Writingthon Dikti: Mengharumkan Citarum Melalui Tulisan

Jumat, 29 Juni 2018 | 18:30 WIB


JAKARTA – Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan peneliti mengikuti Writing Marathon (Writingthon) Dikti  yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti bekerja sama dengan Bitread, 28—30 Juni 2018. Kegiatan kompetisi menulis bertajuk “Indonesia untuk Citarum Harum” ini masih merupakan rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Kemenristekdikti yang mengangkat tema serupa. Nantinya, hasil tulisan para peserta yang tersebar dari Aceh hingga Kolaka ini akan dibukukan menjadi sebuah antologi dan akan diterbitkan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional pada 10 Agustus 2018.

Kompetisi Writingthon Dikti ini mendapat antusias besar di kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Tercatat sebanyak 223 peserta mendaftarkan diri pada kompetisi ini. Namun, hanya 20 orang yang akhirnya terseleksi sebagai pemenang. Sebelum tulisannya diterbitkan, para peserta terlebih dahulu diberi workshop terkait Citarum Harum oleh berbagai narasumber, yakni Direktur Pembelajaran, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, MP; Peneliti dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Parikesit, M.Sc., Ph.D; dan Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan.

Kegiatan workshop dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D. Ia mengatakan, bahwa permasalahan Citarum merupakan permasalahan bersama. Ia menambahkan bahwa alasan mengapa Citarum dijadikan tema dalam penyelenggaraan Hardiknas bertujuan mengajak para pakar di Indonesia untuk berkontribusi mengatasi masalah ini.

“Permasalahan Citarum merupakan permasalahan yang klasik. Bertahun-tahun masalah ini tidak pernah terselesaikan. Inti masalahnya sendiri sebenarnya bukan hanya ada pada sungai, melainkan pendidikan. Persoalan lainnya adalah sikap dan rasa memiliki terhadap Citarum yang sangat minim,” imbuhnya.

Di sisi lain, Direktur Pembelajaran, Paristiyanti mengungkapkan bahwa permasalahan di DAS Citarum sangat kompleks. Kendati demikian, sektor pendidikan tinggi memiliki potensi besar untuk berkontribusi mewujudkan Citarum Harum. Kemenristekdikti, ucap dia, mulai tahun ini sudah menerapkan kuliah kerja nyata (KKN) tematik bagi para mahasiswa di sepanjang DAS Citarum. Para mahasiswa inilah yang diharapkan mampu mengubah pola hidup masyarakat yang kurang sehat.

“Meski limbah industri sangat mencemari sungai, tetapi yang memiliki andil paling besar dalam pencemaran Sungai Citarum adalah limbah domestik dari masyarakat itu sendiri. Sehingga tugas kita yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi adalah membantu mengubah pola hidup masyarakat menjadi sehat dan peduli lingkungan. Saudara sekalian saya harapkan dapat menuliskannya dalam buku dengan baik sehingga seluruh kalangan dapat memahami permasalahan ini,” sebutnya.

Program Citarum Harum sendiri sudah menjadi prioritas pemerintah yang tertuang dalam Perpres Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Paristiyanti menambahkan, Kemenristekdikti telah mengklasifikasikan upaya jangka pendek, menengah, dan panjang untuk kembali membersihkan Sungai Citarum. Reboisasi atau penghijauan juga telah dilakukan dengan penanaman bibit kopi di sepanjang DAS Citarum.

“Kami bersama sejumlah kementerian lain sudah mendapat arahan dari Bapak Luhut Binsar Panjaitan yang berperan sebagai komandan dalam program ini, yaitu tujuh tahun mewujudkan Citarum Harum. Bapak Menristekdikti sudah memetakan, ada target dua tahun yang dicapai: lima tahun untuk jangka menengah dan tujuh tahun target jangka panjangnya. Hal yang lebih penting ialah keberhasilan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari tulisan yang dihasilkan oleh Saudara sekalian,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, peneliti Unpad, Parikesit yang sudah puluhan tahun melakukan riset di DAS Citarum menceritakan pengalamannya kepada para peserta. Menurutnya, persoalan di Sungai Citarum tidak dapat diselesaikan oleh ahli lingkungan saja, tetapi juga membutuhkan pendekatan, sinergi, dan kolaborasi trans-disiplin dari berbagai bidang, termasuk sosial, ekonomi, dan ekologi.

“Butuh kolaborasi dan sinergi untuk bisa membuat Citarum kembali harum,” pungkasnya.

Dalam kegiatan ini, peserta Writingthon Dikti diterangkan, bahwa terdapat beragam jenis sinergi dan kolaborasi untuk menjadikan Citarum kembali Harum. Penerbitan antologi Citarum Harum adalah salah satunya. Penerbitan buku ini menjadi alternatif bagi khalayak luas untuk ikut membantu pemerintah membuka wawasan warga tentang pentingnya menjaga alam, baik itu gunung, hutan, maupun sungai. [] (Ira/Iqbal)