Agustus, Kemenristekdikti Panggil 40 Ilmuwan Diaspora ke Indonesia

Senin, 25 Juni 2018 | 17:10 WIB


JAKARTA – Melanjutkan kesuksesan program  penyelenggaraan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2017, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), tahun ini kembali mengundang 40 ilmuwan diaspora dari berbagai penjuru dunia ke Jakarta pada tanggal 12-18 Agustus 2018. Penyelenggaraan SCKD tahun 2018 ini akan menjadi wadah bagi segenap bangsa Indonesia di mana pun mereka berada untuk bisa saling berbagi, berkolaborasi, dan bersinergi membangun Ibu Pertiwi.

“Ada kerinduan bagi para diaspora, untuk dapat berbagi dan bersumbangsih bagi negaranya Indonesia. Dalam hemat saya, selama ini sumbangsih para diaspora belum terwadahi, oleh sebab itu khusus ilmuwan dan akademisi diaspora mulai kami wadahi sejak tahun 2016, dan terus berlanjut tiap tahunnya” ujar Dirjen Ghufron, Senin (25/6)

Menurut Dirjen Ghufron, hasil pertemuan dari wadah tersebut dapat dikatakan membanggakan. Berbagai kolaborasi dan sinergi antara ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri, khususnya dosen sudah banyak dihasilkan.

“Kalau joint publication sudah banyak saya kira. Hal ini terlihat dari banyaknya laporan yang telah disampaikan, baik secara informal maupun formal, pun begitu dengan pengikatan kerja sama resmi yang berujung kepada pertukaran mahasiswa, joint research hingga postdoc di kampus para diaspora di luar negeri. Ini kabar baik tentunya,” tuturnya.

Tidak hanya itu, dengan adanya wadah tersebut Dirjen Ghufron juga telah mendengar banyak para ilmuwan diaspora yang membuka kesempatan bagi para ilmuwan dalam negeri datang ke kampus mereka untuk menggunakan alat-alat canggih bagi pengembangan penelitian para akademisi dalam negeri. Hal ini, lanjut dia, tidak akan terwujud tanpa kolaborasi yang baik antara kedua belah pihak.

“Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh akademisi adalah melakukan kolaborasi dan membangun networking. Sebab, membangun negeri tidak dapat dilakukan oleh dan dari dalam saja, tetapi juga perlu memperkuat barisan para anak bangsa di manapun mereka berada,” ujarnya.

Terkait dengan kepulangan para diaspora, Mantan Wakil Menteri Kesehatan itu berpendapat bahwa keinginan tersebut tentu perlu dikaji secara lebih mendalam sebelum pelaksanaannya. Bagi Dirjen Ghufron, keberadaan para ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri memiliki manfaat yang besar bagi dunia akademik dan penelitian di Indonesia. Lebih dari itu, ilmuwan diaspora ini diharapkan mampu menjadi katalis kemajuan sumber daya pendidikan tinggi dalam ilmu pengetahuan dan sains di Indonesia.

“Mereka dapat menjadi lokomotif untuk menarik para ilmuwan dan akademisi dalam negeri untuk meraih capaian yang baik di dunia ilmu pengetahuan dunia. Dengan keberadaan mereka di luar negeri beserta segala fasilitas terbaik yang ada mereka tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, tetapi turut mengharumkan Indonesia dengan berpartisipasi memberi solusi bagi dunia agar lebih baik” jelas Dirjen Ghufron.

Di sisi lain, Dirjen Ghufron menegaskan, di dalam negeri tidak sedikit ilmuwan Indonesia yang berkelas dunia dan memiliki prestasi akademik yang diakui dunia Internasional. Para ilmuwan dalam negeri yang lulus dari kampus-kampus terbaik dunia ini juga terus bekerja keras dalam upaya membangun ilmu pengetahuan di Indonesia. Bahkan, banyak dari mereka yang diundang untuk melakukan penelitian bersama, membimbing mahasiswa di kampus kelas dunia atau turut mengajar, serta kuliah umum di kampus kelas dunia.

“Ilmuwan yang ada di dalam negeri pun tidak kalah hebatnya, banyak dari ilmuwan dalam negeri kita yang memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni. Jadi, kita tidak perlu juga menggelar karpet merah bagi para ilmuwan kita di luar negeri karena mereka bukan tamu di negeri mereka sendiri, melainkan mereka juga adalah anak bangsa yang sesekali kembali untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa yang mereka cintai. Soal di mana mereka para diaspora berada, tentunya sudah bagian dari tugas, amanah, dan rezeki mereka. Itu sudah ada yang menentukan,” simpul Dirjen Ghufron.