Pengembangan Riset Laut Dalam di Ambon Maluku

Senin, 8 Januari 2018 | 16:25 WIB


Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI menyelenggarakan program Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD 2017) dengan tajuk “Memperkuat Peradaban Bangsa Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Menunjang Prioritas Pembangunan”. Cendekia Kelas Dunia yang berpartisipasi merupakan Ilmuwan Diaspora Indonesia yang memiliki kompetensi dan pengakuan bidang keahlian atau  keilmuan di dunia internasional, serta telah menjalin kerjasama dengan mitra universitas atau lembaga penelitian di Indonesia.

Salah satu Ilmuwan Diaspora Indonesia yang terpilih dalam program tersebut adalah Dr. R. Dwi Susanto dari Department of Atmospheric and Oceanic Science, University of Maryland, Amerika Serikat, juga sebagai NASA Science Team for Satellite Salinity and Altimetry (salinitas dan tinggi muka laut), serta sebagai Adjunct Professor di Fakultas Ilmu Teknik Kebumian ITB. Pada SCKD 2017, Dr. R. Dwi Susanto berkunjung ke LIPI Ambon dan Universitas Pattimura. Selama kunjungan tanggal 18-20 Desember, telah dilaksanakan beberapa kegiatan yaitu: Pertemuan dengan Kepala LIPI Ambon Dr. Augy Syahailatua, Kuliah Umum “Peranan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dalam Sirkulasi Laut dan Iklim Dunia”, kunjungan laboratorium, pertemuan dengan Wakil Rektor Universitas Pattimura Dr. Jusuf Madubun, dan berkunjung ke beberapa jurusan di Universitas Pattimura.

Selama kegiatan tersebut, turut dibahas perencanaan pengembangan riset laut dalam di Ambon Maluku. Dr. R Dwi Susanto menyampaikan, kontinen maritim Indonesia memainkan peranan penting pada sirkulasi perairan dan iklim dunia.

“Wilayah kita riskan terhadap iklim ekstrim El Nino dan La Nina. El Nino berdampak kekeringan dan kebakaran hutan, sedangkan La Nina berdampak ke curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Namun di sisi lain, pada waktu La Nina jumlah ikan tuna sangat besar berada di wilayah Indonesia bagian Timur Utara di perairan Halmahera, Maluku, Papua dan sekitarnya,” ucapnya.

Sedangkan pada waktu El Nino, upwelling (pengangkatan masa air yang kaya hara/nutrisi ke permukaan laut di wilayah Selatan Jawa dan Sumatera, sehingga banyak ikan di wilayah ini. Oleh karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat harus pandai-pandai memitigasi dan memanfaatkan iklim ekstrim El Nino dan La Nina.

“Selain itu, wilayah perairan Indonesia sangat ideal untuk pengembangan energi terbarukan dari arus pasang surut laut dan perbedaan temperatur laut dalam. Pada bulan November 2017, bekerjasama dengan PT. Air Indonesia Raya dan Balai Observasi Laut Bali meletakkan alat ukur kecepatan arus laut di selat Bali. Di selat Bali direncanakan akan dibangun pusat energi terbarukan  dan pasang surut laut sebesar 10 MW (dengan 4 turbin berdiameter 16 m). Pabrik turbin akan dibangun di Lombok, saat ini sedang proses perizinan.” Tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Augy Syahailatua menjelaskan, wilayah maritim Ambon memiliki potensi ‘laut dalam’ yang perlu semakin dikembangkan kajian penelitiannya. Laut dalam di Ambon mencapai lebih dari 5.000 meter.

“Namun sarana prasarana laboratorium di LIPI Ambon perlu ditingkatkan agar kegiatan penelitian ‘laut dalam’ bisa maksimal”, ungkap Dr. Yosmina Helena Tapilatu, peneliti senior LIPI Ambon.

Di samping itu, penelitian di Indonesia belum maksimal karena belum ditunjang dengan dana Research and Development (R&D) yang cukup, dana R&D di Indonesia saat ini kurang dari 0,1% Gross Domestic Product (GDP), sedangkan Singapura, Malaysia, dan Thailand diatas 0,5% GDP, demikian jumlah peneliti di Indonesia masih kurang yaitu dibawah 1000 peneliti/1 juta penduduk, sedangkan Malaysia 2500, Singapura 7000, dan Korea Selatan 8000 peneliti/1 juta penduduk, ungkap Dr. Victoria Lelu Sabon, Kaprodi Green Economy Universitas Surya.

Terlepas dari kekurangan tersebut, perlu diapresiasi bahwa saat ini telah terjalin kolaborasi penelitian ‘laut dalam’ di Ambon antara University of Maryland, LIPI Ambon, dan Universitas Patimura.

“Penelitian ‘Laut Dalam’ akan melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Pattimura, tentu hal ini akan semakin meningkatkan penelitian dan potensi kemaritiman Indonesia’, imbuh Dr. Jusuf Madubun, Wakil Rektor Universitas Pattimura. (Victoria)