Penelitian di Luar Negeri, Peserta PMDSU Wajib Rampungkan Publikasi Internasional

Senin, 25 Juni 2018 | 19:39 WIB


JAKARTA – Sebanyak 57 peserta program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) berkesempatan melakukan penelitiannya di luar negeri. Melalui skema beasiswa Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) atau dikenal dengan program Sandwich like, mereka akan menjajal laboratorium canggih di perguruan tinggi terbaik, bahkan berkesempatan mendapat supervisi dari profesor kelas dunia selama tiga sampai enam bulan.

Sebelum keberangkatan, para peserta PKPI PMDSU wajib mengikuti lokakarya pra keberangkatan yang dihelat oleh Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti. Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menegaskan bahwa kesempatan emas ini harus menjadi wahana bagi para peserta untuk menghasilkan publikasi internasional di jurnal bereputasi. Apalagi, selama studi Magister dan Doktor dalam jangka waktu empat tahun, setiap mahasiswa PMDSU ditargetkan menyelesaikan minimal dua publikasi.

“Kesempatan ini patut disyukuri dengan cara disiplin dan serius. Jangan sampai Anda berangkat tidak siap, hanya membayangkan ke luar negeri saja. Sebab, yang terpenting adalah apa yang kalian bisa dapatkan selama meneliti di laboratorium canggih di sana,” ucap Dirjen Ghufron di Hotel Grandhika, Jakarta, Senin (25/6).

Dirjen Ghufron menjelaskan, dalam kaitan menulis publikasi internasional, para peserta juga diimbau tidak lupa untuk mensitasi tulisan-tulisan ilmuwan dalam negeri yang masih relevan atau berhubungan dengan topik penelitiannya. Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berpendapat, banyak tulisan ilmuwan dalam negeri yang layak untuk disitasi, bahkan kualitasnya pun tidak kalah dengan tulisan ilmuwan dari negara-negara lainnya. Dengan begitu, turut mendongkrak ranking perguruan tinggi Indonesia melalui sitasi.

“Kembangkan diri Anda semaksimal mungkin. Kenalkan kepada para peneliti dunia bahwa di Indonesia banyak sekali hal yang bisa diteliti. Karena itu akan membuka peluang untuk penelitian bersama. Selain itu, kemukakan ide penelitian yang Anda tawarkan untuk penelitian lanjutan,” imbuhnya.

Hal terpenting lainnya, lanjut Dirjen Ghufron, yakni memahami dan mengenalkan berbagai program unggulan yang dimiliki oleh Kemenristekdikti. Pasalnya, para peserta PKPI in juga menjadi duta bagi Indonesia yang berperan sebagai jembatan untuk meningkatkan kerja sama, utamanya dalam riset. Sebagai contoh, Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti memiliki program World Class Professor (WCP) yang memberi kesempatan kepada para akademisi kelas dunia untuk berkolaborasi mengembangkan ilmu pengetahuan, hingga menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kualifikasi Sumber Daya Manusia, Muklas Ansori menegaskan bahwa keberhasilan peserta PKPI PMDSU bukan ketika mereka berhasil berangkat ke luar negeri, melainkan ketika mereka berhasil merampungkan publikasinya atau minimal berupa draft yang kemudian dapat dikembangkan.

“Sejelek-jeleknya draft lebih baik daripada belum menulis. Kalau sudah draft bisa diperbaiki dan dituntaskan. Kalian harus serius, dan kerja keras di sana. Karena program PMDSU ini harus lulus tepat waktu, tidak ada perpanjangan,” sebut Muklas.

PMDSU sendiri sudah menjadi salah satu program unggulan Kemenristekdikti. Pada pelaksanaan PKPI PMDSU kali ini, para peserta paling banyak akan berangkat ke Jepang, yakni sebanyak 26 orang. Sedangkan enam orang tercatat akan berangkat ke Jerman, untuk Inggris dan Amerika Serikat masing-masing sebanyak empat orang, dan sisanya tersebar di berbagai negara lainnya, seperti Turki, Belanda, Malaysia, dan Polandia. Bahkan, ada satu peserta yang berangkat ke Tunisia di Afrika.

“Targetnya q-1 dan saat kembali sudah berhasil submit jurnal. Memang akan banyak tantangannya, dari mulai iklim sampai dengan budaya. Oleh sebab itu, harus kerja keras dan kerja cerdas. Jalan-jalan tentu boleh, tetapi jangan lupakan kewajibannya,” tandas Muklas. (ira)