Hardiknas Kemenristekdikti, Peraih King Faisal Prize Prof Irwandi Jaswir Berikan Kuliah Halal Science

Jumat, 4 Mei 2018 | 20:49 WIB


BANDUNG – Kesemarakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) masih terus digelorakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Kali ini, rangkaian acara Hardiknas Kemenristekdikti diisi dengan Seminar Ilmiah Halal Science: Perkembangan Global dan Potensi Indonesia dengan narasumber utama Prof Irwandi Jaswir, peraih King Faisal International Prize 2018 kategori Service to Islam. Kegiatan ini mendapat antusiasme dari 200 peserta yang terdiri atas akademisi dan mahasiswa.

Mengawali paparannya, Irwandi mengungkapkan bahwa penghargaan yang diberikan langsung oleh Raja Salman itu merupakan penghargaan terbesar kedua setelah Nobel di Arab. Ia pun sempat tak menyangka lantaran seleksi dilakukan secara ketat.

“Kategori ini umumnya dimenangkan oleh kepala negara atau ulama. Namun pada 2018, pertama dalam sejarah King Faisal International Prize, kategori ini dimenangkan oleh seorang ilmuwan. Dulu orang Indonesia yang pernah mendapat penghargaan ini adalah Mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir,” kata Irwandi di Aula Kopertis IV, Bandung, Jumat (4/5/2018).

Pria yang kini dikenal dengan sebutan ‘Profesor Halal’ tersebut menceritakan bahwa prestasi yang diraihnya tersebut merupakan buah dari riset terkait halal selama lebih dari 20 tahun. Konsep kajian halal science sendiri, kata dia, sangat luas mencakup makanan, obat-obatan, kosmetik, hingga produk jasa seperti pariwisata.

“Potensi Halal Science ini sangat besar mengingat jumlah penduduk Muslim di dunia mencapai 2 miliar orang. Indonesia menjadi negara dengan penduduk mayoritas Muslim perlu melihat peluang-peluang ini, meskipun mugkin untuk saat ini belum berjalan secara maksimal,” ujar Irwandi.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengungkapkan, pasar industri halal per tahun mencapai USD3 triliun. Bahkan, pasar halal kini tidak terbatas untuk Muslim. Irwandi mengatakan, baru-baru ini dirinya diundang oleh parlemen Korea Selatan terkain pengembangan riset dan industri halal. Tak hanya itu, dia juga ikut mendampingi pengembangan halal tourism di Busan.

“Korea Selatam melihat potensi ini sehingga mereka ingin mengembangkan industri halal. Saya rasa upaya mereka cukup serius ingin bersaing di peta halal industri global yang luas. Untuk produk kosmetik saja mereka ada 2.000 lebih perusahaan, ini peluang yang luar biasa apalagi dengan pengaruh budaya K-Pop yang banyak digemari,” ucapnya.

Selain menjelaskan materi Halal Science, dosen di International Islamic University Malaysia (IIUM) itu juga menunjukkan hasil-hasil risetnya serta publikasi ilmiah yang telah diterbitkan. Di antaranya 120 jurnal internasional dan 250 paper presentasi internasional. Dia juga telah membuat lima hak cipta yang dipatenkan, dan tiga dari jumlah tersebut sudah dikomersilkan, salah satunya E-Nose, yaitu sebuah alat pendeteksi berbentuk seperti pulpen yang bisa dibawa-bawa.

“Sekarang ini semua bidang bisa menekuni ilmu halal science. Kita hanya perlu inovasi baru. Peran pendidikan tinggi di sini penting untuk melakukan kajian dan pendampingan terkait bidang ini,” terang Irwandi.

Sebelum seminar dimulai, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti sendiri mengapresiasi prestasi yang dicapai oleh Prof Irwandi yang turut mengharumkan nama Indonesia. Ghufron menyebut, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Untuk itu, kehadiran profesor kelas dunia seperti Prof Irwandi Jaswir dapat menjadi katalis untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya dalam riset dan inovasi.

“Kami mendukung adanya kolaborasi antara dosen Indonesia dengan profesor kelas dunia. Kita juga harus memiliki misi bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, setidaknya sama atau lebih baik dari Singapura. Untuk itu, profesor di Indonesia harus produktif, seperti cerita Prof Irwandi di Malaysia yang mampu menghasilkan tujuh publikasi selama setahun,” imbuh Dirjen Ghufron.

Pada seminar tersebut, hadir pula Koordinator Kopertis Wilayah IV, Dr. Uman Suharman; Rektor Universitas Pasundan, Prof. Eddy Jusuf; dan Ilmuwan Diaspora Indonesia dari University of Nottingham Inggris, Bagus Muljadi. Sedangkan moderator seminar sendiri dipimpin oleh Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Sony Suhandono. Para peserta pun antusias untuk melakukan tanya jawab usai pemaparan materi.