Formula 4C untuk Bertahan pada Era Revolusi Industri 4.0

Jumat, 4 Mei 2018 | 14:04 WIB


BANDUNG – Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, sumber daya manusia menentukan kemajuan suatu negara. Terlebih lagi, Indonesia sudah harus siap menghadapi revolusi industri 4.0 atau industri generasi keempat.

Hal itu disampaikan Dirjen Ghufron pada kunjungan media ke kantor Harian Umum Pikiran Rakyat, Jumat (4/5/2016), di Jalan Asia Afrika, Bandung. Kunjungan media ini dilakukan dalam rangka semarak memperingati Hardiknas 2018 Ristekdikti.

“Kemajuan ini tentu sangat ditentukan oleh perguruan tingginya. Untuk perguruan tinggi banyak tantangan yang perlu diatasi dengan cepat dan tepat,” tegas Ghufron.

Turut hadir menemani Dirjen Ghufron, sejumlah rektor, wakil rektor beberapa perguruan tinggi negeri di Bandung, dan kepala Kopertis wilayah IV. Rombongan diterima Pemimpin Perusahaan PT Pikiran Rakyat Bandung, Januar P Ruswita dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman.

Ia juga mengatakan perubahan-perubahan ilmu pengetahuan ini luar biasa. Ristekdikti telah menyiapkan salah satu cara antisipasinya, yakni dengan membangun cyber university. Tak hanya itu, lanjut Dirjen Ghufron, seorang dosen perlu menyiapkan strategi untuk bertahan pada era ini.

“Tantangan perguruan tinggi ke depannya, banyak yang harus diantisipasi dengan cepat dan tepat. Antara lain revolusi industri, berupa menghadapi proses perubahan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Perubahan teknologi yang luar biasa ini harus kita antisipasi dalam menghasilkan SDM,” kata Dirjen Ghufron.

Menurutnya, dosen merupakan sosok paling penting yang harus menyikapi perubahan zaman ini. Pasalnya, mereka adalah garda terdepan dalam pendidikan di level perguruan tinggi. Selain penting untuk menghasilkan lulusan berkualitas sesuai kebutuhan zaman, pembaruan kualitas diri juga penting untuk keberlangsungan karier dosen bersangkutan.

“Ke depan juga kuliah tak perlu datang ke kampus, bahkan di tempat tidur pun bisa kuliah dengan sistem online. Antisipasinya, ya dosennya harus disesuaikan. Dosen yang akan bertahan bukan yang sekadar pintar, tapi yang bisa juga merespons perubahan tadi,”.

Menanggapi Dirjen Ghufron, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Kadarsah Suryadi mengatakan, meski kemajuan teknologi, khususnya digital kian pesat, bukan berarti para akademisi harus meninggalkan bidang keilmuan masing-masing. Pasalnya, teknologi dan digitalisasi, hanya mengubah proses penyampaian. Sementara konten yang terkandung di dalamnya, tidak berubah.

“Meski era digital, kita tetap mesti memperkuat bidang masing-masing. Internet hanya bikin murah dan mudah, tapi tiap-tiap orang tetap butuh dengan kesehatan, pertanian, dan lain-lain,” kata Kadarsah.

Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Prof. Een Herdiani menyebut, dalam pesatnya kemajuan teknologi, bukan berarti pula seni dan budaya lokal jadi tak penting lagi. Kelokalan justru akan menjadi senjata suatu daerah melalui SDM-nya.

“Perubahan zaman ini justru peluang. Tradisi kita justru akan menjadi unggulan di dunia digital. Misal, ahli kecapi suling tidak ada di daerah mana pun di dunia, hanya ada di kita, ini bisa mendatangkan banyak orang,” tutur Een.

Dirjen Ghufron yakin, perguruan tinggi Indonesia mampu bertahan di era revolusi industri ini bila melaksanakan 4C. Pertama, Critical thingking, kita seyogyanya bersikap skeptis dan kritis. “Percuma kalau pintar kalo gak kritis,” ujarnya.

Kedua, Creativifity, yakni mampu melahirkan inovasi-inovasi baru. Ia mengisahkan negara Korea Selatan yang memiliki income tinggi karena kreativitasnya yang muncul dari motivasi ingin mengalahkan Jepang. “Memang mereka (Korsel) itu banyak mencontoh tapi sisi kreatifnya muncul,” kata Dirjen Ghufron.

Selanjutnya, Communication, menurut Dirjen Ghufron HU Pikiran Rakyat dan media massa lainnya memiliki peran sangat penting pada proses produksi informasi. Terutama tentang sains dan teknologi agar dapat diterima publik secara benar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. “Percuma kita buat beberapa industri kalau tidak dikomunikasikan. Gak akan ada yang paham dan tahu dong,” ujarnya.

Terakhir, Collaboration, ini lah kekuatan yang bisa membangun Indonesia. Menurutnya, kelemahan Indonesia adalah kurang berkolaborasi. Kita lemah ketika berkelompok. Karena itu memerlukan kerjasama dan mengerti satu sama lain.

Pemimpin Perusahaan PT Pikiran Rakyat Bandung, Januar P Ruswita menyambut baik kedatangan rombongan Dirjen SDID. Menanggapi fenomena ini Januar mengatakan Harian Umum Pikiran Rakyat sebagai media massa, siap menjadi fasilitator agar konsep dan solusi yang dirancang pemerintah, bisa terkomunikasikan secara efektif pada masyarakat secara menyeluruh.

“Kami sebagai media yang ingin memberikan solusi bagi masyarakat betul-betul sadar hal itu tidak bias dilakukan sendiri,” ujarnya.

Januar mengklaim selama ini, Pikiran Rakyat juga sudah terbuka untuk membahas dunia pendidikan tanah air, termasuk hasil penelitian para akademisi. “Kami punya halaman khusus pendidikan, hasil penelitian perguruan tinggi yang kadang diistilahkan hanya tersimpan di lemari, bisa dipublikasikan agar menjadi referensi bagi masyarakat,” tutur Januar.

Tak cuma siap membantu penyesuaian diri dunia pendidikan tanah air. Januar menyebut, saat ini Pikiran Rakyat pun tengah berupaya menghadapi fenomena yang sama, perubahan zaman dan kemajuan teknologi.

“Jika dulu kami hanya menyampaikan informasi, sekarang sedang berubah menjadi memberikan informasi plus solusi, untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dalam menghadapi perubahan zaman ini juga tidak bisa sendiri, salah satunya lewat kerja sama dengan dunia pendidikan,” kata dia.