Proyek 4in1 UNEJ, Wujud Pendidikan Inklusif yang Sesuai SDGs

Kamis, 27 September 2018 | 14:16 WIB


JEMBER – Era revolusi industri 4.0 yang menekankan Cyber Physical Systems pada data dan informasi, telah menuntut berbagai bidang tertentu di perguruan tinggi menjadi konvergen dengan teknologi dan pengetahuan sebagai landasannya, serta komputasi awan sebagai tumpuannya. Akan tetapi kemajuan di bidang tersebut belum mampu sepenuhnya mendukung potensi sumber daya di lingkungan sekitar. Padahal dukungan dan sinergi sangat dibutuhkan untuk membawa Indonesia mencapai suistainable development goals yang telah ditargetkan terealisasi pada 2030.

Sektor pendidikan yang inklusif dengan sarana dan prasarana mumpuni sebagai pendukung potensi sumber daya lokal yang relevan dengan arah pembangunan bangsa menjadi prioritas yang harus segera dibentuk pada era 4.0. Proyek 4in1 yang digagas sejak 2016 oleh Kemenristekdikti dengan sumber pendanaan dari Islamic Development Bank (IsDB) diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Saat pertama kali dibentuk, proyek ini sendiri memang bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di perguruan tinggi, tetapi memberikan fasilitas penunjang perguruan tinggi untuk mengembangkan sumber daya lokal sebagai kekuatan nasional yang sesuai dengan kondisi zaman.

Rektor Universitas Jember (UNEJ), Moh. Hasan, dalam kesempatannya membuka acara groundbreaking (27/9) menyampaikan apresiasinya terhadap keberlangsungan projek ini. Menurutnya, realisasi Hard Program yang biasanya memakan waktu sangat lama, pada pelaksanaan 4in1 terhitung sangat cepat.

Ia berharap dengan dimulainya pembangunan Center of Excellence di UNEJ dapat meningkatkan kualitas perguruan tinggi yang dipimpinnya tersebut untuk mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

“Saya berharap, bangunan ini nantinya bukan hanya dijadi ikon baru di UNEJ, tetapi harus mampu dimanfaatkan dan ditunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa Jember bisa dan layak menjadi Center of Excellence di Biotechnology of Agriculture and Health,” tuturnya.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, pada kesempatannya dalam pidato peresmian groundbreaking di UNEJ menyampaikan bahwa proyek 4in1 memiliki konsentrasi pada pengembangan potensi lokal. Proyek ini sendiri diharapkan dapat membantu perguruan tinggi Indonesia peraih proyek untuk bisa bersaing di dunia global. Karena kapasitas sumber daya manusia Indonesia di berbagai sektor tertentu sampai saat ini masih perlu ditingkatkan.

Dalam World Economic Forum, Global Competitiveness Report, indeks Indonesia berada di urutan 36 dari 137 negara di dunia. Sekilas angka tersebut cukup baik. Namun, apabila dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN seperti Singapura yang menduduki peringkat ke-3, Malaysia ke-23, dan Thailand ke-32, Indonesia masih perlu berbenah. Padahal secara kuantitas sumber daya manusia Indonesia seharusnya bisa bersaing.

“Apakah karena jumlah penduduk kita lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara tersebut? Saya rasa masalahnya bukan terletak pada itu, tetapi pada mutu pendidikan kita,” ujar Menteri Nasir.

Sebagai perbandingan, Menteri Nasir menceritakan gambaran jumlah penduduk dan jumlah perguruan tinggi di Indonesia dan China sangat berbeda jauh. Jumlah penduduk China saat ini mencapai kurang lebih 1,4 milyar jiwa dengan jumlah perguruan tinggi sebanyak 2.824. Sementara Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 260 juta jiwa dengan jumlah perguruan tinggi  sebanyak 4.579. Namun apakah dari jumlah tersebut perguruan tinggi di Indonesia dapat bersaing di kelas dunia? Tidak semua mampu bersaing. China memiliki lebih banyak perguruan tinggi berkelas dunia.

Kondisi demikian akhirnya berdampak pada kualitas sumber daya manusianya. Karena Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Pelatihan merupakan bidang yang dianggap sebagai penyebab tidak majunya sebuah negara. Untuk dapat mengatasinya maka dibutuhkan kesungguhan dalam pengelolaannya. Saat ini tercatat pasar efisiensi tenaga kerja Indonesia sangat rendah. Jumlah tenaga kerja Indonesia 88% adalah lulusan SMA. Ini ditengarai dapat memicu masalah. Karena efisiensi tenaga kerja yang rendah tidak akan bisa menghasilkan inovasi yang bermutu tinggi. Projek 4in1 diharapkan dapat membawa Pendidikan Tinggi Indonesia ke arah yang lebih baik. Mampu meningkatkan mutu pendidikan agar bisa bersaing di dunia global, mampu mendorong publikasi di perguruan tinggi penerima projek 4in1 menjadi lebih baik, dan turut membantu pemerintah merealisasikan SDGs pada 2030.

Projek 4in1 di UNEJ sendiri ke depannya akan membangun Gedung Auditorium seluas 12.786 M2, integrated laboratory plan and natural and health science seluas 8.654 M2, integrated laboratory engineering biotechnology seluas 4.888 M2, integrated laboratory natural science and food technology seluas 4325 M2, integrated laboratory science policy and communication seluas 4.435 M2, dan fasilitas umum penunjang penyelenggaraan aktivitas di laboratorium tersebut, seperti musala, parkir, dan lain sebagainya.

Peresmian groundbreaking ini sendiri merupakan yang terakhir sejak pertama kali diselenggarakan di Universitas Mulawarman (7/9), dilanjutkan ke Universitas Negeri Malang (18/9), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (26/9), dan ditutup di Universitas Jember. (Iqbal)