Visioner Sejak Kecil, Kiprah Ali Ghufron Mukti di Bidang Kedokteran Mendunia

Jumat, 24 November 2017 | 18:52 WIB


MENJADI sakit itu tidak enak. Apalagi saat berobat ke dokter ternyata malah dimarahi dan harus membayar mahal.

Pengalaman yang amat melekat pada benak Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), : Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., Ph.D. kecil itu nyatanya menjadi pemantik sebuah cita-cita sederhana nan luhur; keinginan menjadi dokter dan membantu banyak orang. Belakangan, ia mewujudkan visi itu dengan ikut menginisiasi sistem jaminan kesehatan masyarakat dan ikut membidani lahirnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Perjalanan ke dokter seorang diri puluhan tahun itu membuat saya berpikir, dokter ternyata seperti ini. Lalu tercetus keinginan untuk menjadi dokter. Jika jadi dokter, saya bisa bantu banyak orang mengakses kesehatan,tidak usah bayar, tapi enggak usah dimarahi juga. Jika saya menjadi dokter yang seperti itu, tentu akan sangat berbeda,” kenang Ghufron.

Nyatanya, perjalanan mewujudkan visi tersebut jauh dari kata sederhana. Ghufron kecil harus menghadapi berbagai tantangan hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lahir di Blitar pada 17 Mei 1962, Ghufron merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Sang ayah, Imam Mukti, adalah seorang petani yang juga penjahit dari Kabupaten Ngawi. Sedangkan ibundanya, Siti Qanaah, dari Klaten, mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga yang berjualan pakaian di pasar sambil mendidik anak-anaknya.

Sebagai anak laki-laki tertua, pria yang menikmati memetik gitar itu punya tanggung jawab lebih, mengingat tiga adiknya masih kecil. Setiap pagi, ia harus membereskan berbagai pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan menimba air dari sumur untuk memenuhi bak mandi, hingga membawa barang dagangan ke pasar. Tak heran, Ghufron sering kali terlambat ke sekolah.

Ia turut membantu sang ayah menjadi petani di sawah. Mengayuh sepeda dengan beban berat barang dagangan hasil jahitan orangtua ke daerah pegunungan tetangga yang jaraknya 15 km juga hal biasa untuk Ghufron.

“Namanya juga anak-anak, terkadang saya malu kalau dilihat teman saat bawa dagangan. Jadi saya menunggu mereka lewat terlebih dulu. Tapi saya semangat menjalaninya, yang penting membantu orangtua,” tuturnya.

Seperti kebanyakan teman sepermainannya, Ghufron menjalani masa pendidikan dasar hingga menengah atas di Blitar. Menjelang lulus dari SMAN 1 Blitar, penyuka soto itu pun menetapkan tiga kota sebagai tempat tujuan studi; Bandung, Malang dan Yogyakarta.

“Saya pilih Bandung karena ingin mengikuti jejak Bung Karno, sesama orang Blitar, kuliah di ITB, lalu jadi orang yang berkiprah demi bangsa. Kalau Yogyakarta, saya ingat waktu itu Roy Marten main film ‘Cintaku di Kampus Biru’. Selain itu, cukup banyak keluarga di Yogyakarta. Ibu juga aslinya dari Klaten,” papar Ghufron.

Menyadari sulitnya kondisi finansial keluarga, ia pun putar otak agar bisa mengongkosi pendidikan tinggi di salah satu kota tersebut. Ghufron berpikir, ia harus mengantongi keahlian yang bisa dipakai untuk mencari biaya kuliah.

“Saya kursus apa yang bisa cepat, uangnya cukup, tapi kerjanya tidak begitu sulit,” ujarnya.

Pilihan Ghufron jatuh pada membuat perhiasan, khususnya anting-anting, dari berbagai batu permata dan berlian. Sepulang sekolah semasa SMA, Ghufron nyantrik atau ngenger (magang tanpa dibayar) di salah satu tukang perhiasan sejauh 15 km dari rumah. Tujuannya satu; belajar supaya memiliki keahlian dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk nanti biaya kuliah. Tak hanya membuat, Ghufron juga belajar memasarkan perhiasan itu.  Bahkan sang ayah pun akhirnya belajar darinya untuk membuat perhiasan.

Setelah menjalani ujian masuk perguruan tinggi di Malang, FK UGM-lah yang menjadi almamater pertama Ghufron pada 1982. Ia menumpang di rumah salah seorang paman di Yogyakarta. Untuk menambah uang saku, Ghufron berjualan perhiasan. Biasanya, ia kulakan ke toko perhiasan di Klaten. Berhubung sudah kenal dengan pemiliknya, Ghufron dipercaya mengambil barang terlebih dulu.

“Sebenarnya saya ingin buat perhiasan sendiri, tapi tidak punya cukup waktu. Jadi saya hanya ambil berbagai macam perhiasan untuk dijual. Saat belajar ke tempat teman, saya tawari ke orangtua mereka. Mungkin karena kasihan atau memang tertarik pada dagangan perhiasan itu sendiri, banyak juga yang beli. Uangnya saya tabung dan untuk keperluan kuliah,” tuturnya.

Kreativitas Ghufron tidak berhenti di situ. Selain berjualan perhiasan, ia juga ikut membuat berbagai HSC atau diktat kuliah untuk teman-teman dengan mengganti biaya produksi. Saat kuliah, kursi di barisan depan kelas menjadi tempat favorit Ghufron. Di sana, ia tekun mencatat semua materi yang disampaikan dosen. Sampai di rumah, materi kuliah tadi ia ketik rapi, lalu diperbanyak dengan cetak stensil dan sesama mahasiswa kedokteran mengganti biaya produksi. Siapa sangka, proses produksi diktat kuliah ini membuatnya bisa belajar lebih dulu dari teman-teman sekelas.

“Saya juga bisa berdiskusi dengan dosen tentang berbagai hal yang tidak saya mengerti. Maklum, buku kuliah amat mahal, jadi harus rajin bertanya. Dampaknya, saya jadi kenal dengan para dosen,”  imbuh Ghufron.

Ghufron menyandang gelar Sarjana Kedokteran dari FK UGM pada 1986. Setelah dua tahun masa Ko-Ass, ia pun resmi menjadi dokter pada 1988. Alih-alih menjalani program profesi spesialis, pria yang kerap menjadi dosen tamu di berbagai negara itu memilih melanjutkan studi S-2 di Mahidol University, Bangkok, Thailand, pada 1991. Studi S-3 ia tamatkan di University of Newcastle, Australia, pada 2000. Langkah akademis ini ia ambil untuk mewujudkan visi masa kecilnya, yaitu membantu masyarakat luas, melalui profesi dokter. Menginisiasi program jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) menjadi jalan Ghufron. Ia yakin, sistem ini memungkinkan banyak orang miskin mampu menjangkau fasilitas kesehatan.

“Saya kasihan pada orang miskin karena saya sendiri mengalaminya. Selain itu, saya tidak sabaran untuk menjalani program spesialis. Dan saya juga berpikir, saya hanya akan membantu satu demi satu orang jika menjadi dokter spesialis. Tapi dengan memilih menekuni bidang jaminan kesehatan, saya bisa membuat sistem yang membantu jutaan orang secara serentak,” paparnya.

Pada 2002, Ghufron meraih gelar profesor di usia 40 tahun. Sebuah usia yang amat muda sebagai profesor di bidang kedokteran. Dengan berbagai capaian luar biasa yang telah diraih, di usianya yang ke-48 atau tepatnya 2008, Ghufron ditunjuk sebagai dekan FK UGM. Prestasinya di bidang kesehatan semakin gemilang ketika ia dipanggil ke Jakarta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 2011 kala itu, Ghufron yang masih menjadi Dekan dipercaya menjadi Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Dari posisi inilah Ghufron berperan sebagai penentu kebijakan dalam implementasi sistem jaminan kesehatan hingga ikut mengembangkan BPJS.

“Awal pembentukan BPJS di tahun 2012-2013 itu tantangannya berat. Waktu itu, masih banyak orang tidak paham apa itu konsep jaminan. Jadi kalau rapat, kita sibuk menjelaskan atau berdebat kalau sudah jelas atau sepakat. Kemudian meeting dengan tim yang berasal dari berbagai kementerian. Jika yang datang ganti orang, harus menjelaskan atau debat dari awal lagi, makan waktu. Selain itu, kami juga harus membangun persepsi yang masih belum sama di antara para pemangku kepentingan, termasuk dengan DPR, bagaimana organisasinya, manajemen, pembiayaan, paket manfaat dan aspek lainnya. Tentu itu tidak mudah,”  urai pemilik gelar Pakar Kedokteran Keluarga (PKK) dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu.

Tidak sampai di situ, di tahun yang sama Ghufron juga harus menjadi Plt. Menkes menggantikan Endang Rahayu. Ketua Pokja Persiapan Implementasi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan itu bercerita, dalam kurang lebih setahun Pokja, mereka harus bisa menghasilkan 10 peraturan pemerintah, 8 peraturan presiden, dan peraturan Menteri. Usahanya pun tak sia-sia, meski harus mengemban tanggung jawab yang cukup besar, Ghufron kala itu akhirnya mampu memperjuangkan sebanyak 86,4 juta orang miskin untuk diberi jaminan kesehatan oleh pemerintah.

Selesai menjalankan tugasnya di Kementerian Kesehatan, per 2015 Ghufron melanjutkan kariernya dengan menjabat sebagai Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekditi). Posisi yang masih dijabat hingga saat ini mengharuskan Ghufron untuk melakukan terobosan guna meningkatkan mutu sumber daya manusia, khususnya di ranah ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan tinggi. Perjuangannya dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin pun bergeser menjadi mengupayakan kapasitas serta kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan di Tanah Air.

“Pada Pendidikan tinggi, khususnya dalam hal sumber daya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, salah satunya adalah membangunkan para dosen supaya produktif menulis jurnal,” sebutnya.

Ghufron juga memikirkan kebutuhan sumber daya manusia unggul untuk memperkuat daya saing bangsa. Di bidang kesehatan misalnya, PJs Rektor Universitas Trisakti sejak 2016 itu membangun Komite Bersama dengan Kementerian Kesehatan dalam rangka mengembangkan Academic Health System (AHS), yakni sebuah sinergi antara Fakultas Kedokteran dengan rumah sakit terkait Pendidikan, penelitian, serta pelayanan kesehatan. Di samping itu, ia juga fokus pada pembangunan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) di berbagai universitas.

Sepak terjang Ghufron dari mulai menghadapi permasalahan bidang kesehatan hingga pendidikan itu kemudian membuahkan pengakuan secara internasional. Ia pernah mendapatkan ucapan terima kasih dan penghargaan dari WHO atas kiprahnya selama dua tahun ikut merumuskan strategi global  SDM kesehatan dunia tahun 2030. Bahkan, November ini, pria yang sudah menerbitkan lebih dari 40 jurnal medis itu menerima gelar doktor kehormatan dalam bidang kesehatan dari Coventry University di Inggris. Kendati demikian, Ghufron menilai penghargaan tersebut menjadi motivasi dan inspirasi untuk melakukan kontribusi yang lebih besar bagi negara di masa depan.

“Masih banyak cita-cita yang ingin saya wujudkan. Setelah pendidikan dan kesehatan, kontribusi berikutnya, saya ingin melalui bidang ekonomi. Sebab menurut saya, negara harus hadir di ketiga lini utama itu. Sehingga jika sehat masyarakatnya, terdidik bangsanya, dan sejahtera kehidupannya, maka tugas negara pun selesai,” simpul Ghufron. (rifa)