Pasca-Gempa dan Tsunami Palu, Kemenristekdikti Berupaya Pulihkan Perkuliahan di Universitas Tadulako

Senin, 8 Oktober 2018 | 11:23 WIB


PALU – Universitas Tadulako (Untad) mengalami kerusakan yang cukup parah akibat gempa berkekuatan 7,4 Magnitudo dan tsunami yang melanda wilayah Pesisir Donggala, Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat, 28 September 2018 silam. Atas kejadian tersebut, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada tanggal 3 Oktober sudah melakukan peninjauan langsung terhadap bangunan-bangunan yang rusak, serta mengambil langkah untuk proses perkuliahan yang terhenti pascabencana.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, proses perkuliahan menjadi sulit dilanjutkan lantaran beberapa gedung hancur. Beruntung, pada saat gempa besar terjadi, kampus sudah dalam keadaan sepi. Sebagian besar dosen dan mahasiswa sudah menghentikan kegiatan belajar mengajar setelah gempa pertama terjadi sekira pukul 17.00 WITA.

“Kondisi bangunan Untad cukup parah, gedung tiga lantai menjadi dua lantai karena satu lantainya ambles. Setelah gempa pertama yang kurang lebih berskala 5,0 Magnitudo perkuliahan dihentikan, mereka menyelamatkan diri. Alhamdulillah, pengurus universitas selamat. Tetapi ada beberapa rumah dosen yang terkena dampak gempa,” tutur Dirjen Ghufron ditemui di ITERA, Lampung, Sabtu (6/10).

Terkait hal tersebut, Dirjen Ghufron mengungkapkan, pihaknya saat ini masih menunggu laporan data jumlah dosen, termasuk keluarganya yang menjadi korban gempa dan tsunami. “Setelah ada laporannya, nanti kita lihat seberapa besar keparahan dari dampak gempa tersebut. Baru setelah itu diputuskan langkah penanggulangannya,” ucapnya.

Hal terpenting lainnya adalah proses perkuliahan di Untad. Kemenristekdikti, ujar Dirjen Ghufron, berkomitmen agar para mahasiswa dapat tetap menjalankan perkuliahan di tengah kondisi infrastruktur yang rusak. Salah satu caranya, menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk menerima mahasiswa Untad. Sementara terkait beasiswa dan bantuan biaya hidup bagi para mahasiswa yang menjadi korban gempa, Kemenristekdikti tengah membahas lebih lanjut secara internal.

“Yang terpenting mahasiswa jangan sampai kesulitan kuliah, apalagi sampai ada yang DO. Oleh sebab itu, yang terdampak kami identifikasi. Lalu kami sampaikan kepada perguruan tinggi lain untuk kuliah di sana,” sebut Dirjen Ghufron.

Dirjen Ghufron menambahkan, peristiwa di Untad semakin mendorong Kemenristekdikti dalam mengembangkan proses pembelajaran daring. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pembelajaran daring bukan berarti hanya mengunggah materi ke e-learning lalu dapat diakses oleh mahasiswa di mana saja. Lebih dari itu, proses pembelajaran daring perlu menyajikan suatu proses tertentu, bahkan menyediakan virtual laboratory sehingga mahasiswa bisa melihat dan merasakan langsung layaknya praktik di laboratorium.

“Sekarang terus dikembangkan, jadi mahasiswa dapat ikut praktik dalam proses yang riil, tetapi maya. Dalam kondisi saat ini, pemanfaatan internet of things sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar mengajar agar tetap berlangsung,” pungkas Dirjen Ghufron. (ira)