Mengejar Doktor Muda Demi Impian Gelar Profesor

Jumat, 29 September 2017 | 13:39 WIB


Lahir dari orangtua berlatar belakang pendidik membuat Asdam Tambussay memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan infrastruktur multinasional. Lolos seleksi program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), pria berusia 27 tahun itu memilih melanjutkan studi Doktor dan banting stir menjadi seorang ilmuwan.

“Buat saya, melanjutkan studi dan mendapatkan gelar Doktor bukan hanya sekadar prestige saja, tetapi merupakan batu loncatan untuk menjadi seorang tenaga ahli dan melanjutkan ke gelar pendidikan tertinggi, yakni Profesor,” ujarnya ditemui usai sidang terbuka promosi Doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), belum lama ini.

Melalui program beasiswa yang diinisiasi oleh Direktorat Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu, pilihan Asdam jatuh pada Jurusan Teknik Sipil, Program Pascasarjana ITS. Dia kemudian menempuh jenjang Master selama satu tahun, dilanjutkan dengan jenjang Doktor selama tiga tahun. Total, ada 85 SKS yang telah dituntaskan Doktor muda ini. Meski terasa berat, Asdam akhirnya berhasil menyelesaikan disertasinya dalam jangka waktu tiga bulan.

“Di ITS, kami harus menyelesaikan program Master dalam jangka waktu setahun dan tiga tahun untuk program Doktor,” kata Asdam.

Prof. Ir. Priyo Suprobo, M.Sc, Ph.D sebagai promotor merupakan salah seorang yang menjadi penyemangat Asdam dalam menyelesaikan penelitiannya. Pasalnya, segala kendala yang dihadapinya selalu diceritakan kepada sang promotor untuk kemudian mencari jalan keluar bersama.

“Selain dukungan dari promotor, juga doa dari orangtua, serta bantuan teman-teman seangkatan sangat membantu saya dalam menyelesaikan disertasi,” ucapnya.

Program PMDSU juga berhasil membawa Asdam berkelana ke Eropa. Kesempatan ini dia dapatkan ketika mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) ke Heriot-Watt University of Edinburgh, Scotland, United of Kingdom pada tahun ketiga studi. Di sana, Asdam berupaya menyelesaikan penelitiannya tentang Cyclic Behaviour of Slab Clolumn Connections using the Engineered Cementitious Composite.

“Melalui Dr. Benny Suryanto, assistant professor pada Institute for Infrastructure and Environment di Heriot-Watt University of Edinburgh, saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana kondisi akademik dan riset di Inggris sangat berbeda dengan di Indonesia,” kenangnya.

Menurut Adam, di Inggris para periset sangat produktif dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas. Seorang Profesor tidak hanya membimbing mahasiswanya dalam melakukan penelitian, tetapi juga ikut terjun langsung ke lapangan dan membantu mahasiswanya dalam membuat keputusan penting, termasuk dalam pemilihan, pengukuran, serta kualitas material yang digunakan.

Perjuangan Asdam nyatanya tidak sia-sia. Berkat tangan dingin promotor yang tidak pernah bosan membimbing, Asdam dapat menyelesaikan penulisan disertasi menggunakan bahasa Inggris. “Rencana saya nantinya akan melanjutkan program post-doctoral, di mana biasanya meminta disertasi dalam bahasa Inggris. Jika bisa saya kerjakan sekarang, mengapa harus menunggu ketika nanti diminta?”, imbuh Asdam sambil tersenyum.

Asdam sendiri sangat bersyukur lantaran berkat jalinan kerjasama riset yang baik dengan Heriot-Watt University, saat ini dia sudah disiapkan MoU untuk melanjutkan risetnya. Baginya, program PKPI bukan hanya untuk meningkatkan kualitas publikasi internasional, tetapi juga sebagai jembatan penelitian dan kolaborasi riset antara mahasiswa ITS dengan mahasiswa di luar negeri.

Berbicara mengenai penelitiannya, Asdam sangat optimis hasilnya akan sangat bermanfaat bagi pembangunan sektor infrastruktur Indonesia, seperti meminimalisir dari segi struktur dan konstruksi bangunan, juga biaya yang lebih murah dibandingkan jika menggunakan bahan baku beton. Di negara Amerika dan Jepang, lanjut dia, bahan pengganti beton ini telah banyak diaplikasikan berupa high-technology dalam pembangunan berbagai infrastruktur.

“Untuk menumbuhkan iklim riset sebaiknya dengan mengubah pola pikir masyarakat, jangan hanya memikirkan keterbatasan alat atau biaya. Semuanya dapat kita atasi dengan melakukan kerjasama riset dengan universitas lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Di samping itu, ada baiknya juga Pemerintah selain mendukung dalam segi pendanaan riset, tetapi juga memberikan reward agar banyak peneliti dapat mengembangkan riset-risetnya. Kelebihannya dengan mengikuti PMDSU ini, kita diberikan dana khusus untuk melakukan penelitian,” tuturnya.

Ke depan, Asdam berharap program PMDSU ini dapat terus dilanjutkan. Meski begitu, perlu ditelaah kembali mengenai dana penelitiannya. Sebab, untuk dapat menyelesaikan penelitian disertasinya ini, Asdam harus menunggu minimal 70 persen dari total dana penelitian PMDSU-nya cair. Sementara dia harus membeli material yang memakan biaya tidak murah. Oleh sebab itu, enam bulan terakhir sebelum kelulusan, Asdam bekerja keras mati-matian menyelesaikan penelitiannya di lapangan, sedangkan waktu menunggu pendanaan cair itulah yang banyak dipergunakan Asdam untuk menulis publikasi ilmiah internasionalnya.

“Sebaiknya jangan dipukul rata dana riset untuk setiap bidang ilmu, karena setiap ilmu memiliki biaya riset yang berbeda-beda”, ungkapnya.

Hingga saat ini, Asdam telah menghasilkan sebanyak lima publikasi ilmiah internasional terindeks Scopus, dan satu buah jurnalnya masih menunggu proses reviewer. Dia juga rajin mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan bidang ilmunya, terbukti dengan dihasilkannya proceeding di dalam negeri sebanyak empat buah dan proceeding luar negeri sebanyak satu buah. Penghargaan sebagai best presenter dan best paper dalam bidang teknik sipil juga telah diperolehnya sebanyak empat kali, di mana satu kali di antaranya diperolehnya dalam bidang teknik mesin di Korea Selatan.

“Untuk berhasil melewati pendidikan PMDSU ini dengan baik, kita harus memiliki integritas dan kegigihan serta kemauan tinggi, karena waktu yang kita miliki sangat terbatas. Laporkan apapun yang kita hasilkan, baik keberhasilan atau kegagalan penelitian kita kepada promotor. Jadikan kritik menjadi motivasi kita dalam memperbaiki hasil penelitian”, tutupnya. (indri)