Menteri Bambang Ajak Diaspora Indonesia Meniru Diaspora Korea

Selasa, 14 Agustus 2018 | 12:12 WIB


JAKARTA – Kemeriahan acara Simposium Cendikia Kelas Dunia belum usai. Salah satunya juga diikuti oleh Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro yang mengisi kuliah umum, Senin (13/8/2018) di Royal Kuningan Hotel, Jakarta.

Bambang menjelaskan tantangan pendidikan tinggi di era knowledge based economy. Dia bertanya mengapa Korea Selatan dan Vietnam menjadi negara yang cepat bertransformasi? Korea dan Vietnam menjadi negara yang sudah bertransformasi sangat jauh dari Indonesia. Kedua negara tersebut sangat maju dalam investasi, sedangkan Indonesia masih tertinggal.

Ia menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia bagi Indonesia. Beberapa negara yang cakap dalam memanfaatkan para ilmuwan diasporanya adalah Korea Selatan dan Vietnam. Menteri Bambang juga berpendapat, kedua negara tersebut secara historis hampir sama dengan Indonesia. Tetapi mereka mampu menangkap potensi dan peluang ilmuwan diasporanya untuk berkontribusi sehingga mampu meningkatkan ekonominya.

“Salah satu faktor transformasi mereka cepat adalah adanya kehadiran diaspora yang menjadi pemicu percepatan. Kualitas manusia menentukan negara maju atau tidak. Indonesia harus mengejar agar pembangunan infrastruktur memberikan nilai tambah maksimal. Research and development juga perlu terus dikembangkan,” kata Menteri Bambang.

Pemanfaatan diaspora oleh beberapa negara asing sudah sering terjadi. Sebagai contoh, kata Bambang, seperti India, Korea Selatan dan Vietnam. Pemerintah Indonesia, lanjutnya, saat ini berkeinginan untuk berkolaborasi dengan para diaspora yang masih tersebar pada beberapa negara itu.

Bambang juga mencerita pengalamannya semasa kuliah di Amerika. Di sana ia banyak bertemu dengan orang Korea, baik Korea tulen atau pun blasteran.  Orang-orang Korea, lanjutnya, setelah menyelesaikan studi, mereka semua pulang ke Korea dan membantu pembangunan negaranya. “Yang lebih menarik lagi adalah setelah beberapa dari mereka lulus, akan ada orang Korea baru yang melakukan studi, dan begitu seterusnya. Jadi setelah melahirkan S3, mereka tidak berhenti malah terus meregenarasi,” tutur Bambang.

Kemudian setelah lulus, lanjut Bambang, akan banyak tantangan setelah diaspora pulang kampung. Tantangan terberat adalah atmosfer pendidikan yang berbeda. Di kampung halaman itu atmosfernya cenderung kurang inovatif dan kompetitif. Namun, “Di Korea itu benar-benar dijaga atmosfernya salah satunya dengan cara tanpa henti mengajak orang-orang Korea untuk penelitian dan sebagainya,” kenang Bambang. Hal sederhana itu lah yang membuat Korea tak hanya cepat dalam hal pembangunan, melainkan juga dalam hal pendidikan yang layak Indonesia tiru.

Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan itu mengatakan peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas RPJM. Kemudian langkah sebelum mengembangkan SDM adalah dengan percepatan pembangunan infrastruktur yang memadai. Bila pembangunan infrastruktur rampung, ini diyakini akan mampu menopang berbagai sektor yang akan meningkatkan daya saing bangsa dan negara.

“Yang jelas infrastruktur itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berbagai kegiatan yang mampu memberikan value addict dan kompetitif,” kata Bambang. Beranjak pada pendidikan, menurut Bambang, ada dua hal yang mesti segara diperbaiki pada pendidikan agar kita bisa mengejar ketertinggalan. Satu, kita cenderung menjadikan pendidikan tinggi itu sebagai kelanjutan dari jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Jadi yang bilang orang bahwa lulusan SMA itu harus ke universitas itu tidak ada rumusnya. Karena pendidikan negeri itu prinsipnya beda, pendidikan tinggi itu mencetak sebagai manusia yang siap untuk bekerja maupun siap untuk menjadi pengusaha. Pendidikan menengah bukan berarti kita pindah ke pendidikan tinggi, buktinya pendidikan tinggi spesialis,” ujarnya.

Kedua yang harus diperbaiki, lanjut Bambang adalah pendidikan tinggi harus memberi dampak lebih pada bangsa. Diharapkan semua universitas memberikan impact yang positif dan membangun hal spesialisasi dari universitas tersebut.

“Saya harapkan peran diaspora Indonesia saat ini, seperti diaspora Korea dan Vietnam. Karena Vietnam memberikan lompatan yang luar biasa bagi diaspora, saya kurang tahu mengenai dibidang ilmuwan yang saya tahu dibidang pengusaha, karena yang saya tahu Vietnam itu bisnisnya luar biasa, sebagian besar pengusahanya merupakan orang-orang yang berkembang,” ujarnya. []