Proyek 4in1, Momentum Revitalisasi LPTK di Universitas Negeri Malang

Selasa, 18 September 2018 | 10:24 WIB


MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menjadi perguruan tinggi kedua yang melaksanakan groundbreaking Proyek 4in1 Islamic Development Bank (IsDB), setelah beberapa waktu lalu kegiatan serupa dilaksanakan di Universitas Mulawarman (Unmul). Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir bersama Residence Representative South East Asia Regional IsDB, Ibrahim Ali Shoukry, didampingi oleh Rektor UM dan sejumlah jajaran pejabat Kemenristekdikti membunyikan tombol sirine secara bersamaan serta pecah kendi sebagai tanda dimulainya pembangunan dua gedung kuliah bersama UM.

Melalui Proyek 4in1 bersama IsDB, UM mengemban tugas sebagai pusat unggulan inovasi pembelajaran atau center of excellence (CoE) learning innovation. Dalam Proyek 4in1 ini, UM mendapat kucuran dana senilai 48,2 juta USD yang digunakan untuk hard program dan soft program. Dengan dana sebesar itu, Menteri Nasir mengingatkan kepada tim Project Ilmplementation Unit (PIU) UM dan tim teknis proyek untuk melakukan pengawasan selama proses pembangunan infrastruktur.

“Kita semua berharap Investasi ini menjadi modal sebagai upaya meningkatkan daya saing bangsa dalam memasuki era Revolusi Industri 4.0. Perguruan tinggi perlu terus berupaya meningkatkan sinergi dengan pelaku industri dan masyarakat. Sinergi ini akan memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan bangsa dan menjawab permasalahan yang dihadapi bangsa,” ujar Menteri Nasir pada acara Groundbreaking Pembangunan Gedung Kuliah Bersama UM, Malang (17/9).

Selama proses pembangunan berlangsung, Menteri Nasir menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam proyek 4in1 tidak boleh ada yang mengambil keuntungan sendiri. Menurut dia, perencanaan menjadi poin yang harus diawasi dengan mengacu pada empat komponen tata kelola (good governance), meliputi transparansi, kejujuran, akuntabel, dan tanggung jawab.

Lebih lanjut, Menteri Nasir memaparkan terkait pentingnya peran UM sebagai pusat unggulan inovasi pembelajaran. Revolusi industri 4.0, ucap Menteri Nasir, telah menggeser berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, termasuk pada sektor pendidikan tinggi. Pembelajaran akan bertransformasi dari sebelumnya secara konvensional di dalam kelas, menjadi pembelajaran daring.

“Learning innovation menuju pada mahasiswa yang dapat melakukan problem solving, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada dosen. Dengan begitu pada pembelajaran ke depan bukan tak mungkin satu profesor dapat mengajar 1.000 mahasiswa karena pembelajaran dilakukan secara daring, yaitu classroomless dan borderless. Saya berharap bahwa melalui Proyek 4in1 IsDB ini UM mampu menjadi leader di bidang learning innovation,” imbuh Menteri Nasir.

Dikukuhkannya UM sebagai CoE Learning Innovation dalam proyek 4in1 juga menjadi salah satu upaya revitalisasi Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Tanah Air. Rektor Universitas Negeri Malang (UM) AH. Rofi’uddin menjelaskan, untuk lingkungan regional Asia Tenggara, LPTK di Indonesia harus bisa menyiapkan lulusan yang bisa bersaing dengan lulusan pendidikan guru dari negara lain di wilayah ini.

“Oleh karena itu, melalui Project 4in1 IsDB ini, UM sebagai Center of Excellence untuk LPTK di Indonesia akan dan terus mempertajam kompetensi lulusan, tidak hanya kompetensi yang dipersyaratkan oleh Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, namun juga mengacu pada AQRF (Asean Qualification Reference Framework),” kata Rektor UM.

Pembangunan dua Gedung Kuliah Bersama atau Integrated Classroom Buildings UM sendiri berada di atas lahan seluas 3,4 Ha, dengan luas lantai total 44.917 m2. Adapun masing-masing gedung tersebut akan dibangun sembilan lantai dengan layout yang saling berhadapan.

“Pembangunan dua gedung kuliah ini merupakan implementasi dari komponen hard program. Sementara pada komponen soft program, kami telah mengirim 20 dosen untuk melanjutkan studi doktoral ke luar negeri, menyelenggarakan program-program non-gelar di dalam dan luar negeri, pengembangan kurikulum, program transfer kredit, program akreditasi internasional, hibah penelitian, dan konsorsium penelitian,” terang Rofi’uddin.

Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum adalah tulang punggung inovasi pembelajaran. Bagi UM, Proyek 4in1 IsDB merupakan momentum yang sangat baik dalam rangka merombak, merevitalisasi, dan mengembangkan kurikulum agar adaptif dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21, serta mampu menjawab kebutuhan generasi unggul pada era Revolusi Industri 4.0.

Tiga perguruan tinggi lainnya yang masuk dalam Project 4 in 1 IsDB adalah Universitas Jember (Unej), Universitas Mulawarman (Unmul), dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Setiap perguruan tinggi memiliki CoE dengan tema spesifik yang harus dikembangkan berdasarkan kekuatan dan potensinya. Unej mengembangkan CoE untuk Bio-Technology, Unmul membangun CoE untuk Tropical Studies, sedangkan Untirta akan menjadi CoE untuk Food Security.

Terkait pembangunan empat CoE dalam Proyek 4in1 tersebut, Residence Representative of South East Asia Regional Hub IsDB, Ibrahim Ali Shoukry mengatakan bahwa IsDB berperan aktif mendukung pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan tinggi. Ibrahim mengatakan, sejauh ini IsDB telah bekerjasama dengan 50 perguruan tinggi di Indonesia baik negeri maupun swasta. Proyek 4in1 di UM, imbuh dia, diharapkan dapat menghasilkan riset dalam bidang inovasi pembelajaran untuk mendukung Sustainable Development Goals di Indonesia. Project 4in1 juga bertujuan menyediakan fasilitas pendidikan yang mumpuni untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif.

Selain Menristekdikti, turut hadir dalam acara Groungbreaking Proyek Pembangunan Dua Gedung Kuliah Bersama UM, di antaranya Sekretaris Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, John Hendri; Direktur Sarana dan Prasarana Ditjen SDID, Sofwan Effendi; perwakilan Pemerintah Kota Malang dan Batu, sejumlah rektor di perguruan tinggi sekitar Malang; civitas akademika UM; dan tamu undangan lainnya.