Pengembangan Sumber Daya Pendidikan Tinggi dalam Era Revolusi Industri 4.0

Jumat, 19 Januari 2018 | 10:43 WIB


MEDAN – Pengembangan sumber daya pendidikan tinggi ditandai dengan kemajuan teknologi digital bersamaan perubahan disrupsi inovasi yang mempengaruhi relevan tidaknya hasil sumber daya manusia pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan dan industri 4.0.

Dosen yang notabenenya adalah seorang pendidik dan peneliti dituntut melakukan inovasi dalam hal pengajaran maupun riset dengan harapan hasil riset yang dikembangkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani selaku Keynote Speaker dalam kegiatan Rakernas Kemenristekdikti 2018 menyampaikan bahwa alokasi anggaran pada tahun 2018 untuk bidang pendidikan cukup besar, yaitu sekitar Rp444,13 triliun. Anggaran yang cukup besar tersebut ditujukan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pasalnya, menurut dia, perkembangan bangsa Indonesia sangat bergantung pada kualitas pendidikannya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, seorang dosen harus dibekali dengan kompetensi dan inti keilmuan yang kuat, menjadi teladan bagi para mahasiswanya, serta mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Senada dengan penyampaian Dirjen Ghufron, Sri Mulyani berharap pendidikan tinggi dapat menjadi inspirasi bagi peserta didik dan masyarakat.

Hal lain yang menjadi sorotan pada disruption technology adalah inovasi dan hasil riset yang bermaslahat bagi orang banyak. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir memaparkan, pihaknya menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk peningkatan inovasi melalui berbagai riset.

“Kemenristekdikti menggunakan sekira 85% anggarannya untuk kebutuhan dan dukungan riset. Hal tersebut tertuang pada rencana riset nasional yang terfokus pada 10 bidang riset; (1) pangan dan pertanian, (2) kesehatan dan obat, (3) teknologi informasi dan komunikasi, (4) transportasi, (5) advance material, (6) pertahanan, (7) energi baru terbarukan, (8) maritim, (9) manajemen bencana, dan (10) sosial dan humaniora”, jelas Menristekdikti di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Rabu (17/1). Nasir menambahkan, di sinilah peran pendidikan tinggi sebagai pengubah mentalitas bangsa menjadi mandiri, memiliki integritas, dan kompetensi yang mampu bersaing dengan negara lain.

Rakernas kali ini menjadi begitu istimewa, lantaran tidak hanya dihadiri oleh empat menteri (Menristekdikti, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, dan Menteri PU & Perumahan Rakyat), tetapi juga Ketua KPK, Agus Rahardjo pun turut hadir untuk mengemukakan pandangannya pada Rakernas Kemenristekdikti. Agus berharap, selain menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi dituntut mampu menanamkan karakter  anti korupsi sejak dini kepada para mahasiswa. Karakter yang ditanamkan sejak dini tersebut diharapkan mampu mengakar pada kehidupannya kelak saat menjalani dunia baru di lingkungan pekerjaan.

Menutup kegiatan rakernas, Dirjen Ghufron memberikan saran kepada perguruan tinggi yang hadir untuk menyikapi perkembangan revolusi industri 4.0 ini. Beberapa di antaranya adalah penyediaan infrastruktur yang mendukung pendidikan pada masa revolusi industri 4.0 dengan empat kemungkinan pembelajaran (konvensional, konvensional plus, memanfaatkan hasil industri 4.0, blended, full online) berbasis resource sharing; meningkatkan kompetensi kolaborasi dosen dengan melakukan mobilisasi dosen dalam negeri dan luar negeri; merumuskan kebijakan kualifikasi dosen berbasis kompetensi inti keilmuan dan multidisiplin; menciptakan layanan karir, kompetensi, dan kualifikasi SDM yang cepat, mudah, dan penuh kepastian; rekrutmen dan manajemen dosen yang relevan dengan perkembangan zaman termasuk meningkatkan kuota beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

“PMDSU ini merupakan sebuah terobosan yang kami lakukan guna menyediakan SDM masa depan Indonesia yang berkualitas dengan cara membangun role model pendidik dan peneliti yang ideal sekaligus menumbuhkan academic leader di perguruan tinggi, serta bekerja sama dengan komunitas keilmuan dalam merumuskan kompetensi inti keilmuan,” tutur Ghufron. (udn)