Resep Universitas Sumatera Utara Menjadi Research University Kelas Dunia

Rabu, 19 September 2018 | 12:35 WIB


Memasuki akhir Mei 2018, segenap civitas akademik Universitas Sumatera Utara (USU) patut berbahagia atas capaian yang telah mereka raih. Situs scopus.com merilis rekapitulasi publikasi di pangkalan data mereka terkait raihan jumlah jurnal yang berhasil dipublikasikan oleh perguruan tinggi di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Dari data yang tercantum menuliskan bahwa USU, kampus yang terletak di jantung Ibu Kota Sumatera Utara tersebut menempati peringkat teratas di Indonesia untuk penerbitan karya ilmiah di jurnal terindeks scopus sepanjang pertengahan tahun 2018. Tercatat hingga Mei 2018, jurnal yang telah dipublikasikan USU sebanyak 879 jurnal.

Menempati posisi teratas dalam hal publikasi ilmiah bukan hanya mengangkat nama USU di peta pendidikan Indonesia, tetapi juga mengangkat reputasi pendidikan di pulau Sumatera, yang selama ini kerap dianggap sulit bersaing dengan lembaga pendidikan tinggi di tanah Jawa. Untuk bisa mengangkat USU berada di jajaran perguruan tinggi terbaik Indonesia butuh perjuangan yang tidak mudah serta strategi yang jitu. USU berhasil melakukan itu semua.

Pada awal Permenristekdikti No. 20 ditetapkan, banyak kalangan akademisi di Indonesia melakukan penolakan terhadap aturan tersebut. Mereka menilai aturan yang tertuang dalam Permen tidak sejalan dengan tujuan pemerintah menyejahterakan pendidik dan dosen. Petisi penolakan dan kritik pun mulai bermunculan di surat kabar cetak, online, dan media sosial mainstream. Salah satu kampus yang vokal menentang peraturan tersebut adalah USU.  Namun, seiring waktu bergulir, penolakan terhadap Permenristekdikti mulai redam. Sebagian akademisi dari kalangan penentang peraturan tersebut mulai memilih jalan yang sesuai dengan titah tridarma pendidikan. Nama USU pun perlahan mulai hilang hingga pertengahan 2018, USU melejit, menjadi kampus di Indonesia dengan produktivitas publikasi yang tinggi. Ada sebuah kebijakan tak biasa yang dibentuk jajaran pimpinan di USU, sehingga gairah dosen dapat tersalurkan pada sesuatu yang sesuai.

Salah satu orang yang berada di balik itu semua adalah Drs. Mahyuddin K. M. Nasution, M.I.T., Ph.D., Wakil Rektor III Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerja Sama, sebagai salah satu sosok yang berperan penting mendongkrak prestasi USU di bidang penelitian. Berikut ini wawancara eksklusif Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti dengan Wakil Rektor III USU tentang perjalanan terbentuknya budaya meneliti di Universitas Sumatera Utara.

Sejak Permenristekdikti No. 20 disahkan pada awal 2017, banyak perguruan tinggi negeri di Indonesia menandatangani petisi penolakan dan USU merupakan salah satu kampus yang menandatangani petisi tersebut. Namun, seiring bergulirnya waktu, secara diam-diam ternyata banyak media memberitakan perihal prestasi yang diraih oleh USU di pertengahan 2018 dalam hal publikasi di jurnal terindeks Scopus. Bagaimana sih pola kepemimpinan di USU yang mampu mengelola isu publikasi ini sehingga dosen–dosen USU produktif dalam menghasilkan publikasi impersonal di jurnal bereputasi internasional?

Setelah kami duduk bersama dengan Pak Rektor dan semua tim di USU, pertama kali kita pelajari dulu apa yang sebenarnya terjadi di dalam universitas ini dan mengapa sebelum 2016, publikasi kami masih di angka 300. Kami pelajari apa sebabnya. Setelah lama mempelajari, baru kami tahu bahwa di sini banyak sekali kelemahan yang kami simpulkan, disebabkan oleh faktor kebiasaan. Selama ini, dosen kita terbiasa mengajar, bukan meneliti. Kenapa mengajar? Karena ini merupakan budaya yang sejak dulunya dianggap bahwa naik pangkat untuk menjadi profesor itu hanya cukup dengan menulis di satu tempat dan seminar sekian banyak. Hanya dengan begitu dosen bisa menjadi profesor. Itu kan budaya. Mindset ini yang harus kita ubah. Itulah hasil dari pembelajaran kami. Pertama, dosen kita tidak terlalu pandai menulis. Kedua, dosen kita terbiasa berbahasa Indonesia dan tidak terbiasa berbahasa Internasional. Akibat dua hal ini, publikasi kita tidak pernah naik. Maka, akhirnya kita membuat satu kebijakan. Pertama, kita bentuk satu tim yang bekerja khusus untuk mempelajari kebiasaan–kebiasaan dosen. Semula kami namakan klinik publikasi ilmiah. Sekarang, itu dipindahkan ke lembaga penelitian. Dalam perjalanannya banyak sekali tantangan yang kami hadapi. Perlu semacam pendekatan seperti dialog dan sosialisasi terus ke setiap unit. Kita buktikan pada segenap akademisi di USU melalui data–data capaian yang telah dilakukan universitas lain. Melalui pendekatan itu, akhirnya para akademisi di USU mulai mengungkapkan pendapat mereka terkait sarana-prasarana yang dibutuhkan. Begitu. Jadi, kita pelajari dulu kekuatan–kekuatan kita tentang pelaksanaan ini. Apakah dari segi jurnal atau dari segi konferensi? Seperti di universitas di Jawa. Ada yang kuat di konferensi dan ada yang kuat di jurnal. Setelah itu, kita mulai pelajari potensi dan kekurangan yang kita punya.

Setelah dipelajari urgensi apa yang ditemukan di USU?

Masalah memang ada di Bahasa Inggris. Maka, kita coba untuk memberikan solusi dengan membuat kebijakan melakukan konferensi agar iklim keilmuan secara perlahan mulai terbentuk. Hingga pada tahun 2017, tercatat kita sudah membuat 13 konferensi. Kini hampir semua fakultas mempunyai agenda menyelenggarakan konferensi. Bermula dari itu wawasan dosen di USU semakin terbuka. Tetapi, upaya kami tidak hanya sampai di situ. Ada unit KPI yang kami tugaskan untuk terus bekerja melihat persoalan yang terjadi di lingkungan. Selain itu, tim ini pula yang melakukan review pada setiap jurnal yang diproduksi. Semua jurnal yang dipublikasikan, kami berikan insentif. Ini jadi salah satu dorongan produktivitas dosen untuk meneliti.  Selain itu, sarana dan prasarana sudah kami siapkan. Jadi tidak ada lagi alasan untuk tidak menulis. Meskipun ada sebagian juga tidak mau menulis, tapi peningkatan penulisan atau orang yang menulis banyak, terutama pada mahasiswa kita. Selain itu kita melakukan sosialisasi pada mahasiswa, kalau tamat mereka mau jadi apa? Kami sampaikan pada mereka bahwa kita harus eksis. Kalau tidak eksis, ketika mereka tamat dan meraih gelar doktor, tetapi tidak ada bukti pernah menghasilkan karya, maka orang tidak akan mengenal mereka sebagai doktor. Dalam proses ini, dari awal KPI dibentuk, banyak anggota kita adalah anak muda. Karena gairah dan visi mereka masih sangat luar biasa. Awalnya kita targetkan dalam 1 tahun menulis 1 jurnal. Hingga secara perlahan, setelah menulis jadi sebuah kebudayaan di USU, akhir Mei 2018, akhirnya kita bisa berada di peringkat pertama. Meskipun secara keseluruhan, kita saat ini masih berada di posisi ketiga, di bawah UI dan ITB. Tapi itu cukup membanggakan.

Jadi, awalnya KPI dibentuk bukan hanya untuk dosen, ya, tapi juga mahasiswa?

Ya, betul. Kami akhirnya juga buat peraturan bahwa mahasiswa tidak akan lulus atau dapat ijazah kecuali telah mampu mempublikasikan karya ilmiah. Ini awalnya banyak penentangan. Tapi perlahan mereka mulai memahami bahwa peraturan ini dibuat demi kebaikan semuanya, terutama mereka. Toh, kita sudah sediakan sarananya, mereka hanya tinggal mengikuti.

Bapak sudah punya sarana-prasarananya dan ini sudah dirintis sejak lama, begitu pun dengan budayanya. Sepengetahuan kami, kampus besar itu terkenal dengan riset mercusuarnya. Nah, saat ini dunia sedang mengarah ke sana. Kalau USU sendiri, karena sudah menjadi PTNBH yang notabenenya identikkan dengan research university, pastinya tidak akan lagi menggantungkan kepada study body biasanya. Ke mana arahnya, Pak, jika merujuk pada jurnal yang telah dipublikasikan saat ini sudah terlampau banyak.

Sebenarnya begini, kita sudah ada renstra yang sudah dibentuk oleh senat sejak dulu. Renstra itu memiliki fokus yang harus dilakukan oleh universitas. Nama renstra itu, kami singkat dengan nama “Talenta”, termasuk riset juga ada di situ. Kepanjangannya adalah tropical design, agro industry, local wishdom, engineering, energy, technology dan art. Semuanya sudah ada di renstra dan merupakan fokus kita. Renstra ini sendiri sudah ada tim pengkajinya. Jadi, dalam melihat jurnal–jurnal yang dipublikasi pun kita tidak sembarangan. Bahkan kita lihat dari segi kelengkapan lab penelitian. Itu kan sebenarnya masih lemah. Kita juga harus punya strategi. Jika melakukan kolaborasi dengan orang luar, maka tulisan kita harus kuat dengan sesuatu yang sifatnya lokal. Kami sedang membangkitkan itu sekarang. Karena hal yang berbau lokal memiliki nilai jual yang tinggi. Banyak orang yang tidak tahu tentang hal itu. Di kesempatan sosialisasi pun kami mengarahkan begitu. Karena kita sadar, kita sulit bersaing di bidang hukum yang sifatnya internasional. Maka itu, kita mulai naikkan topik perihal hukum adat. Akhirnya banyak juga dosen–dosen hukum yang mengambil topik hukum adat. Jurnal yang mereka tulis hukum-hukum internasional, tapi dibandingkannya dengan hukum adat. Sebagai informasi, rektor kita saat ini adalah ahli hukum adat.

Apa semuanya diarahkan ke talenta?

Semua diarahkan ke talenta. Jadi produk kita pun sedang diarahkan ke produk lokal. Misalnya sabun dan sampo, itu kami hasilkan dari bahan-bahan yang bersifat parfum. Segala macam riset yang mengarah ke sana, sudah kami coba hilirisasi. Ada juga dosen kita yang secara mandiri langsung datang ke masyarakat. Mereka buat sesuatu yang diperlukan masyarakat. Salah satu contohnya adalah mesin pengupas pinang. Oleh dosen kami, itu dibuat sendiri. Kabar saat ini alat tersebut sudah didaftarkan ke LIPI dan kerap masuk ke dalam buku 100 inovasi masa kini. Sebenarnya, kenapa kita dulu itu termasuk perguruan tinggi yang lemah dalam hal publikasi, itu karena tidak adanya koordinasi antara lembaga di universitas. Setiap lembaga berjalan masing-masing. Setiap tahunnya, kami mempunyai UKM. Ada banyak sekali UKM yang kita bina. Itulah cikal-bakal kita melakukan bimbingan kepada mahasiswa yang punya potensi jadi pebisnis. Sudah ada produk yang dihasilkan. Sebagian malah sudah banyak dijual ke masyarakat.

Apakah ada kolaborasi penelitian dengan universitas lain?

Tentu, kami ada kolaborasi. Salah satunya dengan alumni kita yang saat ini berada di Malaysia dan dengan alumni yang berada di perguruan tinggi lainnya.

Keterlibatan antar-fakultas di USU dalam proses penelitian ini ada apakah ada?

Ada. Jadi kawan-kawan satu grup kelompok keilmuan yang sudah punya publikasi, kita kelompokkan. Kami tawarkan pada mereka apakah mau membuat cikal bakal dari pusat unggulan? Sampai saat ini kita sudah membentuk 14 pusat unggulan. Satu pusat kajian yang sudah mempunyai produk unggulan adalah bidang pangan. Selain untuk mempercepat publikasi dan percepatan untuk paten dan percepatan untuk produk, kalo tidak ada pusat kajian ini, toh juga publikasi bakal mandek. Jadi kerja sama antar-fakultas sudah terjadi di pusat kajian itu.

Kalau kolaborasi antar-kelompok dan dosen sudah ada?

Ada. Biasanya mereka cari sendiri kawannya. Sebenarnya masalah kolaborasi di USU adalah karena masalah suku. Terkadang ada yang sesama suku, tetapi tidak mau dekat. Tapi itu bukan jadi masalah berarti. Karena pada akhirnya kerja sama tetap berjalan dan berhasil menghasilkan suatu produk. Saat ini kita ada tiga projek kerja sama, salah satunya kerja sama di bidang pariwisata untuk mengembangkan danau toba. Jadi, dengan adanya ini, kami dapat memastikan bahwa perbedaan suku bukan masalah berarti dalam hal kolaborasi. (Iqb/Editor)