Memahami Konsep Nasionalisme Ala Diaspora

Senin, 8 Oktober 2018 | 17:15 WIB


Bentuk pengabdian dan berbakti kepada negeri (nasionalisme) dalam era revolusi industri saat ini telah mengalami transformasi yang signifikan. Keberadaan subjek terhadap objek sebagai wujud dari pertemuan, bukan lagi nilai yang kultus. Kecanggihan teknologi dan evolusi tata-kelola data, memungkinkan siapa pun dapat melakukan kontrol terhadap sesuatu tanpa harus berada di dekatnya. Kecanggihan ini juga memungkinkan siapa pun untuk dapat mengakses segala macam informasi di berbagai belahan dunia mana pun. Era ini benar-benar telah membuat jarak menjadi sesuatu yang fana. Segala aktivitas dapat dilakukan kapanpun, tanpa mesti melalui proses pertemuan.  Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, era ini barangkali dapat disebut sebagai keniscayaan. Secara gamblang, era ini telah membuka jalan bagi siapa pun untuk bisa mengembangkan ilmu pengetahuan di suatu tempat, tanpa harus terlebih dahulu menetap dengan kurun tertentu. Teknologi telah benar-benar mengubah konsep pengabdian yang selama ini dianggap oleh banyak orang sebagai upaya membangun suatu bangsa dengan cara menetap di dalamnya.

Kecanggihan era ini sendiri tentu saja dapat menepis anggapan masyarakat tentang peran ilmuwan diaspora terhadap perkembangan dunia keilmuan di Indonesia. Dr. Hutomo Suryo Wasisto, M. Eng. peserta Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018, ilmuwan diaspora yang saat ini menjabat sebagai Head of LENA – Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense) Group and Chief Executive Officer (CEO/Coordinator) of Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano), merupakan sosok ilmuwan diaspora yang patut dibanggakan. Ia menyelesaikan Studi S-1 di Bidang Electrical Engineering, Universitas Gadjah Mada (2008); Studi S-2 di Bidang Computer Science and Information Engineering, Asia University, Taichung (2010), dan; Studi S-3 di Bidang Electrical Engineering, Information Technology, and Physics, Technische Universität Braunschweig, Braunschweig (2014).

Pakar nanoteknologi kelahiran Yogyakarta, 1987, kini namanya cukup ramai diperbincangkan di dunia keilmuan internasional lantaran penghormatan yang didapatkannya dari pemerintah Jerman setara dengan B.J. Habibie. Usia muda, berprestasi, dan memiliki fasilitas yang mumpuni di tempatnya bekerja saat ini, bukanlah alasan bagi dirinya untuk lupa terhadap tanah kelahirannya. Ia terus bekerja dalam senyap untuk merawat asa ilmu pengetahuan Indonesia. Menjadikan dirinya jembatan bagi Indonesia untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan dunia. Ia menjadi salah satu ciri bahwa kecintaan dan kebermilikan terhadap Indonesia tidak dapat diukur dari usia, pendidikan, pengalaman, dan hal-hal lainnya yang sulit disebutkan. Rasa itu muncul karena sebuah dorongan magis yang tak pernah bisa diketahui alasannya.

Berikut ini adalah wawancara eksklusif dengan Hutomo mengenai “Nasionalisme dan Ilmu Pengetahuan” yang menurutnya nasionalisme tidak seharusnya tidak dibatasi oleh di mana orang tersebut tinggal, warna kulit apa yang dipunyai dia, agama apa yang dianutnya, maupun paspor apa yang digenggam olehnya, tetapi lebih dari itu. Karena orang yang memiliki rasa nasionalisme tinggi pasti akan mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk kemajuan, kehormatan, dan tegaknya kedaulatan negara dan bangsanya, tentunya dengan kapasitas dan kemampuan yang dia miliki.

Menurut Anda, bagaimana peran diaspora terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia saat ini?

Peran Diaspora sangatlah penting untuk mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dan kami sudah cukup baik menerapkannya untuk beberapa bidang strategis di Indonesia, baik ilmu yang dapat diterapkan secara langsung (applied science) maupun ilmu dasar (basic science). Mengapa dapat mempercepat? Karena pada umumnya diaspora tersebut tinggal dan berkarier di negara yang teknologi dan ilmu pengetahuannya lebih cepat dijangkau dan dikembangkan. Dengan adanya mereka, maka mereka dapat menyerap serta menyebarkan ilmu tersebut langsung ke partner yang ada di Indonesia untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut. Terlebih lagi, para diaspora umumnya sudah mendapatkan informasi terlebih dahulu dari pihak partner di Indonesia untuk melakukan riset yang sedang dibutuhkan, sehingga pengembangannya akan lebih terfokuskan. Walaupun ada beberapa diaspora yang bidangnya sangat spesifik, akan tetapi saya percaya bahwa mereka akan menyesuaikan atau bersedia mengembangkan ilmu pengetahuan yang baru dengan menjadikan expertise-nya sebagai akar untuk pengembangan bidang tersebut. Namun yang saya amati sekarang, walaupun secara individu para diaspora sudah sangat menonjol, perlu saya garis bawahi di sini, kami harus lebih dapat bekerja sama dan membentuk suatu consortium untuk saling melengkapi bidang keilmuan yang dibutuhkan di Indonesia, karena problem yang harus diselesaikan sangatlah kompleks. Sekarang sudah eranya multidisciplinary research. Selain itu para Diaspora harus lebih aktif lagi menunjukkan peran sertanya dalam menggandeng para ilmuan dan praktisi yang ada di Indonesia untuk bersama-sama melakukan riset yang impact-nya dapat dirasakan langsung oleh bangsa Indonesia, selain tentunya juga untuk meningkatkan publikasi bertaraf internasional berkualitas utama. Dalam hal ini, pihak dari Indonesia sebaiknya juga ikut aktif turun serta, sehingga kerja sama untuk pengembangan ilmu pengetahuan akan berjalan dua arah, dari dan ke Indonesia.

Menurut Anda, nasionalisme itu apa?

Nasionalisme adalah rasa cinta, bangga, dan keterikatan batin yang melekat pada diri seseorang terhadap negara dan bangsanya yang ditunjukkan melalui sikap dan kontribusi yang nyata sesuai bidang yang digelutinya. Jadi menurut saya, tergantung posisi dan kemampuan seseorang, nasionalisme dapat ditunjukkan dalam hal yang sangat beragam dan tidak dapat dipukul rata antara satu orang dengan orang yang lain. Misalnya, seorang penari Indonesia yang tinggal di luar negeri pasti akan berusaha menunjukkan nasionalismenya dengan menari tarian Indonesia dalam pentas kesenian atau malam Indonesia di negara tersebut, serta akan mengenalkan budaya Indonesia pada umumnya, yang contohnya adalah dengan menggunakan pakaian batik. Hal ini dikarenakan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia butuh sebuah ciri khas yang membedakan dengan bangsa lain. Sedangkan para pelajar Indonesia yang dapat berprestasi di ajang kelas dunia atau internasional menurut saya juga dapat dikatakan mempunyai nasionalisme dan patriotisme yang besar, karena sekarang eranya sudah bukan perang fisik. Namun, kita harus dapat menunjukkan bahwa kita Indonesia adalah negara dan bangsa yang besar dengan sumber daya manusia yang sangat berkualitas. Demikian juga halnya saya sebagai ilmuwan, saya akan terus melakukan riset yang dapat digunakan untuk keperluan Indonesia maupun dunia. Selain itu, saya juga membimbing para mahasiswa Indonesia di universitas saya supaya semua ilmu yang saya miliki dapat saya transfer dan diserap oleh mereka, sehingga setelahnya mereka dapat melakukan hal yang lebih lagi untuk bangsa dan negara kita di kemudian harinya. Semakin banyak orang Indonesia yang belajar dalam suatu tema yang berkaitan, maka impak yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan bila mereka mengembangkan riset ataupun ilmu pengetahuan yang tidak berkaitan satu dengan yang lain.

Orang yang mempunyai rasa nasionalisme tinggi akan mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk kemajuan, kehormatan, dan tegaknya kedaulatan negara dan bangsanya, tentunya dengan kapasitas dan kemampuan yang dia miliki. Jadi nasionalisme lebih dari hanya sekedar perdebatan atau pembahasan tentang di mana orang tersebut tinggal, warna kulit apa yang dipunyai dia, agama apa yang dianutnya, maupun paspor apa yang digenggam olehnya. Hal ini dikarenakan saya pribadi lebih memberikan rasa hormat atau respek saya terhadap orang-orang yang benar-benar dapat melakukan kerja keras dan memberikan sumbangsih nyata kepada negaranya, dibandingkan dengan segelintir orang yang hanya bisa menuntut haknya dari pemerintah, namun kontribusi mereka sebenarnya sangatlah kecil. Jadi marilah bersama-sama tetap memupuk rasa nasionalisme kita dengan memberikan sumbangsih yang nyata kepada Indonesia.

Apakah para ilmuwan asal Indonesia yang menjadi warga negara asing bisa dibilang tidak memiliki rasa nasionalisme?

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, pandangan ini menurut saya adalah pandangan yang sangat keliru. Saya termasuk orang yang paling tidak setuju dengan pendapat ini. Kita ini sekarang hidup di zaman modern yang semuanya serba connected dan tinggal di era “masyarakat dunia”, jadi sebetulnya bila seseorang ingin tinggal di mana pun dan harus menjadi warga negara tertentu selain Indonesia, menurut saya itu hak dari orang tersebut. Akan tetapi, asalkan dia tetap berkontribusi nyata kepada bangsa aslinya yaitu Indonesia dan menjaga nama baik negara asalnya, maka saya akan menyebutnya memiliki nasionalisme yang tinggi. Bisa jadi untuk beberapa kasus, dengan menjadi warga negara di tempat mereka tinggal, diaspora Indonesia tersebut dapat lebih mendapatkan akses-akses tertentu dan membukakan peluang yang lebih besar bagi keperluan orang Indonesia yang lainnya, sehingga bukannya menurun peran sertanya terhadap Indonesia, namun malah kebalikannya. Saya sudah pernah menemui beberapa ilmuwan Indonesia yang akhirnya pindah menjadi warga negara asing dikarenakan alasan-alasan tertentu dan terkadang berada di situasi yang akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain mengganti paspor “hijau” menjadi paspor “merah” atau “biru”. Namun saya dapat menjamin bahwa meski demikian, rasa cinta mereka terhadap Indonesia masih sangatlah besar serta banyak dari mereka yang masih berharap untuk dapat kembali lagi menjadi WNI. Akan tetapi, akhirnya, semua tetap kembali kepada pilihan hidup masing-masing.

Apa bentuk apresiasi ilmuwan diaspora untuk menghargai bangsa dan negara sendiri ketika di luar negeri?

Ilmuwan diaspora Indonesia dapat melakukan beberapa hal pastinya. Dari hal yang sepele saja, para ilmuwan dapat menggunakan batik dalam event meeting dan conference internasional yang dihadiri. Pengalaman saya sendiri, para ilmuwan asing akan menanyakan pakaian apa yang kita kenakan. Di situ adalah kesempatan untuk mengenalkan Indonesia lebih lanjut. Selain itu dengan bidang keilmuan yang dipunya, para diaspora dapat memberi dukungan kepada bangsa Indonesia dengan berkontribusi, membantu, dan membukakan jalan bagi bangsa Indonesia sehingga dapat bersaing di dalam maupun di luar negeri yang pada akhirnya akan membantu meningkatkan status dan menambah nilai Indonesia itu sendiri di mata bangsa asing. Dari semua itu kuncinya adalah kerja keras. Dari pengalaman saya sendiri di universitas saya bekerja, Technische Universität Braunschweig, dulu tidak banyak mahasiswa Ph.D. Indonesia yang direkrut sebagai scientific staff dan diberikan gaji dan proyek seperti orang Jerman. Namun setelah saya dapat membuktikan bahwa saya dapat “perform” dan bersaing dengan mereka yang dari bangsa asing (bahkan saya mendapatkan penghargaan Ph.D. terbaik di universitas ini untuk Fakultas Teknik Elektro, Teknik Informatika, dan Fisika pada saat itu), situasinya mulai berubah. Dalam hal ini, saya semakin mendapatkan kepercayaan di sini dan nama Indonesia menjadi harum. Setelah itu, ketika saya sudah menjadi research group leader dan sering duduk bersama dan berdiskusi dengan para profesor dari Jerman, mereka sekarang menginginkan untuk mempunyai mahasiswa Ph.D. dari Indonesia, karena mereka menganggap bahwa orang kita berkualitas. Namun kepercayaan itu harus kita jaga dengan tetap kerja keras dan memaksimalkan potensi kita. Jangan sampai kita dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.

Sebelum Anda, kita mengenal B. J. Habibie sebagai diaspora Indonesia yang berkarier di Jerman. Beliau merupakan salah satu diaspora terbaik yang dimiliki Indonesia dengan berbagai pencapaiannya di dunia Internasional, dan pencapaiannya tersebut juga sangat berguna bagi kemajuan terutama dalam bidang industri penerbangan di Indonesia. Melihat hal tersebut, apakah hal tersebut bisa dijadikan sebagai suatu motivasi tersendiri bagi Anda?

Pertanyaan yang bagus sekali, tapi saya juga tidak kaget karena saya akhir-akhir ini selalu mendengar perbincangan teman-teman dan rekan kerja dari Indonesia yang mencoba menyamakan kisah dan perjuangan saya dengan Eyang B.J. Habibie. Sejujurnya, awal mula saya ingin ke Jerman, semuanya berasal dari beliau. Beliau adalah role model saya sejak kecil. Pada saat itu atau SD lebih tepatnya, saya sangat kagum dengan kecerdasan dan keberanian beliau yang akhirnya dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah International di bidang high technology. Namun, saya juga penasaran dengan satu hal yang selalu menempel dengan nama beliau. Yang saya maksudkan adalah di depan nama beliau selalu tercantum gelar “Dr.-Ing.”. Kemudian saya mencari tahu apa itu sebenarnya. Saya saat itu hanya mengetahui bahwa Dr. adalah gelar akademis tertinggi untuk jenjang studi S3 di universitas. Namun apa itu “Ing”? Mengapa juga bukan Ph.D. saja seperti layaknya gelar yang diberikan universitas-universitas di negeri barat lainnya? Kemudian setelah saya tahu bahwa ternyata Dr.-Ing. itu adalah singkatan dari “Doktor-Ingenieur” atau “Doktor der Ingenieurwissenschaften” yang artinya Doktor di bidang Ilmu Teknik, maka saya saat itu saya juga ingin menjadi “Ingenieur” atau engineer. Selain itu, dikarenakan gelar tersebut diberikan oleh universitas di Jerman, itu semakin memotivasi saya untuk studi dan berkarier di negara maju tersebut, selain pastinya juga dikarenakan memang Jerman merupakan salah satu pusat pengembangan teknologi dunia, yang di mana barang-barang produksi dari Jerman terkenal dengan kualitas bagusnya.  Mungkin agak menggeilitik, namun untuk ukuran anak SD, hal kecil tersebut sudah cukup untuk memotivasi saya untuk menuju ke Jerman. Seiring berjalannya waktu, saya makin paham apa yang ingin saya lakukan untuk negara dan bangsa Indonesia ini. Saya ingin berkontribusi nyata layaknya beliau. Saya sendiri di Jerman sudah beberapa kali bertemu dengan Eyang di berbagai kesempatan, salah satunya adalah acara perkumpulan diaspora. Beliau selalu berapi-api ketika menceritakan perjuangan dan impian beliau pada jamannya. Di situ saya terlecut dan merasa bahwa saya harus meneruskan perjuangan beliau, melalui bidang yang saya kuasai. Yang menjadikan cerita saya dan beliau cukup unik adalah, jika beliau impiannya membuat suatu barang atau teknologi yang berukuran besar. Dalam hal ini pesawat dengan segala macam tools dan metode yang mendukungnya. Maka saya “mainannya” adalah barang yang sangat kecil berukuran nanometer (yang kira-kira 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia). Namun berbanding terbalik dengan bidang saya yang mengembangkan devices berukuran nano, impian saya sangatlah besar, tidak kalah besar dari beliau. Dan hal itu sudah saya ucapkan ketika saya ditanya siapapun ketika saya baru saja menjadi Sarjana Teknik dari Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada tahun 2008. Saat itu saya mengatakan kepada teman-teman satu angkatan bahwa suatu saat saya akan ke Jerman, memimpin group yang sebagian besar terdiri dari orang Indonesia di negara tersebut untuk mengembangkan teknologi paling mutakhir, baik itu di perusahaan sendiri maupun universitas yang hasilnya nanti dapat digunakan oleh seluruh bangsa di dunia, terutama bangsa kita sendiri, Indonesia. Selain itu, dari Eyang Habibie, saya belajar bahwa berbuat bagi kepentingan, kejayaan dan kemuliaan bangsa Indonesia adalah hal yang patut diperjuangkan, serta ada kebahagiaan tersendiri bagi yang melaksanakannya. Tidak ada hal yang tidak mungkin ketika kita mau berusaha keras. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Melanjutkan kisah B. J. Habibie sebelumnya, prestasi beliau yang cemerlang sempat kurang diapresiasi oleh pemerintah Indonesia sendiri. Dari kisah tersebut, bagaimana jika segala pencapaian dan prestasi yang telah Anda dapatkan, kurang dihargai oleh bangsa sendiri?

 Saya melakukan semuanya ini tidak untuk mencari penghargaan dari orang lain atau dari bangsa Indonesia. Yang menjadi kunci di sini adalah seberapa besar apa yang dapat saya berikan kepada negara dan bangsa Indonesia, bukan seberapa banyak penghargaan yang mereka berikan ke sana. Bila pencapaian dan prestasi saya nantinya akan diberikan penghargaan, menurut saya itu hanya bonus semata. Kebahagiaan saya lebih kepada jika saya dapat bermanfaat bagi Indonesia. Dan saya selalu berharap agar saya dapat lebih bermanfaat lagi kedepannya dengan membawa dampak positif dan signifikan dalam pengembangan teknologi di Indonesia, yang mempunyai efek kelanjutan untuk menjaga kestabilan perekonomian di negara kita.

Setelah sekian lama menetap di Jerman, apakah sempat terpikirkan di dalam benak Anda untuk berpindah kewarganegaraan?

Sampai sekarang saya masih bangga sekali bahwa saya masih memegang paspor Indonesia. Saya tidak mempunyai niat untuk mengganti kewarganegaraan saya. Sejujurnya, saya sudah ditawari atau disarankan oleh pihak imigrasi di Jerman untuk mengganti kewarganegaraan untuk menjadi WN Jerman karena mereka melihat potensi saya untuk Jerman. Akan tetapi, hal itu saya urungkan karena saya merasa, sampai detik ini, hal itu tidak perlu dilakukan. Saya mengetahui, tidak sedikit juga dari para ilmuwan diaspora Indonesia yang mengganti kewarganegaraannya karena alasan-alasan yang mengharuskan mereka mengganti WN-nya, semisal jika mereka bekerja di bidang yang sensitif seperti pertahanan.

Dalam hal ini, saya akui memang agak sedikit lebih repot bila bepergian untuk business trips ke beberapa negara, karena harus mengurus dan mendapatkan VISA terlebih dahulu (tidak seperti pemegang paspor Jerman yang dengan mudah menuju ke tempat tujuan, seperti untuk international conference atau meeting). Namun hal administratif seperti ini tidak menghalangi saya untuk menjaga “paspor hijau” tetap di genggaman saya. Selain itu pesan kedua orang tua saya yang menginginkan saya tetap menjadi WNI adalah tambahan motivasi bagi saya.

Saat ini saya sudah sangat bersyukur bahwa pemerintah Jerman menawarkan dan memberikan saya “Niederlassungserlaubnis für Hochqualifizierte”/ “permanent residence (PR) permit for high-qualified person/worker” atau dalam Bahasa Indonesia adalah ijin tinggal permanen/tetap untuk orang atau pekerja yang mempunyai kualifikasi sangat tinggi. Ijin tinggal ini tidak sembarangan, dan saya mendapatkan info dari pihak imigrasi bahwa jumlah penerima PR jenis ini sangat terbatas. Sekedar informasi saja, ada berbagai macam jenis PR di Jerman, dari yang normal yang membutuhkan waktu tinggal dan bekerja selama 5 tahun terlebih dahulu, sampai ada yang dengan jalur “Blue Card Holder”, di mana kewajiban untuk bekerjanya lebih pendek (yaitu selama 21 sampai 33 bulan) sebelum diizinkan mengajukan PR. Saya dulu sebelum melakukan Postdoc di Georgia Institute of Technology (Georgia Tech), Atlanta, GA, USA pada tahun 2015, saya adalah penerima PR dengan jalur Blue Card. Namun PR tersebut hangus karena saya pergi ke Atlanta. Saya masih ingat sekali ketika saya akan meninggalkan Jerman, salah satu profesor yang merupakan direktur dari Institute of Semiconductor Technology (IHT) di Technische Universität Braunschweig berkata kepada saya akan berusaha sekuat mungkin untuk membuat tawaran yang menarik supaya dapat membawa saya pulang kembali ke Braunschweig, Jerman. Dan akhirnya hal itu terwujud, saya kembali ke Braunschweig pada tahun 2016.

Namun, kembali lagi ke masalah PR saya sekarang, kenapa ini spesial? Hal ini dikarenakan PR saya ini seperti undangan dari pihak negara Jerman, di mana saya tidak membutuhkan tinggal berhari-hari terlebih dahulu, saya langsung dapat menetap selamanya. Dalam hal ini pihak universitas sebagai pemberi pekerjaan atau posisi saya yang harus mengajukan langsung ke kantor imigrasi atau pemerintah Jerman dengan surat resmi. Alasan yang kuat diperlukan untuk mendapatkan ijin tinggal tetap jenis “Niederlassungserlaubnis für Hochqualifizierte“. Dalam hal ini, rektor atau pimpinan universitas harus menyetujui-nya. Alasan yang mereka berikan adalah saya termasuk ilmuwan dengan ilmu pengetahuan atau knowledge yang spesial mengenai nanoteknologi dan nanometrologi yang dibutuhkan oleh Jerman dan TU Braunschweig dalam menjalan banyak proyek riset di salah satu pusat riset terbesar di negara bagian Lower Saxony, Jerman bernama Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), yang merupakan gabungan kerja sama beberapa departmen dan institutes dari Technische Universität Braunschweig dan Physikalisch-Technische Bundesanstalt (PTB). PTB merupakan badan metrologi nasional milik Jerman, yang dapat dikatakan badan standardisasi terbesar kedua di dunia setelah NIST (National Institute of Standards and Technology) milik USA. Saya baru saja tergabung dalam suatu consortium yang cukup besar untuk salah satu proposal proyek quantum metrologi atau pengukuran di Jerman untuk menjembatani adanya revisi The International System of Units (SI) yang akan dilakukan pada tahun 2019. Dalam hal ini, kami para principal investigators (PIs) berencana membentuk collaborative research center (CRC) dengan sumber dana dari German Research Foundation (DFG). Dalam consortium ini, saya adalah PI termuda dan satu-satunya orang Asia. Dan ketika mereka tidak melihat kewarganegaraan saya (Indonesia), tapi melihat kemampuan dan prestasi saya, saya rasa saya sudah melakukan keputusan yang tepat untuk tetap menjadi WNI. Jadi singkatnya, saya akan terus berjuang untuk tetap menjadi WNI.

Apa yang akan Anda lakukan apabila ada pihak-pihak yang memandang para diaspora tidak memiliki rasa nasionalis?

Saya rasa hal seperti itu adalah hal yang sangat wajar. Setiap hal di dunia ini pasti ada pro dan kontra. Apalagi setiap manusia punya pemikiran masing-masing dan hal tersebut tidak bisa kita kontrol atau bahkan kita paksa bukan? Yang paling penting menurut saya adalah kami sebagai diaspora harus terus berusaha memberikan sumbangsih yang nyata kepada negara dan bangsa kita tercinta, Indonesia. Kita tidak perlu adu mulut atau berdebat siapa yang benar dengan pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda. Saya selalu berpedoman bahwa hasil kerja keraslah yang akan membuktikan semuanya. Siapa yang bisa lebih berguna bagi bangsa dan mengharumkan nama Indonesia, itu yang saya sebut lebih nasionalis. Jadi jangan hanya memandang nasionalis dalam cakupan yang sempit. Saya akan ajak pihak-pihak tersebut untuk bersinergi dan bekerja sama, supaya mereka nantinya juga dapat terbuka pikirannya bahwa ternyata peran diaspora sangatlah penting bagi kemajuan dan kedaulatan negara Indonesia. Jadi, mari, ayo, kita bersama-sama membangun Indonesia dan berkontribusi dari mana pun dan kapan pun.

Sebagai diaspora, apa rencana Anda ke depan untuk bisa turut serta membangun bangsa Indonesia?

Rencana saya adalah melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah saya mulai ketika saya memutuskan untuk bekerja dan bertempat tinggal di Jerman beberapa tahun yang lalu. Hal ini mencakup beberapa hal, dari hal yang sangat kecil seperti memberikan inspirasi dan motivasi serta arahan kepada para mahasiswa Indonesia (Bachelor, Master, dan Ph.D.) baik yang studi di Jerman, Indonesia ataupun negara lainnya, terutama yang tertarik mendalami nanoteknologi, dengan memberikan ilmu yang saya dapat melalui berbagai media dan kesempatan, semisal conference, workshop, atau bahkan lewat internet/online. Sedangkan hal besar yang saya ingin lakukan adalah menguatkan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jerman, khususnya di bidang riset dan pengembangan teknologi nano, karena saya yakin teknologi ini akan makin mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia ke depannya. Saya dapat menyebutkan banyak hal yang dulunya hanya “science fiction” yang ada di film-film Hollywood, sekarang perlahan sudah menjadi kenyataan dengan adanya perkembangan dari nanoteknologi. Contoh yang sederhana adalah paper based electronics, wearable nanodevices, piezoelectric generator, smart display, dan sebagainya. Sadar atau tidak, saat ini kita sudah menggunakan teknologi itu hampir di semua aspek. Namun banyak dari masyarakat Indonesia yang tidak mengetahuinya, karena sebagian besar dari kita hanya berperan sebagai konsumen dari suatu barang, bukan pihak yang mengembangkannya. Oleh karenanya, mereka tidak tahu teknologi apa yang digunakan di dalamnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, saya akan membagi strategi atau peran aktif saya menjadi dua arah. Yang pertama yaitu ke arah yang akademis ataupun lebih ke basic science yang tujuan akhirnya menaikkan reputasi Indonesia dalam kaitannya publikasi journal international yang mempunyai impact factor yang sangat tinggi (artinya journal yang berkualitas kelas satu di bidangnya, tidak hanya sekedar “publish” saja). Yang kedua, kerja sama akan saya arahkan ke implementasi langsung dalam kasus-kasus nyata di kehidupan sehari-hari yang dapat dimanfaatkan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini, start-up company di bidang nanoteknologi harus semakin banyak didirikan dan diperkuat. Selain itu, hal yang besar seperti melakukan riset penting dan mendirikan perusahaan yang basis teknologinya merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan Jerman merupakan salah satu dari bagian roadmap saya. Konkretnya, saat ini saya sudah punya Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano), di mana saya sebagai initiator, co-founder dan CEO atau pimpinan dari center ini. Walaupun awalnya kami hanya kerja sama bilateral dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ke depannya IG-Nano ini akan berkembang menjadi lebih besar dengan menggandeng universitas-universitas dan badan institusi yang lainnya. Saya sendiri sekarang sudah menjalin kerja sama dengan berbagai universitas di Indonesia yang tertarik mengembangkan teknologi nano untuk berbagai macam aplikasi, contohnya untuk sensor lingkungan dan medis.

Saya akan menguatkan kerja sama antara Indonesia dan Jerman, tidak hanya di bidang riset, namun juga ke arah industri. Sekarang saya mempunyai suatu proyek inkubasi start-up company yang saya rintis dengan rekan scientists dari Jerman untuk bidang micro/nano-LED di Braunschweig, Jerman. Nantinya, saya akan integrasikan dengan partner company yang ada di Indonesia. Saya mempunyai impian bahwa suatu saat nanoteknologi di Indonesia tidak hanya mengenai mengubah atau memodifikasi suatu material besar menjadi kecil berukuran nano, tetapi kita harus bisa memproduksi barang-barang high-tech yang menggunakan teknologi nano, contohnya membuat electronic/LED chip atau integrated circuits (ICs) sendiri yang nantinya dapat diaplikasikan ke semua alat elektronik yang digunakan oleh manusia. Dalam hal ini kita akan dapat menciptakan berbagai macam nanodevices sesuai dengan keperluan, seperti contohnya nanoLED, nano-transistor, dan nanosensors. Jadi saya mempunyai keinginan dan mimpi besar bahwa Indonesia dapat menjadi “kiblat” dan pusat studi riset dunia untuk teknologi terkini, yang tidak hanya melibatkan sumber daya alam yang melimpah, melainkan juga sumber daya manusia yang andal dan berintegritas. Kalau bukan kita orang Indonesia yang mengolah dan membangun negara kita untuk menjadi negara yang disegani di dunia, terus siapa lagi? (Reporter: Firman Hendika/Editor : Iqbal Tawakal)