Ditjen SDID – Coventry University Sediakan Beasiswa untuk Anak Bangsa Berprestasi

Senin, 8 Januari 2018 | 16:27 WIB


JAKARTA – Setelah memberikan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bidang kesehatan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, Ph.D., Coventry University Inggris kembali melanjutkan hubungan baik dengan Indonesia. Sebagai bentuk tindak lanjut pengakuan keahlian Ghufron tersebut, Coventry University menyediakan dua beasiswa pascasarjana senilai 10 ribu pound sterling yang diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi di Tanah Air. Baik Ghufron dan Coventry University kemudian sepakat memberi nama beasiswa ini “Coventry University (CU) – Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Scholarship”.

Ghufron menjelaskan, yang membedakan dari CU – SDID Scholarship dengan beasiswa studi lainnya adalah calon penerima harus dari kalangan tidak mampu secara ekonomi. Meski begitu, kualifikasi akademik tetap diperhatikan. Tak main-main, persyaratan IPK calon pendaftar minimal 3,50.

“Di samping untuk mahasiswa kurang mampu dan harus memenuhi IPK minimal yang ditentukan, calon penerima beasiswa juga harus menguasai bahasa Inggris. Nilai minimal IELTS 6,5 atau TOEFL minimal 550. Sedangkan bidangnya karena ini tindak lanjut dari pemberian gelar Honoris Causa beberapa waktu lalu maka satu penerima untuk bidang kesehatan, satu penerima lagi bebas,” tutur Ghufron di Gedung D Kemristekdikti, Jakarta, Jumat (5/1).

CU – SDID Scholarship dibuka untuk studi S-2 di Inggris tahun ini tanpa ada batasan usia untuk para penerimanya. Kendati demikian, Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengungkapkan, tak mudah mencari kandidat yang sesuai persyaratan, terutama terkait kemampuan bahasa Inggris. Oleh sebab itu, jika ada kandidat yang potensial namun terkendala persyaratan kemampuan bahasa asing, pihaknya akan memfasilitasi kursus bahasa Inggris melalui bridging program.

“Mulai studi kira-kira September, sehingga jika pada Maret atau April sudah ada calon penerima yang sesuai kriteria mereka dapat mengikuti kursus penguatan bahasa Inggris selama kurang lebih tiga bulan. Mungkin penerima bidikmisi atau AdiK Papua bisa berkesempatan mengikuti beasiswa ini, tetapi bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta juga terbuka kalau memang dari kalangan kurang mampu dan memenuhi syarat, ” ucapnya.

Pemberian beasiswa pascasarjana melalui CU – SDID Scholarship, diakui Ghufron, memberi harapan baru pada peningkatan jumlah pakar di bidang jaminan kesehatan. Sebagai salah satu tokoh yang berperan mengembangkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Indonesia, Ghufron ingin lulusan beasiswa ini ikut berperan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi BPJS dalam memberikan layanan kesehatan di masa mendatang. Sehingga, para penerima diminta untuk kembali ke Tanah Air ketika sudah menuntaskan studinya.

Lebih lanjut, Ghufron berharap setelah lulus para penerima CU – SDID Scholarship mampu berkontribusi tidak hanya di lingkup Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional, seperti membuat draft Sustainable Development Goals (SDGs) atau berkiprah di World Health Organization (WHO). Terkait keberlanjutan program beasiswa, pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1962 itu mengupayakan penambahan kuota beasiswa di jenjang Doktor.

“Kami juga akan mengupayakan menyediakan 9-10 beasiswa PhD di Inggris. Selain itu, juga terdapat sejumlah beasiswa yang masih on going, seperti dari AMINEF, beasiswa PMDSU, serta beasiswa untuk dosen di perguruan tinggi negeri baru (PTNB),” sebut Ghufron.

Executive Dean of the Faculty of Health and Life Sciences, Profesor Guy Daly menambahkan, seleksi CU – SDID Scholarship dilakukan melalui dua proses. Pertama, yakni memberikan kelonggaran kepada pihak Ditjen SDID untuk menyeleksi kandidat potensial berdasarkan syarat yang ditentukan. Setelah itu, seleksi kedua dilakukan oleh pihak Coventry University, sesuai dengan standar akademik kampus. Pada kesempatan yang sama, Guy Daly juga memaparkan latar belakang pemberian beasiswa yang baru pertama kali dilakukan setelah Prof Ghufron dikukuhkan meraih gelar Doktor Honoris Causa November lalu.

“Prof Ghufron sudah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Coventry University lantaran kami ingin mengakui kiprah beliau dalam menyediakan pelayanan kesehatan untuk semua orang. Hal ini sesuai dengan misi Coventry University untuk melahirkan pakar jaminan kesehatan di masa depan. Untuk itu, selain memberikan penghargaan, kami ingin melanjutkan hubungan baik ini dengan memberikan beasiswa pendidikan,” kata pria yang juga menjadi pakar jaminan kesehatan di Inggris tersebut.

Sementara itu, Direktur Kepatuhan Hukum dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan, Bayu Wahyudi menyambut baik kerja sama Coventry University dengan Ditjen SDID terkait pemberian beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu yang berprestasi. Menurut dia, dengan kapabilitas dan networking para lulusannya nanti, dapat menjadi aset bagi bangsa Indonesia, terutama pada upaya memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, tidak hanya bagi kalangan ekonomi atas, tetapi juga mencakup masyarakat miskin.

“Prinsipnya adalah meningkatkan learning individual, meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Dengan era keterbukaan dan transformasi, tentu kalau orang yang memiliki kapabilitas dapat mengakses itu. Tidak sempit harus bekerja di instansi pemerintah. Apalagi dengan networking di negara maju seperti Inggris mereka saya harap punya akses memajukan kesehatan di Indonesia. Jadi, kita membangun agar punya akses dan mengangkat menjadi agent of change, bisa memberikan motivasi dan menciptakan pemikiran, seperti SDGs, dan pemikiran lainnya yang bisa diimplementasikan di level nasional, regional, bahkan hingga internasional,” tukas Bayu. (ira)