Membangun Profesionalisme Dosen untuk Daya Saing Bangsa

Senin, 2 Oktober 2017 | 13:45 WIB


Jakarta – Suatu perguruan tinggi tidak akan menghasilkan lulusan yang berkualitas tanpa peran Dosen yang profesional. Di sisi lain, lulusan perguruan tinggi merupakan harapan dalam mewujudkan cita-cita bangsa sekaligus menjadi kekuatan untuk menghadapi persaingan global.

“Tidak ada perguruan tinggi yang baik tanpa Dosen yang baik. Untuk itu, Dosen harus profesional, Begitu juga organisasi Dosen juga memiliki peran penting,” tutur Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti Pada HUT Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) ke-19 sekaligus Pembukaan Global Educational Supplies and Solutions GESS di Jakarta Convention Center, Rabu (27/9).

Ghufron mengungkapkan, tugas Dosen tidak cukup mengajar saja, tetapi juga meneliti dan berinovasi. Beberapa tahun lalu, Dosen Indonesia tidak produktif dalam menghasilkan publikasi dan inovasi. Padahal, dua komponen tersebut sangat berpengaruh dalam penilaian kampus kelas dunia. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar Pemerintah mengeluarkan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

“Aturan ini dilakukan untuk mendorong profesor, lektor kepala, dan lektor untuk menulis publikasi. Jumlah Dosen kita itu ada sekira 245 ribu, tetapi yang guru besar baru sekira 3%. Kami lalu membuat berbagai terobosan, salah satunya dengan memudahkan untuk mengurus guru besar. Kami harap ini dimanfaatkan oleh para Dosen,” sebutnya.

Profesionalisme Dosen, lanjut Ghufron, juga ditentukan oleh sertifikasi profesi. Sayangnya, jumlah dosen yang tersertifikasi belum mencapai setengahnya. Padahal, setiap tahun Kemristekdikti menyediakan kuota sebanyak 10.000 untuk sertifikasi Dosen.

“Kuota sertifikasi Dosen ada 10.000, tetapi banyak yang tidak lulus. Pada bagian deskripsi diri banyak yang menyalin, ini tidak boleh dilakukan,” ujar Ghufron.

Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menambahkan, sebagai pihak yang berperan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, seorang dosen harus menjunjung tinggi integritas dan moral. Sedangkan terkait menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di masa depan, Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti juga tengah merancang Grand Design pendidikan tinggi untuk menentukan kebutuhan lulusan.

“Kami menyusun Grand Design sumber daya iptek dikti untuk menghitung kebutuhan insinyur, tenaga kesehatan, dan guru hingga 2024. Perhitungan ini menjadi pertimbangan dalam pembukaan program studi di perguruan tinggi sehingga jangan sampai menghasilkan lulusan besar tetapi tidak sesuai dengan prioritas yang dibutuhkan,” jelas Ghufron.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan ADI, Sylviana Murni turut mendukung upaya Pemerintah dalam rangka membangun profesionalisme Dosen Indonesia. Adapun salah satu yang dilakukan ADI, yakni menggandeng para Diaspora untuk membuka E-Journal. Dalam acara itu, hadir pula Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Jumain Appe yang memberikan pengarahan kepada dosen mengenai tantangan menghasilkan produk riset dan inovasi.

“Kerjasama dengan Diaspora antara lain membuka E-journal dosen ADI dan dosen Diaspora, memfasilitasi komunikasi antara dosen ADI dan dosen Diaspora melalui milis, melakukan pairing antara dosen Diaspora dan dosen ADI yang memiliki kesamaan bidang atau kesamaan riset, melakukan program kunjungan akademik, pertukaran informasi mengenai kesempatan beasiswa atau grant program bagi dosen ADI ke luar negeri, dan lain sebagainya,” tukas Sylviana. (ira)