48 Ilmuwan Diaspora Hadir Mengikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 19:56 WIB


JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memastikan sebanyak 48 orang ilmuwan diaspora akan hadir dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) di Jakarta pada 12-18 Agustus 2018. Para ilmuwan diaspora tersebut berasal dari 11 negara, meliputi Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Australia, Inggris, Swedia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Selama kurang lebih sepekan, mereka diwajibkan untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersinergi menjalin relasi, serta berkolaborasi menghasilkan joint research, joint publication bersama ilmuwan dalam negeri, serta membuka kesempatan short course di luar negeri.

Terkait pelaksanaan SCKD Tahun 2018, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menyatakan bahwa program ini bukan sekadar mengembangkan ilmu pengetahuan Indonesia, tapi mempererat tali kebangsaan. Pasalnya, masing-masing ilmuwan diaspora akan disebar ke berbagai daerah di Tanah Air untuk bertemu dan menjalin kerja sama, baik dengan mitra risetnya di Indonesia maupun dengan akademisi di perguruan tinggi tujuan. Setidaknya, terdapat 55 perguruan tinggi yang akan dikunjungi para ilmuwan diaspora ini.

“Hal ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan itu justru merekatkan, bukan malah menyekatkan. Program bersama ilmuwan diaspora ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pengembangan SDM Indonesia dengan melibatkan seluruh komponen anak bangsa di mana pun mereka berada,” ujar Dirjen Ghufron, Sabtu (11/8).

Dirjen Ghufron menjelaskan, para ilmuwan diaspora yang hadir telah diseleksi secara ketat dengan melibatkan peran Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4). Kegiatan SCKD sendiri mendapat antusiasme tinggi dari para ilmuwan diaspora. Tercatat, sejak dibuka pendaftarannya pada bulan Juni silam, ada 120 ilmuwan diaspora mendaftar program ini. Dengan begitu, ucap Dirjen Ghufron, para ilmuwan diaspora yang telah sukses berkarier di luar negeri tersebut memiliki hasrat untuk tetap mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

“Mereka ini datang ke Indonesia tidak hanya untuk pulang kampung, berbincang dengan akademisi dan ilmuwan Indonesia mengenai pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ikut berkontribusi menyusun rekomendasi kebijakan pembangunan SDM Indonesia,” kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Tahun ini merupakan kali ketiga Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti menyelenggarakan kegiatan SCKD. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan pada tahun 2016 dengan nama Visiting World Class Professor. Kemudian pada tahun 2017 berubah menjadi Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) hingga saat ini. Ilmuwan diaspora yang dihadirkan pun tidak serta-merta orang yang sama. Bahkan, kali ini banyak wajah baru yang diberi kesempatan mengikuti SCKD Tahun 2018.

“Banyak ilmuwan diaspora yang hadir adalah mereka yang masih muda. Kendati demikian, prestasi dan sepak terjangnya sudah luar biasa, bahkan diakui oleh dunia. Para anak muda inilah yang memiliki kesempatan panjang untuk membawa Indonesia ke puncak ilmu pengetahuan dunia,” imbuh Dirjen Ghufron.

Para ilmuwan diaspora yang terpilih sudah memiliki jabatan akademik minimal assistant professor di institusinya. Tercatat, ada tujuh orang assistant professor, 14 orang associate professor, 10 orang profesor, dan sisanya merupakan senior lecturer yang telah menjadi academic leader, seperti dekan atau kepala pusat riset, serta ada pula yang menjadi peneliti profesional. Sedangkan dari latar belakang bidang keahlian cukup beragam, dari mulai kedokteran, biologi molekular, energi, teknik kimia, teknik elektro, farmasi, tata kota, pangan, kemaritiman, dan masih banyak lagi, termasuk bidang ilmu sosial.

Berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sebelumnya, SCKD telah memberikan impak positif, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kolaborasi antara ilmuwan diaspora dengan akademisi dalam negeri telah menghasilkan puluhan joint research dan joint publication di jurnal-jurnal internasional bereputasi. Tak hanya itu, sejumlah ilmuwan diaspora juga memberi kesempatan untuk mobilisasi dosen Indonesia ke perguruan tinggi kelas dunia. Di sisi lain, terbangun pula jembatan komunikasi yang berkelanjutan antara para ilmuwan diaspora dengan akademisi Indonesia.

“Hubungan dan jaringan itulah yang terus dibina dan dipelihara. Segenap bangsa Indonesia harus merapatkan barisan, menyamakan derap langkah untuk menghadapi persaingan sehingga mewujudkan Indonesia yang lebih cerah di masa depan,” tukas Dirjen Ghufron. (Ira)