Urgensi Meneliti Saat Ini Adalah Kolaborasi

Rabu, 9 Mei 2018 | 17:39 WIB


JAKARTA – Seiring dengan banyaknya investasi yang telah dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Saat ini studi terkait parameter keberhasilan pendidikan merupakan urgensi. Sebab bila hal tersebut tidak dilakukan, dikhawatirkan pada masa mendatang akan memicu beragam pertanyaan publik tentang “apa yang sebenarnya telah dilakukan pemerintah dalam mengurusi pendidikan?” Apabila pertanyaan tersebut tidak berujung pada jawaban, kekhawatiran lainnya yang akan mengemuka ialah ‘tingkat kepercayaan publik terhadap pendidikan semakin menurun’.

Ada banyak komponen keberhasilan pendidikan yang sebenarnya dapat diukur, salah satunya melalui riset-riset yang telah dilakukan akademisi di perguruan tinggi. Akan tetapi, seberapa banyak riset yang telah dilakukan itu berimpak nyata terhadap kehidupan masyarakat? Hal ini yang kerap dianggap sebagai ambiguitas tak berujung. Riset telah dilakukan, tapi banyak masyarakat merasa tidak pernah bersentuhan dengan impak daripada riset.

Demi mengatasi hal tersebut, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018, Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kemenristekdikti, menyelenggarakan seminar dan workshop penelitian pada Rabu, 9 Mei 2018. Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Kemenristekdikti dengan University of Nottingham dan dilangsungkan di Aula Lantai 2 Gedung Kemenristekdikti ini mengusung tema “Return of Investment In Research and Higher Education”. Sebuah refleksi bagi institusi Pendidikan Tinggi dalam negeri perihal peran dan fungsi civitas akademisinya selama ini.

Dalam sambutannya, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan bahwa riset pada masa mendatang menjadi agenda utama pemerintah Indonesia, khususnya Kemenristekdikti. Dan masyarakat sebagai penerima manfaat dari riset diharapkan dapat berkontribusi langsung, setidaknya memantau langsung proses pelaksanaannya.

Kegiatan yang dihadiri oleh dosen, ilmuan, dan pelajar dari berbagai institusi di Indonesia ini juga merupakan penanda dibukanya hubungan kerja sama pendidikan dan penelitian antara Kemenristekdikti dan University of Nottingham.

“Dengan adanya kerja sama ini, saya berharap dunia riset Indonesia di masa depan akan semakin cerah,” ungkap Ali.

Ali Ghufron mengatakan bahwa saat ini, hal terpenting dalam melakukan riset ialah harus mampu menciptakan relasi kuat antara riset dan industri. Keduanya harus saling berkaitan agar pembangunan yang diharapkan dapat terwujud secara berkesinambungan.

Bagus Muljadi, alumni ITB 2006 yang saat ini berstatus sebagai Peneliti, Pengajar, dan Assistant Professor of Chemical and Enviromental Engineering, University of Nottingham, mengungkapkan keinginannya untuk menghubungkan dunia pendidikan dan penelitian Indonesia dengan dunia global. Salah satu langkah konkret yang ia lakukan untuk mewujudkan keinginannya ialah dengan memperkenalkan platform cakrawala dan kultur penelitian dan keilmuan di Inggris, khususnya di kampus tempatnya bekerja, pada peserta seminar kali ini.

Karena menurut Bagus, ada 3 hal paling penting dalam bidang penelitian dan keilmuan: 1) bagaimana pengetahuan diciptakan; 2) bagaimana kualitas sumber daya manusia digunakan, dan; 3) bagaimana pengetahuan ditransfer pada satu pihak ke pihak lainnya.

Senada dengan apa yang dikatakan Ali Ghufron di dalam sambutannya. Bagus mengakui jika menganalisis dampak riset tidaklah mudah.

“Riset akademik sangat penting, tapi mengukur keberhasilannya tidaklah mudah. Tanpa disadari, sebenarnya kita menikmati impak dari riset, hanya saja karena pengaruh riset itu luas, hal tersebut seakan menjadi bias,” tambahnya.

Membahas perihal riset dan tuntutan masyarakat terhadap keberhasilan riset, Stuart Marsh, Professor of Geospatial Engeenering, University of Nottingham, salah satu pembicara pada seminar hari ini, dalam paparannya yang berjudul “Evaluating Research Impact: In the UK Perspective” memaparkan bahwa tekanan yang dialami peneliti di Inggris terjadi bukan pada bagaimana cara mereka mempublikasikan hasil riset, melainkan kualitas dari riset yang dipublikasikan tersebut. Agar kualitas riset terjaga, ia mengatakan pemerintah Inggris turut andil dalam pengontrolan riset itu sendiri.

“Karena paper ini didanai pemerintah, maka riset harus punya impak. Misal pada bidang engineering. Apa yang diriset harus berdampak setidaknya pada masyarakat engineer. Dan baiknya riset tersebut bisa berpengaruh pada kebijakan pemerintah. Ini yang pemerintah Inggris lakukan dalam mengontrol penelitian,” jelasnya.

Impak dari riset tidak akan pernah terjadi apabila knowledge exchange tidak berjalan. Karena impak riset hanya bisa dinilai dari impaknya terhadap dunia industri. Dalam hal ini kolaborasi menjadi hal utama.

Berbicara tentang kolaborasi, Patrick J Cullen, Professor of Process Engineering, University of Nottingham, dalam paparannya yang berjudul “Investing in Science and Research in the UK” mengungkapkan bahwa selama ini banyak jurnal-jurnal internasional merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai industri, institusi, dan akademik internasional. Kolaborasi merupakan parameter penting dalam meneliti. Menurutnya hal tersebut dapat meningkatkan kualitas paper para peneliti.

“Banyak paper di Inggris merupakan hasil kolaborasi dengan institusi lain. Kami, University of Nottingham, juga berkolaborasi dengan ITB untuk riset kami tentang geothermal,” ungkapnya.

Perihal kolaborasi dalam riset, sebagai penutup, Patrick J. Cullen dan Bagus Muljadi dalam paparan mereka yang berjudul “The Importance of Collaboration to Publishing in Top Internasional Journal” bersepakat bahwa di dunia ini kolaborasi adalah yang paling utama. Ia mengungkapkan bahwa pada era saat ini, dunia riset internasional mulai mengarah pada riset-riset interdisipliner. Karena masalah yang dihadapi di dunia modern tidak bisa diatasi dengan keilmuan atau disiplin yang tersekat-sekat. Semuanya harus berkolaborasi, tidak ada yang bisa berdiri sendiri. Apabila perlu, satu negara harus berkolaborasi dalam melakukan riset.

“Sebagai contoh, panas bumi adalah ranah geologi. Namun, ketika sudah ditemukan, penanganan selanjutnya ialah harus diinjeksikan ke dalam tanah. Proses itu disebut kuantifikasi. Dan itu merupakan ranah kimiawan. Kemudian, ketika akan diekstraksikan, itu masuk ranah matematikawan,” tutup Bagus.

Kegiatan seminar hari ini kemudian dilanjutkan dengan sesi paparan hasil penelitian kepada para peserta seminar dengan tema Geohazards and Earth Processes Monitoring oleh Stuart Marsh dan Lambok Hutasoit, Profesor of Hydrogeology, Bandung Institut of Technology; dan tema Suistanable Solutions to Global Challenges in the Area of Food, Water, and Resource Security oleh Patrick J Cullen dan Surya Darma Tarigan, Head of Departement of Watershed Area Development, Bogor Agricultural University. (Iqb)