Memetik Inovasi di Ladang Ilmu Pengetahuan

Kamis, 14 September 2017 | 18:46 WIB


Ilmu kedokteran tidak pernah hilang tergerus oleh zaman. Sebaliknya, semakin maju perkembangannya, maka semakin kompleks pula tantangan yang akan dihadapi para dokter. Sebagai dokter, dosen, sekaligus peneliti yang sudah berkiprah selama puluhan tahun, kondisi ini dirasakan betul oleh Profesor Dr. dr. Mulyanto. Menurut dia, pembelajaran di level perguruan tinggi, khususnya bidang kedokteran saat ini telah mengalami kemajuan yang pesat dibandingkan ketika dirinya masih berada di bangku kuliah dahulu.

Profesor Mulyanto lulus sebagai dokter dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1974. Dia kemudian memilih mengabdikan dirinya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Siapa sangka, di sana Mulyanto justru menemukan fakta bahwa angka penderita hepatitis cukup tinggi. Hal ini membuat jiwanya tergugah untuk melakukan penelitian guna menyelesaikan masalah kesehatan. Sejak 1985, secara konsisten dia mengembangkan reagensia untuk diagnosis beberapa jenis penyakit pada manusia.

Berawal dari laboratorium sederhana, Mulyanto berhasil melahirkan inovasi berupa alat pendeteksi cepat dan murah untuk penyakit-penyakit, seperti malaria, hepatitis, hingga Human Immunodeficiency Virus (HIV). Saat ini, produk yang dihasilkan sudah dipasarkan di seluruh Indonesia melalui PT Hepatika. Bahkan, khusus reagensia untuk deteksi malaria sudah digunakan di  Kansai Airport, Osaka, Jepang. Dengan penemuan tersebut, sejumlah penghargaan bergengsi pun telah didapat, di antaranya Habibie Award, dan yang terbaru meraih anugerah Academic Leader dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada puncak perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2017.

Diganjar berbagai prestasi tak lantas membuat Mulyanto lupa akan profesinya sebagai dosen di Fakultas Kedokteran di Universitas Mataram (Unram). Pria kelahiran 25 Mei 1948 itu menginginkan agar perguruan tinggi dapat terus menumbuhkan atmosfer akademis sehingga potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan secara bijak untuk kesejahteraan masyarakat.

“Posisi perguruan tinggi di sebuah bangsa itu menurut saya sangat sentral dan strategis. Perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya para cendekiawan. Sedangkan potensi Indonesia sangat besar. Indonesia adalah ladang ilmu pengetahuan yang sangat subur. Ibarat tanaman, banyak sekali yang belum diketahui dunia,” tuturnya ketika dijumpai, di Universitas Mataram, baru-baru ini.

Mulyanto menyebut, potensi besar yang patut digali, yakni bidang ilmu biologi dan sosial. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sedangkan di aspek sosial, terdapat ratusan suku dan bahasa yang menarik dipelajari dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, seluruh potensi itu belum diteliti secara tajam dan spesifik. Di sisi lain, banyak orang asing yang penasaran dengan kekayaan Indonesia.

“Tetapi sekarang saya senang karena kita sudah mulai digiring untuk meneliti. Berbeda jauh ketika awal saya menjadi dosen dulu. Menurut saya, penelitian di Indonesia hanya kurang diorganisir. Padahal, secara individu banyak yang kualitas dan kemampuannya sudah melampaui luar negeri. Misalnya terkait laboratorium, semuanya ingin punya laboratorium. Hal ini membuat ilmuwan jadi kurang fokus. Padahal kalau koordinasi baik, bisa saling mengisi,” papar Mulyanto.

Lebih lanjut, Doktor dari Universitas Airlangga (Unair) itu mengungkapkan bahwa meneliti merupakan sebuah keharusan bagi dosen. Dia lalu bercerita mengenai pengalamannya mengembangkan penelitian penyakit hepatitis. Terdapat beragam virus yang menyebabkan hepatitis, yakni A, B, C, D, dan E. Rasa penasarannya membuat dia melakukan penelitian pembawa virus E yang menyebabkan penyakit.

“Kami memikirkan tikus rumah jangan-jangan membawa virus E yang menyebabkan penyakit. Kami menemukan bahwa di tikus ada jenis hepatitis E. Di Indonesia, kami identifikasi, isolasi, dan diuji coba. Ternyata virus itu bisa masuk ke sel mati manusia. Berarti ini bisa jadi penularan di masa depan. Sebelum menjadi masalah, kita sudah identifikasi. Sekarang harus kita cegah,” terangnya.

Proses penelitian yang panjang tersebut, ujar Mulyanto, membutuhkan tenaga dan biaya yang besar. Sementara di Indonesia, dana penelitian masih minim. Meski begitu, peneliti yang telah menerbitkan 24 publikasi berskala internasional di jurnal bereputasi itu mendorong para dosen untuk dapat menjadi pionir yang membuka ilmu di masyarakat. Selama ini, imbuh dia, kesadaran masyarakat akan pendidikan tinggi dan penelitian masih rendah lantaran masyarakat belum merasakan manfaat dari hasil riset dan inovasi.

“Dosen harus berkarya dan menularkan rasa keingintahuan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Sesulit apapun tantangannya, aktivitas dosen sudah tercantum dalam undang-undang, juga dalam Tri Dharma perguruan tinggi, terutama mengenai penelitian dan pengabdian masyarakat,” ucapnya.

Mulyanto menegaskan bahwa dirinya optimistis generasi penerus bangsa mampu meneruskan cita-cita para pahlawan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kuncinya, yakni adalah pendidikan, didukung dengan konsistensi pemerintah dalam mengembangan ilmu pengetahuan. Dia menambahkan, jika industri, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat bersinergi dengan baik, maka tak mustahil lima sampai 10 tahun lagi Indonesia sudah mandiri dan sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Kendati demikian, Mulyanto tak menampik bahwa masih banyak pekerjaan rumah untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Salah satunya, yakni meningkatkan integritas dan moral anak bangsa. Sehingga jangan sampai banyak orang pintar, namun masih mengalami krisis integritas.

“Semoga teman-teman yang masih muda tetap sejahtera, dan yang terpenting jangan putus asa. Jangan khawatir kehabisan masalah, apalagi untuk para ilmuwan. Kesempatan itu datang kepada orang yang siap, dan yang siaplah yang akan melakukan penelitian. Sekarang ini iklim sudah lebih bagus, seharusnya bisa lebih berkarya dibanding yang dulu,” pungkas Mulyanto. (ira)