Perguruan Tinggi Seni sebagai Tonggak Penting Pendidikan Nasional

Sabtu, 5 Mei 2018 | 14:40 WIB


“Indonesia adalah negeri yang tak sekedar kaya akan sumber daya alam, tapi juga negeri yang penuh dengan cita rasa seni dan budaya. Dari Aceh hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, kita tidak pernah kekurangan sumber daya dan cita rasa seni budaya. Bangsa kita adalah bangsa yang senang berdendang, bernyanyi, berkreasi dan menari.”

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti membuka sambutannya pada acara Pameran Riset dan Bincang Akademik dengan tema Potensi Pendidikan Seni dalam Perguruan Tinggi di Indonesia: Modal dan Visi ke Depan, Sabtu (5/5/2018) di Galeri Sumardja, ITB, Bandung. Diskusi ini menjadi rangkaian peringatan Hardiknas Kemenristekdikti 2018.

Ia mengatakan ada banyak tarian, musik tradisional, situs budaya, keris dan berbagai candi yang masih berdiri kokoh hingga hari ini menunjukan bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang luar biasa kaya.

“Para Mpu-mpu pembuat keris tidak hanya sekedar artist tetapi juga scientist, pun begitu dengan para pembangun candi-candi, mereka adalah engineer yang memiliki rasa seni tinggi, mereka memadukan monumen dengan kisah di dalamnya. Sama halnya dengan para pengkreasi tari, mereka adalah para peneliti kehidupan, mereka membahasakan kehidupan dengan tata gerak yang gemulai, tegas dan indah di pandang,” ujarnya.

Dirjen Ghufron mengaku terkadang ia takjub dengan hasil karya seni lukis seniman Indonesia yang famous di dunia. Seperti, karya-karya Raden Saleh, Basuki Abdulah, Affandi, Sujodjono, dan banyak para pelukis lainnya selalu mendapatkan tempat di benak para kolektor dunia. “Mereka tidak kalah mahsyur bila dibandingkan dengan karya-karya pelukis mancanegara lainnya,” kenang Dirjen Ghufron.

Sesuai dengan tema Hardiknas nasional, Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan, peran perguruan tinggi dan fakultas seni sangatlah strategis dalam pendidikan Indonesia. Menyontoh Korea Selatan negara yang terlihat bergegas dalam kemajuan teknologi tidak lupa untuk tetap melestarikan budaya dan seni.

“Fenomena Korean Wave yang kita lihat hari ini, bukanlah sekadar penemuan teknologi telepon genggam yang semakin pintar, tetapi juga seni dan budaya korea yang semakin mendunia. Kemajuan teknologi tanpa dibarengi kemajuan keseniannya akan terasa hambar,” ujar Dirjen Ghufron.

Selanjutnya, peranan pendidikan tinggi seni pun strategis untuk menjadi daya ungkit ekonomi nasional. Sudah banyak contoh, bahwasanya ekonomi kreatif merupakan pendorong bagi ekonomi nasional kita. “Perguruan tinggi dan fakultas seni harus mampu menggarap lahan ini, tidak sekadar melahirkan para seniman kelas wahid, tetapi juga para pewirausaha ke-kriyaan yang mampu mensejahterakan masyarakat di sekitarnya, menciptakan lapangan kerja yang dapat menghidupi,”

Untuk peningkatan kualifikasi kami memiliki berbagai skema beasiswa yang sangat terbuka untuk bidang seni. Seperti program SAME dan SAME BIPA. Kebijakan lainnya yang dirasa tepat digunakan perguruan tingi seni adalah kebijakan Nomor Induk Dosen Khusus atau NIDK. Ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan SDM pendidikan tinggi.

“NIDK menjadi salah satu solusi untuk memanfaatkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi menjadi tenaga akademik. Sehingga, perguruan tinggi atau fakultas seni dapat merekrut para seniman yang belum tentu memiliki kualifikasi S2 atau S3 namun karyanya telah mendunia untuk menjadi dosen,” kata Dirjen Ghufron.

Pendidikan seni bersifat melunakan kekerasan sifat, watak dan hati. Dalam seni, olah rasa menjadi sangatlah penting. Para peserta didik kita dibawa untuk merasa, lebih sensitif terhadap dunia sekitar. Ini adalah salah satu pintu pendidikan karakter bagi bangsa dan negeri ini, dengan seni kita belajar untuk tidak sekedar membangun tetapi juga halus dalam meresakan gejolak sosial masyarakat.

Dirjen Ghufron menegaskan bahwa pendidikan tinggi seni merupakan tonggak penting dalam pendidikan nasional yang bertugas melahirkan para pengkreasi dan melahrikan para pelestari. “Tanpa pengkreasi bangsa ini tidak akan penuh dengan warna, tetapi tanpa pelestari bangsa ini hanya akan kehilangan sumber kekayaannya,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kekayaan seni dan budaya yang kita miliki demi generasi yang akan datang. “Jangan sampai penerus kita, anak dan cucu kita tidak akan melihat semangat tari kecak, keanggunan tari merak, mendengar denting suara kecapi, menikmati lukisan Raden Saleh dan Affandi,” tutup Dirjen Ghufron.