang dan waktu yang berubah-ubah. Apa yang dihadapi dosen ketika di kelas adalah situasi yang berbeda yang sebelumnya tidak pernah mereka dapatkan selama menempuh pendidikan. Degradasi pengetahuan dalam situasi seperti ini sangat rentan terjadi.

“Kalau kita tidak bisa memodifikasi pengetahuan, pendidikan pasti akan sulit diterima oleh generasi sekarang. Toh yang dipunyai dosen adalah bekal dari masa lalu,” ujarnya.

Ketua Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini mengatakan di era revolusi industri 4.0 keterbukaan akses tidak dapat dicegah oleh apa pun. Ini berpotensi membentuk inovasi berbasis teknologi (AI, VR, atau Big Data) secara terus menerus. Sumber daya manusia tidak lagi memiliki pilihan selain terdisrupsi di dalamnya. Kondisi ini secara langsung akan memaksa dosen untuk bergerak cepat. Cepat yang dimaksud di sini bukan hanya dalam hal menangkap suatu peluang, tetapi dalam hal berpikir dan menyerap suatu informasi. Penguasaan informasi, terutama yang valid, sangat penting di era disrupsi ini. Karena itu merupakan kunci dari seseorang mendapatkan otoritasnya di masyarakat luas.

“Dosen harus punya otoritas agar bisa dipercaya oleh semua orang,” tambahnya.

Sebelum mengakhiri sesi pembekalan, Prof. M. Nuh berpesan kepada para dosen penerima BUDI-DN kelak, baik ketika menjalani tugas belajar maupun sudah bekerja, agar tidak melupakan sejarah. Baik sejarah dalam lingkup yang luas, maupun lingkup yang sempit.

Menurutnya setiap generasi memiliki tugas kesejarahan masing-masing sesuai dengan zamannya. Jadikan kecerdasan dan kemuliaan sebagai sebuah pembiasaan. Ukirlah setiap hal yang dilalui dengan lembaran sejarah dan prestasi. Karena inilah yang benar-benar dibutuhkan oleh generasi kita nanti. [] (Iqbal)