Bawa Nama Indonesia, 50 Dosen Penerima BUDI-LN Patut Berprestasi

Selasa, 26 September 2017 | 16:35 WIB


Jakarta – Sebanyak 50 dosen dipastikan lolos seleksi Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Luar Negeri (BUDI-LN) Tahun 2017. Sebelum mulai berangkat ke negara tujuan masing-masing, para dosen tersebut mengikuti Lokakarya Pra Keberangkatan sekaligus Pembekalan yang diadakan oleh Direktorat Kualifikasi SDM Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Pada kegiatan ini, mereka mendapat arahan langsung dari Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti dan sejumlah jajaran Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Program BUDI-LN sendiri merupakan kolaborasi antara Kemristekdikti dengan LPDP sebagai pihak pengelola beasiswa. Pada kesempatan tersebut, Ali Ghufron Mukti mengingatkan kepada para dosen untuk disiplin selama menempuh studi. Pasalnya, mereka terpilih melalui persaingan yang sangat ketat dengan ribuan pendaftar BUDI-LN lainnya.

“Anda terpilih dari proses seleksi yang sangat kompetitif. Dari ribuan yang mendaftar, hanya dipilih 50 penerima. Seleksi dilakukan dengan me-ranking, dan terpaut nilainya juga sangat tipis. Untuk itu, Anda yang terpilih ini wajib memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, dan disiplin selama studi,” tuturnya saat memberikan sambutan Lokakarya Pra Keberangkatan BUDI-LN di Hotel Ambhara, Jakarta, Senin (25/9).

Ghufron menjelaskan, melanjutkan S-3 di dalam atau luar negeri sama bagusnya. Kendati demikian, para dosen yang lolos BUDI-LN memiliki tugas tambahan, yakni sebagai duta bangsa yang membawa nama Indonesia di kancah dunia. Para penerima BUDI-LN harus mampu membuktikan keunggulan dan potensi yang dimilikinya dengan mengukir prestasi dan menghasilkan inovasi.

“Ketika pulang Anda harus membawa pulang ilmu, teknologi, dan inovasi yang bisa digunakan untuk memajukan pendidikan tinggi di Tanah Air. Buktikan bahwa Indonesia mampu berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” terangnya.

Lebih lanjut, Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menargetkan kepada para penerima BUDI-LN untuk menghasilkan publikasi internasional bersama profesor kelas dunia. Menurut Ghufron, sebelum diterbitkan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, banyak dosen yang masih tidur atau kurang produktif. Alhasil, di akhir 2014 jumlah publikasi internasional Indonesia baru di angka 4.200 publikasi, jauh di bawah negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Padahal dosen kita itu mencapai 265 ribu orang.  Meski awalnya Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 ini banyak yang mempertanyakan bahkan menentang, ternyata hasilnya sangat berpengaruh. Saat ini posisi publikasi kita yang terindeks Scopus sudah menyalip Thailand. Pertengahan tahun melampaui 12 ribu publikasi,” sebut Ghufron.

Lokakarya yang digelar hingga larut malam itu sama sekali tak mengurangi antusiasme para penerima BUDI-LN. Hadir sebagai pembicara berikutnya, yaitu Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA. Pada kesempatan itu, M. Nuh memberikan materi terkait Overview Nawacita Pemerintah di Bidang Pendidikan, Dosen sebagai Pencetak SDM Unggul Indonesia.

“Tidak semua orang bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Yang kuliah pun belum tentu bisa lulus, apalagi sampai di jenjang S-3. Sebagai orang yang memiliki kesempatan tersebut, Anda semua harus berprestasi dan juga konsisten,” ucap Nuh.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menambahkan, seorang dosen harus memiliki kemampuan membaca perubahan. Terlebih, tantangan yang dihadapi ke depan semakin rumit karena ilmu berkembang. Oleh sebab itu, dalam hal mengajar juga perlu disesuaikan dengan zaman.

“Ketika pulang tiga atau empat tahun lagi harus punya bayangan bahwa zaman, teknologi, dan ilmu pengetahuan akan semakin berkembang. Tidak bisa kita mendidik mahasiswa seperti zaman kita dahulu. Ini patut diperhatikan Anda semua saat mengabdikan diri untuk bangsa nanti,” ujarnya.

Lokakarya Pra Keberangkatan Penerima BUDI-LN dilaksanakan selama dua hari. Selain dibuka oleh Dirjen Ghufron, kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Kualifikasi Sumber Daya Manusia, Mukhlas Ansori; Plt Direktur Utama LPDP, Luky Alfirman; dan Plt Direktur Beasiswa LPDP, Sofwan Effendi. Sedangkan di hari kedua kegiatan lokakarya akan diisi oleh sejumlah pemateri, di antaranya Kasubdit Kualifikasi Pendidik Direktorat Kualifikasi SDM, Juniarti D. Lestari; Kepala Divisi Penyaluran DKP, Rumtini; Kasubag Kerja Sama Ditjen SDID, Anis Apriliawati, serta Edwan Kardena dari Institut Teknologi Bandung (ITB). (ira)