Proyek 4in1 Dorong Untirta Dongkrak Peringkat Indonesia di ASEAN

Rabu, 26 September 2018 | 17:24 WIB


Serang – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menjadi tujuan ground breaking proyek pembangunan infrastruktur 4in1 setelah Universitas Mulawarman dan Universitas Malang. Untirta merupakan salah satu pembangunan infrastruktur terbesar diantara empat perguruan tinggi lainnya yang masuk dalam proyek 4in1, dilihat dari sisi pembiayaan dan bangunan fisiknya.

Pembangunan kampus di Desa Sindangsari ini akan menelan biaya sebesar US$ 56,991,105 atau sekitar Rp 850 M. Dana tersebut merupakan yang terbesar diantara rekan-rekannya; Universitas Mulawarman, Universitas Malang, dan Universitas Jember. Hal tersebut dapat dipahami karena pembangunan Untirta akan dimulai dari lahan kosong menjadi 11 bangunan yang nantinya menjadi pusat kegiatan belajar mengajar menggantikan kampus sebelumnya.

Kesebelas bangunan tersebut meliputi Gedung Rektorat, Perpustakaan, Gedung Pembelajaran Terintegerasi, Asrama Putra, Asrama Putri, Auditorium, Laboratorium Terintegerasi, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

“Harapannya Untirta mampu memanfaatkan pinjaman yang sangat besar ini dengan baik. Dapat berkomitmen penuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui mutu pendidikan yang diberikan dan lulusan yang berkualitas sehingga sumber daya yang dihasilkan dapat diserap secara maksimal di dunia kerja”, terang Menteri Nasir

Menilik penyerapan tenaga kerja, Menteri Natsir menjelaskan bahwa Untirta seharusnya dapat memanfaatkan momentum ini dengan baik melalui penyiapan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan lapangan, mengingat terdapat 17.761.000 perusahaan di propinsi Banten.

Sebagai universitas yang akan dijadikan pusat unggulan dalam bidang ketahanan pangan (food security), kiranya dapat turut mendongkrak peringkat Indonesia di kancah Internasional. Berdasarkan World Economy Forum (WEF), Indonesia menempati urutan ke 36 dari 137 Negara. Daya saing Indonesia naik 5 peringkat ke posisi 36 yang sebelumnya menempati posisi 41.

Meski naik ke posisi 36, peringkat daya saing Indonesia masih dibawah 3 Negara tetangga di ASEAN yaitu Thailand yang berada di posisi 32, Malaysia di posisi 23, dan Singapura di posisi 3. Indikator penentu posisi tersebut diantaranya adalah pendidikan tinggi dan pelatihan, kesiapan teknologi, serta inovasi.

“Perlu kerja keras untuk mendongkrak posisi Indonesia mengalahkan Negara tetangga ASEAN lainnya, menjadi sangat mudah ketika hal tersebut masuk dalam agenda utama semua komponen bangsa, khususnya kalangan pendidikan tinggi “, tegas Menteri Nasir.

Pada acara ground breaking proyek pembangunan infrastruktur tersebut, Menteri Nasir pun memberi sinyal positif  terhadap rencana pembentukan program studi kedokteran di Untirta. Pasalnya tingkat kesehatan dan sanitasi masyarakat propinsi Banten masih jauh dari sempurna sedangkan sumber daya kesehatan yang ada sangat minim. Harapannya lulusan program studi kedokteran yang nanti akan dibuka dapat berperan aktif membantu masyarakat propinsi Banten dalam menangani sanitasi dan kesehatan di lingkungannya.

Selain Menristekdikti dan Rektor Untirta, turut hadir dalam acara ground breaking proyek pembangunan infrastruktur Untirta diantaranya, Direktur IsDB untuk Indonesia, Ibrahim Ali Sukri; Sekretaris Daerah Banten, Ino S Rawita; Bupati Kabupaten Serang, Ratu Tatu Chasanah; Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kemenristekdikti, Ani Nurdiani Azizah; Direktur Sarana dan Prasarana Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti, Sofwan Effendi; Perwakilan dari BAPPENAS, Perwakilan dari Kementerian Keuangan, Ketua MUI Banten, Kapolda Banten, Danrem 064 Maulana Yusuf, Jajaran DPRD Banten, dan para tamu undangan lainnya. (udn)