Diaspora Indonesia: Jalan Lain Membangun Bangsa

Senin, 9 Juli 2018 | 18:25 WIB


Peran dan fungsi Ilmuwan Diaspora Indonesia selama ini acapkali luput dalam sudut pandang masyarakat kita. Padahal inovasi dan publikasi mereka dalam peta ilmu pengetahuan dunia tak bisa diabaikan. Bukan hanya sekadar dikutip atau dijadikan inspirasi, karya-karya atau publikasi para Ilmuwan Diaspora Indonesia sudah banyak dipatenkan menjadi produk bernilai tinggi. Tanpa kita sadari apa yang telah ilmuwan diaspora lakukan di luar sana, secara perlahan turut mengangkat derajat bangsa Indonesia di muka dunia.

Kiprah ilmuwan diaspora di luar sana mengingatkan kita bahwa konteks mengabdi pada negara tidaklah sesempit yang selama ini kita kira. Bahwa mengabdi seharusnya bisa kita lakukan dengan cara apa pun dan dalam bentuk apa pun. Ada yang mencintai Indonesia dalam diam; dalam keheningan; dalam hingar bingar; dan dalam api kepopularitasan. Hal tersebut bukan sebuah persoalan berarti. Hal yang paling penting dari semua itu sebenarnya ialah adanya kesadaran bahwa kita telah sama-sama tahu bahwa kita sama mencintai Indonesia. Kita tidak harus selalu berada di Indonesia untuk menunjukkan kecintaan kita pada negara. Itulah yang selama ini dilakukan ilmuwan diaspora. Meneliti, berinovasi, dan mempublikasikannya di jurnal bereputasi adalah cara mereka mencintai negaranya, Indonesia.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti, ketika diminta pendapat tentang Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018, ia mengatakan bahwa program ini (SCKD) dapat diibaratkan sebuah jembatan bagi ilmuwan diaspora untuk kembali mengenal dunia keilmuan di negara mereka sendiri dan ilmuwan dalam negeri untuk mengenal dunia keilmuan di luar negeri.

“Ilmuwan diaspora merupakan jembatan yang akan membawa ilmuwan dalam negeri menuju gerbang pengetahuan dunia. Keberadaan mereka juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat bertanya sekaligus berlindung oleh anak bangsa yang pergi menuntut ilmu ke negeri tempat mereka tinggal,” tuturnya.

Dirjen Ali menambahkan bahwa sebenarnya sejak dahulu ilmuwan diaspora itu sudah ada. Hanya saja kita yang terlambat menyadari keberadaan mereka sebagai garda depan bagi pembangunan bangsa. Andai saja kesadaran memanfaatkan diaspora ini muncul sejak lama, mungkin Indonesia sudah menjadi negeri adidaya.

Sejak pertama kali diselenggarakan oleh Kemenristekdikti dengan nama Visiting World Class Professor (2016) dan dilanjutkan dengan Simposium Cendekia Kelas Dunia (2017), program ini bukan sekadar ajang silaturahmi antara ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri. Melainkan program yang bertujuan menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih, seperti joint research, joint publication, postdoctoral bagi mahasiswa Indonesia atau bersedia melakukan pembinaan penelitian di kampus lokal di Indonesia. Selain itu program ini juga diharapkan dapat melahirkan sebuah inovasi yang tidak hanya berguna bagi bangsa sendiri, tetapi juga bagi bangsa di dunia.

Dalam dunia pendidikan di era revolusi industri 4.0, banyak perguruan tinggi di luar negeri telah mengubah arah bisnis mereka yang semula fokus mencetak kebutuhan tenaga kerja, kini beralih pada penguatan sumber daya riset dan inovasi yang sesuai dengan tridarma pendidikan tinggi. Karena itu penyelenggaraan SCKD 2018 dinilai menjadi kesempatan terbaik bagi sivitas akademik perguruan tinggi dalam negeri untuk belajar tentang bagaimana menjadikan riset sebagai agenda utama bisnis kampus di masa depan.

Ketua terpilih Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Alan Koropitan, ketika diminta pandangannya tentang ilmuwan diaspora mengatakan bahwa anak bangsa yang di luar negeri dan berada di universitas terbaik dengan posisinya yang strategis adalah modal bagi Indonesia untuk berbenah membangun dirinya. Ia berharap pemerintah dapat mengoptimalkan keberadaan ilmuwan diaspora bagi kemakmuran bangsa Indonesia.

“Hal paling utama yang saat ini dapat dilakukan dengan diaspora ialah mengelola jaringan kerja sama. Kalau kita menginginkan hal demikian, caranya adalah dengan kita memulainya segera. Setelah kesepakatan kerja sama terjalin, maka selanjutnya harus ada tahapan bagaimana cara mengelola jalinan tersebut,” pungkasnya.

Menurut Alan, ujungnya adalah bagaimana cara mereka bisa berkontribusi nyata dalam menjawab permasalahan bangsa. Kita bisa belajar ke India, China, Korea Selatan atau Jepang bagaimana cara mereka mengelola diaspora. Contohnya adalah bagaimana India bisa membuat silicon valley baru di India melalui diasporanya dan China bisa memfasilitasi para ilmuwan diaspora mereka kembali. Negara mereka ada untuk para diasporanya. Maka dari itu diaspora mereka merasa tenang berkarya dan berinovasi di luar negeri.

Saat ini Kemenristekdikti telah menominasikan 52 ilmuwan diaspora dari 12 negara dunia yang bekerja di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia untuk diundang dalam program SCKD 12—18 Agustus 2018. Para ilmuwan diaspora ini rencananya sudah tiba di Indonesia sejak tanggal 11 Agustus 2018. Dari total keseluruhan peserta undangan beberapa di antaranya sudah ada yang pernah mencicipi program WCP (2016) dan SCKD (2017). Nominasi ini sendiri ditentukan bukan berdasarkan pada status dan posisi mereka di perguruan luar negeri tempat mereka bekerja. Melainkan pada kiprah dan pengabdian Ilmuwan Diaspora Indonesia kepada bangsanya, baik dalam hal penelitian, inovasi, maupun publikasi. (Iqbal)