PMDSU Cetak Doktor Termuda di Indonesia

Jumat, 22 September 2017 | 22:38 WIB


Grandprix Thomryes Marth Kadja sudah terbiasa mempresentasikan hasil penelitiannya di depan orang banyak. Namun siapa sangka, menjelang sidang terbuka promosi Doktor, tiba-tiba dia merasa gugup. Bukan karena tak siap materi, melainkan lantaran kedua orangtuanya datang jauh-jauh dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk hadir di hari bersejarah tersebut.

Hari ini, Jumat 22 September 2017 Grandprix menjadi buah bibir karena gelar Doktor yang diraihnya. Berkat program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Grandprix berhasil lulus studi S-3 di usia 24 tahun. Titel tersebut mengantarnya menjadi Doktor termuda di Indonesia, bahkan diakui oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

“Sebelumnya saya sudah sidang tertutup, tetapi malah lebih deg-degan waktu sidang terbuka. Saya belum pernah sidang di depan orangtua sendiri,” ujarnya saat dihubungi usai sidang terbuka, Jumat (22/9).

Bagi Grandprix, PMDSU telah mewujudkan mimpinya untuk menjadi peneliti handal. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan hal-hal berbau sains. Pria yang sempat bercita-cita menjadi seorang astronot itu mengawali pendidikan dasar dengan masuk SD pada umur lima tahun. Grandprix kembali loncat kelas ketika SMA, yakni mengikuti program akselerasi. Alhasil, usianya pada saat masuk kuliah S-1 baru 16 tahun. Lulus S-1 dari Universitas Indonesia (UI) di umur 19 tahun, dia lalu melanjutkan studi S-2 sekaligus S-3 menggunakan beasiswa PMDSU di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Kimia .

“PMDSU saya ikuti pada 2013, dan sangat membantu saya mewujudkan ini semua. Program ini harus terus berlanjut. Batch di bawah saya dan selanjutnya juga harus lebih baik,” ucapnya bersemangat.

Bagi Grandprix, menjalani studi S-3 di usia muda tentu tidak mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang ia hadapi. Menurut penyuka Komik Shinchan itu, sarana dan prasarana yang terbatas menjadi salah satu kendala selama penelitian disertasinya tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. Kendati demikian, Grandprix justru semakin bersemangat. Salah satu yang memotivasinya untuk pantang menyerah adalah keluarga.

“Misalnya kita butuh alat tapi mahal dan hanya ada di luar negeri, itu jadi kendala. Tetapi yang memotivasi saya adalah orangtua. Mereka sudah susah payah menyekolahkan sehingga saya tidak mau main-main. Saya harus membanggakan mereka,” tutur lulusan berpredikat cumlaude itu.

Dibimbing oleh Dr. Rino Mukti, Dr. Veinarsi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya, Grandprix menjelaskan bahwa secara garis besar penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa. Hasil dari risetnya adalah material yang mampu mengonversi suatu zat menjadi bahan bakar. Grandprix berharap, ke depan penelitiannya terus berlanjut hingga menghasilkan paten.

Sebagai peneliti muda, Grandprix punya optimisme besar terhadap kemajuan penelitian di Tanah Air. Terlebih, saat ini kesempatan meraih dana penelitian semakin terbuka. Fasilitas laboratorium pun semakin lengkap dan memadai. Selama menempuh PMDSU, Pria kelahiran 31 Maret 1993 tersebut juga mampu membuktikam bahwa dia produktif menghasilkan publikasi internasional.

“Saya sudah menghasilkan sembilan publikasi. Delapan publikasi internasional dan satu publikasi nasional. Tujuh dari publikasi internasional tersebut terindeks Scopus. Saya ingin ke depan target semakin tinggi, tidak hanya terindeks Scopus saja,” kata Grandprix.

Kecintaannya pada bidang yang ditekuninya saat ini membuatnya mantap menjalani profesi sebagai akademisi. Dia ingin menjadi dosen yang mampu menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi. Lebih lanjut, dia berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori oleh orang-orang muda Indonesia.

“Jangan minder karena masih muda. Justru yang muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain. Saya yakin banyak peneliti yang punya ide brilian, namun harus diakui untuk mengeksekusi itu tidak mudah, apalagi kita masih mengalami berbagai keterbatasan,” imbuhnya.

Di akhir wawancara, Grandprix mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan tidak memandang batas negara. Oleh sebab itu, jangan malu untuk belajar dengan negara lain yang lebih maju. Sebaliknya, perlu untuk meningkatkan kolaborasi riset dengan ilmuwan-ilmuwan hebat dunia.

“Tentu harus dijaga hubungan baik dengan profesor maupun komunitas science di luar negeri. Ilmu pengetahuan itu luas tidak memandang batas negara, dari Eropa, Jepang, dan lain sebagainya perlu diakui bahwa kultur risetnya lebih baik. Kita harus banyak belajar,” tutupnya. (ira)