Ilmuwan Dunia yang Mengambil Semester Pendek

Senin, 7 Mei 2018 | 8:19 WIB


Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi pasti menjadi dambaan tiap mahasiswa. Cumlaude bahkan summa-cumlaude dikejar sejumlah sarjana. Namun bagaimana bila sang sarjana mendapatkan rata-rata IPK 2,7? Apakah ia akan bernasib buruk atau bahkan miskin?

Tidak bagi pemilik nama Bagus Putra Muljadi. Ia membuktikan bahwa nilai bukan segalanya. Bagus telah melanglangbuana dan kini membuktikan dirinya sebagai ilmuwan kelas dunia asal Indonesia.

Waktu kuliah, Bagus itu mahasiswa biasa-biasa saja. Lulus kuliah tidak tepat waktu di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung. Bisa dibilang juga dia adalah mahasiswa yang unik waktu itu. Rajin bolos kuliah akibat bermain game online Counter Strike yang mampu menahannya di kamar kos seharian hingga jari tangannya kaku.

Bahkan Bagus pernah melewatkan masa pengisian rencana studi hingga dirinya harus cuti satu semester perkuliahan. Entah sengaja atau tidak, yang jelas Bagus mesti mengambil semester pendek untuk mengejar ketertinggalannya.

Meski demikian, Bagus sadar bahwa apa yang dialami dirinya semasa kuliah di kota kembang bukan lah untuk ditiru. Tahun 2006 Bagus menjadi sarjana. Tentu sarjana yang ‘B, ajah’ dengan predikat cukup.

Namun dengan keyakinan yang diikuti kerja keras, Bagus membuktikan bahwa nilai akademik bukan segalanya. Pasalnya usai menamatkan sarjana, dia bisa melanjutkan pendidikan pascasarjana dan meraih gelar master serta doktornya pada bidang mekanika terapan di National Taiwan University.

Kini Bagus bukan lagi mahasiswa Counter Strike. Dia adalah ilmuwan Tanah Air yang tak biasa. Berusia muda dan sudah menjadi Asisten Profesor di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris.

“Saya merupakan salah satu profesor termuda di departmen saya di Nottingham,” ujar Bagus saat ditemui pada acara rangkaian peringatan Hardiknas 2018 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan tema “Membumikan Pendidikan Tinggi, Meninggikan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia” di Bandung, Jawa Barat.

Tentu itu bukan hal yang mudah bagi Bagus untuk menapak karir internasional. Jalan panjang dan berliku harus ia lalui serta hadapi dengan ketekunan.

Merasa masih haus akan ilmu pengetahuan, usai dari NTU, Bagus melanjutkan post doctoral scholar (post doctoral) pada program studi Matematika Institut de Mathmatiques de Toulouse, Perancis. Kemudian melanjutkan kembali post doctoral-nya pada program studi ilmu bumi dan teknik Imperial College London.

Bagus layak menjadi panutan karena berhasil mematahkan anggapan bahwa menjadi linearitas dalam akademik adalah segalanya. Ia membuktikannya sendiri, setelah lulus pada prodi teknik mesin kemudian melanjutkan pascasarjana pada bidang mekanika terapan. Selanjutnya post doctoral di bidang ilmu bumi dan matematika.

Menurut pria yang menyenangi lagu-lagu dari band Padi ini, ilmu pengetahuan sudah seharusnya tak disekat dengan batasan-batasan linearitas. Justru dengan apa yang dilakukannya tersebut, membuat penelitian yang dilakukannya menjadi beragam dan penuh perspektif.

Namun Bagus mesti jujur, empat kali pindah jurusan tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya. Selain memiliki banyak teman dan partner, penelitiannya pun menjadi beragam. Hal itu bukan tanpa risiko. Pada saat awal mengambil post doctoral di bidang matematika, resikonya adalah sulitnya membagi waktu bersama keluarga.

Bagus merasa beruntung karena berani mengambil risiko itu. Ia mesti banting tulang untuk menghasilkan karya ilmiah yang untungnya adalah bidang yang ia senangi. Tentu itu sangat membantunya di waktu yang akan datang.

Pertanyaan yang sering terlontar padanya adalah bagaimana proses karirnya di Inggris. Dengan senang hati Bagus juga menceritakan bagaimana perguruan tinggi di Inggris hingga ia mendapatkan posisi akademis asisten profesor.

Seperti yang telah ia ceritakan, penelitian yang nonlinear membuatnya memiliki portofolio penelitian yang beragam.

“Justru nonlinear itu yang bikin kita dapet posisi permanen. Di sana, itu yang membuat kita jadi unik. Nah itu yang gue jawab waktu ditanya saat wawancara, karena jurnal yang gue bikin cenderung dibidang matematika bahkan ada dibidang ilmu bumi,” kata pria kelahiran 1 Maret 1983 itu.

Riset dan Penelitian
Pria yang memiliki dua orang itu kini telah memiliki 10 jurnal internasional dan prosiding lebih dari 20 jurnal. Bagus tak menganggap itu sebagai hal yang istimewa secara jumlah.

“Jurnal saya cuma 10, itu bukan hal yang luar biasa. Tapi saya mempunyai satu jurnal yang saya sendiri penulisnya, yakni tentang pemodelan multiskala media berpori, untuk melihat aliran cairan berpori. Terus sekitar 90 persen dari jurnal saya tersebut saya adalah penulis pertamanya, sementara penulis kedua dan seterusnya juga beragam”.

Tanpa bermaksud mengurui, Bagus menyarankan, seyogyanya jurnal tak hanya dilihat dari jumlahnya saja. Karena jurnal ada yang ditulis sendiri dan berkelompok. Memang baik punya banyak jurnal, tapi jika ingin melaju ke posisi yang lebih tinggi apalagi posisi yang permanen, maka sebaiknya memiliki jurnal yang ditulis sendiri.

Pun untuk dosen di Indonesia seyogyanya memiliki pikiran yang terbuka dan sifat koperatif. “Dosen `zaman now` harus terbiasa dengan konsep kolaborasi interdisiplin, baik dengan masyarakat, industri, dan pemerintah. Itu yang penting. kata pria yang juga memfavoritkan band Cold Play.

Bagus juga mengapresiasi Kemristekdikti yang telah mengundang prosesor asing, diaspora, dan profesor kelas dunia lainnya ke Indonesia. Menurutnya ini akan membawa perubahan positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perguruan tinggi Indonesia.