SCKD 2018, Sri Mulyani: Indonesia Butuh Lebih dari Anggaran untuk Pengembangan SDM

Senin, 13 Agustus 2018 | 20:45 WIB


JAKARTA – Indonesia tengah mengejar ketertinggalan pembangunan, maka aset yang paling penting dalam segala aspek pembangunan adalah aset manusianya. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum dalam acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018, Senin (13/8/2018) di Royal Kuningan Hotel, Jakarta. Dihadapan 48 ilmuwan Diaspora Indonesia dan perwakilan perguruan tinggi, Sri Mulyani mengatakan pemerintah tengah fokus dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Ini adalah suatu era di mana Indonesia menempatkan manusia dengan pembangunan manusia sebagai prioritas yang besar, karena saya yakin bahwa Indonesia tidak mungkin untuk mencapai cita-cita kemerdekaan yang disampaikan para pendiri bangsa kita untuk selalu menjaga pemerintahan, kedaulatan, kedamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Tentu dengan kapasitas manusia yang tak hanya mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi yang mampu memimpin banyak orang. Terlebih lagi Indonesia akan memiliki bonus demografi dengan usia muda yang melimpah. Itu menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan pembangunan. Bonus demografi ini harus dioptimalkan dengan baik, apalagi Indonesia diprediksi menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima pada 2045.

“Dengan penduduk yang besar memberikan semacam kesempatan untuk mengejar tujuan pembangunan yang kita capai, maka investasi di bidang manusia jadi prioritas pemerintah sampai 2045,” ujarnya.

Sejak tahun 1998, lanjut Sri Mulyani, negara berkewajiban untuk menyisihkan minimal 20 persen dari APBN untuk pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM bangsa. Meski demikian, dia mengakui bahwa penggunaan anggaran masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan optimal.

Memang anggaran APBN untuk pendidikan menjadi anggaran terbesar. Namun Sri Mulyani mengingatkan bahwa pembangunan kualitas manusia tak hanya direflesikan dengan besarnya jumlah anggaran saja.

Salah satu upaya pemerintah adalah dengan membangun infrastruktur secara merata. Karena semua manusia terutama masyarakat Indonesia tengah dihadapkan pada era teknologi yang serba cepat, maka tercukupinya infrastruktur yang memadai akan sangat berpengaruh untuk pembangunan negara dan bangsa ini.

“Membangun infrastruktur bukan lah hobi, melainkan ini adalah ketertinggalan sekaligus kebutuhan yang tak bisa ditunda. Ini adalah keniscayaa dari suatu negara untuk mencapai peningkatan kualitas manusia,” tegas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Pada kesempatan itu juga Sri Mulyani mengungkapkan pentingnya kolaborasi antar ilmuwan dalam dan luar negeri. Seorang individu, imbuhnya, relatif lebih mudah untuk menjadi pintar. Sedangkan untuk menghasilkan jutaan manusia jenius di suatu bangsa merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama-sama.

Sri Mulyani pun menyadarai ilmuan diaspora yang kini hadir hanya lah sedikit dari lapisan masyarakat Indonesia yang memiliki kualifikasi di atas rata-rata. “Para cendekia, ilmuwan diaspora harus menjadi role model dan inspirator, menyelesaikan pekerjaan rumah negara. Seperti infrastruktur yang pembangunannya sedang dikejar saat ini harus dibangun berkelanjutan,” sebutnya.

Ia berharap para insan cendekia ini mampu menjadi pemikir dalam mencari solusi bagi Indonesia. Sebab kini kita dihadapkan pada dunia yang terus bergerak secara cepat. “Indonesia membutuhkan manusia seperti di rungan ini (ilmuan diaspora), tapi dikalikan 200 juta kali,” tutup Sri Mulyani. (Alawi)