Ali Ghufron Mukti Meraih Doktor Honoris Causa Bidang Kesehatan dari Coventry University Inggris

Selasa, 21 November 2017 | 20:41 WIB


COVENTRY – Nama Indonesia kembali harum di kancah internasional. Melalui jalur akademik, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., Ph.D mendapat gelar prestisius berupa Doktor Honoris Causa bidang kesehatan dari Coventry University di Inggris. Pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1962 ini bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar kehormatan dari Coventry University.

Menjabat sebagai Dirjen di Kemristekdikti, nama Ali Ghufron Mukti memang tidak asing di dunia kesehatan. Sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Ghufron pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) di masa Kabinet Indonesia Bersatu II, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada saat itulah, Ghufron berkontribusi ikut menginisiasi sistem jaminan kesehatan masyarakat dan ikut membidani lahirnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Pencapaian ini pun sangat disyukuri oleh pria yang gemar bermain gitar itu. Meski ini bukan prestasi pertamanya di level internasional, bagi Ghufron pemberian gelar Doktor Honoris Causa merupakan sebuah pengakuan atas kepakarannya. Momentum ini juga semakin memacu Ghufron untuk terus berkontribusi kepada bangsa dan negara. Apalagi, kini ayah tiga anak itu mengemban amanah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dipercaya untuk mendapat Doktor Kehormatan, apalagi ini dari institusi pendidikan tinggi di Inggris. Ini juga merupakan apresiasi bagi bangsa Indonesia,” tutur Ghufron, Selasa (21/11).

Atas pengakuan tingkat internasional tersebut, pria yang saat ini juga menjabat sebagai Rektor Universitas Trisakti itu berharap, pencapaiannya dapat menjadi inspirasi dan teladan, khususnya bagi generasi muda.

“Saya yakin anak muda bisa berperan banyak dalam pembangunan. Dahulu saya bercita-cita menjadi seorang dokter agar bisa menolong orang lain, apalagi saat itu biaya pengobatan mahal. Setelah saya berhasil menjadi dokter, saya ingin membangun sistem jaminan kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, saya memutuskan melanjutkan studi S-2 dan S-3. Jadi, kuncinya adalah ketajaman visi dan panggilan hati,” tegasnya.

Tak hanya itu, setelah sukses di bidang kesehatan dan pendidikan, ke depan Ghufron ingin merambah bidang ekonomi. Menurut dia, jika tiga sektor itu berjalan dengan baik, maka tugas negara pun selesai. “Karena saya menilai kesehatan, pendidikan, dan ekonomi itu sama-sama penting dalam pembangunan sebuah negara. Jadi sehat warganya, terdidik bangsanya, dan sejahtera kehidupannya,” terang Ghufron.

Pengukuhan Ghufron sebagai peraih gelar Doktor Kehormatan bidang kesehatan dari Coventry University sendiri tak terlepas dari peran sang promotor, Prof. Guy Daly. Ia mengungkapkan, rekam jejak dan sepak terjang Ghufron dalam meningkatan mutu kesehatan di Indonesia membuatnya layak untuk meraih gelar Honoris Causa. Salah satu hal yang membuat Prof Daly kagum adalah komitmen dan konsistensi Ghufron dalam hal membangun sistem jaminan kesehatan yang mudah diakses dan berkelanjutan.

“Prof Ali Ghufron Mukti menjelaskan bahwa banyak tantangan yang dialami oleh negara berkembang, khususnya dalam kesehatan. Di sisi lain, jumlah penderita penyakit, seperti jantung, diabetes, kanker, obesitas kian meningkat. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya penanganan risiko melalui BPJS, termasuk menyediakan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas,” papar Prof Daly.

Prof. Guy Daly menambahkan, pemberian gelar Doktor Kehormatan kepada Ghufron tidak hanya sebagai apresiasi dan pengakuan, tetapi juga menjadi pintu gerbang untuk melakukan kerja sama lebih lanjut. Saat ini, keduanya tengah berdiskusi untuk megembangkan cara meningkatkan kapasitas tenaga perawat.

“Selamat dan sukses untuk Prof Ali Ghuron Mukti. Semoga semakin banyak capaian yang akan diraih, dan momen ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bekerja sama membangun sistem kesehatan di Indonesia, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, serta melakukan kolaborasi riset terkait kesehatan atau medis,” uncap pria yang baru mengenal Ghufron pada Maret 2017 tersebut.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Dr Rizal Sukma menilai, penobatan Ghufron sebagai penerima Doktor Honoris Causa merupakan salah satu bentuk diplomasi dalam konteks akademik yang akan mempererat kerja sama antara Indonesia dengan Inggris, khususnya dalam hal pendidikan. Artinya, imbuh dia, penghargaan tersebut bukan sekadar penghargaan akademik tinggi, tetapi juga pengakuan terhadap hasil kerja keras Ghufron ketika ikut serta mengembangkan BPJS Kesehatan.

“Saya kira ini kebanggaan bagi Indonesia, khususnya kami di KBRI. Artinya, Coventry University melihat prestasi yang selama ini dihasilkan oleh seorang Ali Ghufron Mukti,” sebut Rizal.

Apresiasi yang diraih Ghufron di Coventry University, Inggris turut membuat orang terdekat, seperti rekan dan kolega ikut berbangga. Direktur Kepatuhan, Hukum, dan Hubungan Antar Lembaga BPJS, Dr.dr.H. Bayu Wahyudi. SpOG. MPHM. MHKes.MM mengungkapkan, capaian yang diraih Ghufron menjadi spirit tersendiri bagi BPJS untuk melakukan pelayanan yang optimal. Di samping itu, juga semakin memperluas networking dengan institusi internasional yang dalam hal ini adalah Coventry University.

“Kami turut bergembira dan bangga atas prestasi tersebut yang merupakan pengakuan kemampuan dan kompetensi beliau di bidang social insurance secara internasional, khususnya dari Coventry University. Semoga beliau dapat menjadi team work dalam mengembangkan social insurance di Indonesia, sekaligus membagi pengalaman dan pengetahuannya. Sehingga dalam mengimplementasikan program JKN dan KIS di Indonesia lebih baik, serta menjadi komunikator dan koordinator untuk bekerja sama dengan dunia luar,” tukas Bayu. (ira)