Optimisme dan Tekad Adalah Kunci Meraih Beasiswa Pendidikan Tinggi

Sabtu, 12 Mei 2018 | 20:58 WIB


JAKARTA – Suasana World Post Graduate Expo 2018 hari ini (12/5) tetiba berubah, ketika rangkaian kegiatan beralih pada sesi seminar “Memilih Jalan Menjadi Akademisi dan Ilmuwan” di Ruang Nuri 2, Jakarta Convention Center. Kegiatan ini menghadirkan para suksesor akademisi dan ilmuwan peraih beasiswa dalam dan luar negeri dan dihadiri oleh peserta dari kalangan akademik, seperti mahasiswa, peneliti, dan dosen. Materi inti yang dipaparkan pada sesi ini ialah menyoal bagaimana cara mendapatkan beasiswa pendidikan jenjang magister dan doktor, baik di dalam dan luar negeri.

Rino R Mukti, Dosen ITB, selaku co-promotor PMDSU Batch I, pada sesi pembuka seminar menjelaskan kepada para peserta seminar bahwa hal yang harus dimiliki oleh para pencari beasiswa jenjang magister atau doktor adalah motivasi diri. Pertanyaan mengapa kita ingin dan harus mendapatkan beasiswa tersebut sangatlah penting. Di sela penjelasannya, Rino sempat berseloroh bahwa pada masa lalu, salah satu motivasi dirinya dalam menempuh studi di luar negeri adalah karena ingin menyaksikan piala dunia langsung, bercengkerama dengan sesama ilmuwan dan akademisi di penjuru dunia, dan datang ke forum ilmuwan di berbagai acara. Motivasi lain Rino menjadi ilmuwan adalah karena sejak lama, masyarakat Indonesia telah banyak berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Dan dirinya berharap bisa mengikuti jejak langkah masyarakat Indonesia pada masa lalu.

“Saya yakin di balik keberhasilan yang diraih Eijkman dan banyak nama-nama besar lainnya dari luar negeri yang pernah tinggal dan melakukan penelitian di Indonesia, ada kiprah dan peran para anak bangsa di belakangnya. Karena tidak ada peneliti besar yang bekerja sendiri,” jelas Rino.

Bagus Muljadi, Anggota Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, yang saat ini menjabat sebagai Associate Professor University of Nottingham, dalam kesempatannya berbagi kisah tentang perjalanannya meraih beasiswa di luar negeri, mengaku bahwa karier akademiknya tidak dimulai dengan sesuatu yang baik. Pada saat lulus dari ITB, ia bahkan tidak termasuk dalam jajaran sarjana yang berprestasi. IPK akhir dari perkuliahannya hanya 2,69. Sebuah nilai yang bagi mahasiswa ITB sangat meragukan.

Namun, tekad dan optimisme terhadap dunia akademiknya di masa depan, akhirnya membawa Bagus sampai pada tahapan sekarang ini. Kedua hal itulah yang menjadi kunci dari keberhasilan dirinya sampai pada posisi sekarang ini.

“Sebenarnya, tidak ada trik khusus mendapatkan beasiswa. Karena beasiswa itu sebenarnya terdiri atas setengah keberuntungan, sepertiga tekad, dan sepertiga lainnya adalah kemampuan,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa ia tidak akan pernah berhasil dalam dunia pendidikan dan penelitian apabila tidak memiliki optimisme dan tekad yang kuat. Dan berkaca pada apa yang pernah terjadi padanya selama berkuliah di luar negeri, menurutnya orang Indonesia adalah manusia unggul yang memiliki kapasitas mumpuni untuk berdaya saing di luar negeri.

“Saya dulu di Indonesia bisa dikatakan masuk dalam kategori mahasiswa kelas bawah. Tapi ketika lanjut kuliah S-2 dan S-3 di Taiwan, saya nyatanya bisa bersanding dengan mahasiswa terbaik dari sana. Itu tandanya orang Indonesia adalah orang-orang yang unggul,” tambahnya.

Setelah menyelesaikan studi doktoralnya di National Taiwan University, bidang Mekanika Terapan, kemudian melanjutkan postdoctoral di Institut de Mathmatiques de Toulouse, Perancis, program studi Matematika, dan melanjutkan postdoctoral kembali di Imperial College London, pada program studi Ilmu Bumi dan Teknik, sebagai seorang peneliti, Bagus termasuk dalam kategori interdisipliner. Arus keilmuannya sangat mudah berubah dan berbeda jauh saat menyelesaikan studi doktoralnya. Bergantung pada peluang dan kesempatan yang ada dan datang di depannya.

Namun, sekali lagi ia membuktikan, bahwa bagaimanapun situasinya selama ada optimisme dan tekad yang kuat, ia mampu menyelesaikan program postdoctoralnya. Bahkan, karena pengalaman postdoctoralnya yang beragam itulah, ia justru mudah mendapat kepercayaan menjadi Associate Professor di Universitas of Nottingham.

Setelah sesi Bagus berbagi kisah tentang pengalamannya meraih beasiswa hingga menjadi ilmuwan seperti sekarang. Sesi beralih pada Grandprix Thomyres Marth Kadja, Doktor termuda Indonesia dari ITB bidang Kimia, peraih beasiswa PMDSU Batch 1. Dalam kesempatannya, ia turut membagikan pengalamannya yang luar biasa ketika menjalani program beasiswa PMDSU. Sebelum jauh bercerita tentang pengalamannya kepada peserta seminar, Grandprix menjelaskan bahwa manifestasi dari pendidikan doktor adalah karya ilmiah. Itulah yang harus ditekankan oleh para peraih beasiswa magister dan doktor. Selama menjadi mahasiswa PMDSU, selain meneliti, ia juga turut mengamati bahwa tren penelitian Indonesia setiap tahun terus meningkat. Namun, sayangnya belum bisa melampaui capaian negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Penelitian bagi mahasiswa magister dan doktor masih belum menjadi prioritas. Padahal menurutnya penelitian sangat penting. Apalagi dunia saat ini memasuki era revolusi industri 4.0. Sebuah era di mana ekonomi, sosial, dan berbagai bidang lainnya mulai tercerabut dari akarnya.

“Salah satu cara untuk menopang hal demikian adalah dengan memperbanyak akademisi mumpuni dari pendidikan tinggi. Dan PMDSU adalah terobosan jitu yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Ia menjelaskan bahwa alasan dirinya lebih tertarik memilih beasiswa PMDSU, daripada beasiswa ke luar negeri bukan tanpa alasan. Selama ini ia sering dihadapkan dengan beberapa mahasiswa Indonesia pada jenjang studi lanjut yang berkuliah di luar negeri. Ia mengaku beberapa mahasiswa yang ditemuinya tersebut, ketika harus kembali ke dalam negeri sering mengalami gagap budaya akibat perbedaan kultur penelitian dan fasilitas yang sangat jauh. Dengan berkuliah di dalam negeri, ia ingin membiasakan diri meneliti dalam kondisi yang serba terbatas. Melakukan penelitian yang berbasis pada kondisi Indonesia yang sebenarnya.

Seminar hari ini kemudian dilanjutkan pada sesi diskusi dengan berbagai peserta. Dalam sesi diskusi ini para peserta banyak bertanya perihal cara meraih kepercayaan pemberi beasiswa, melamar sebagai mahasiswa bimbingan profesor atau promotor, hingga menentukan topik penelitian. Sebuah masalah yang selama ini kerap menjegal mereka untuk mendapatkan beasiswa. (Iqbal)