Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dengan Memelihara Keingintahuan

Selasa, 12 September 2017 | 19:23 WIB


Lulusan perguruan tinggi merupakan harapan sebuah bangsa. Pasalnya, sumber daya manusia yang unggul akan menjadi daya ungkit, baik dalam peningkatan ekonomi maupun kemutakhiran pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bergerak menuju negara dengan pendapatan ekonomi tinggi, Indonesia membutuhkan kualitas pendidikan tinggi yang mumpuni dan berdaya saing.

Menanggapi wajah pendidikan tinggi Indonesia saat ini, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Profesor Sangkot Marzuki menilai, sudah banyak perkembangan jika dibandingkan 20 tahun terakhir. Saat ini, para dosen berusia muda dengan kualitas yang mumpuni sudah banyak. Sarana dan prasarana di perguruan tinggi, khususnya laboratorium  juga jauh lebih memadai ketimbang ketika dia menimba ilmu dahulu.

“Sebagai seorang ahli biologi molekuler, tentu sekarang ini saya melihat perguruan tinggi Indonesia sudah berkembang. Dua puluh tahun lalu ketika saya kembali ke Indonesia, jika berbicara mengenai biologi molekuler kepada mahasiswa, dosen masih harus menjelaskan hal-hal dasar yang seharusnya kalau di luar negeri sudah dikuasai di tingkat tiga. Nah, sekarang kondisinya sudah lebih baik, sumber daya manusia kita punya banyak,” tuturnya ketika ditemui di Kantor AIPI, Jakarta, belum lama ini.

Profesor yang lama berkarier di Australia itu mengungkapkan, Indonesia memiliki modal besar untuk memajukan pendidikan tinggi, khususnya melalui universitas. Baginya, universitas berperan tidak hanya mencetak lulusan handal, tetapi juga menjadi repository ilmu yang memproduksi peneliti atau ilmuwan.

“Universitas itu harus menghasilkan peneliti karena inti dari universitas adalah tempat di mana ilmu itu disimpan dan dikembangkan. Tugas universitas mencetak beragam sumber daya manusia, dari mulai dokter sampai guru untuk dokter itu sendiri,” ucapnya.

Sangkot menjelaskan, suatu ilmu harus diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Dia mengatakan, peneliti memiliki andil terhadap tugas tersebut. Sedangkan lulusan universitas pergi ke tengah masyarakat untuk mengaaplikasikan ilmu yang telah mereka dapatkan. Lebih lanjut, universitas juga berkaitan dengan daya saing bangsa.

Kunci kemajuan suatu universitas sendiri, ujar Sangkot, adalah otonomi. Dalam hal ini, otonomi kerap dianggap sebagai langkah kampus untuk dapat menghasilkan uang sendiri. Padahal, otonomi yang dimaksud adalah menentukan bidang-bidang prioritas yang penting dan cocok bagi pengembangan ilmu-ilmu di universitas, mencari dosen-dosen terbaik, serta mengatur dana yang ada untuk pengembangan proses belajar mengajar maupun riset.

“Persaingan di dunia makin ketat. Saya melihat universitas di Indonesia masih mengalami kendala. Jika ditelisik, hampir tidak ada dosen, staf, atau peneliti dari suatu universitas pindah ke universitas lain. Jadi dia lulus, menjadi dosen, lanjut S-2 dan S-3 di tempat yang sama. Berbeda jika dibandingkan dengan di luar negeri, mereka berburu lulusan-lulusan terbaik dari berbagai kampus bahkan negara untuk mengisi universitasnya,” papar pria kelahiran Medan, Sumatera Utara itu.

Terkait dengan penelitian di universitas, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini punya sudut pandang yang berbeda. Menurut Sangkot, hilirisasi produk bukan satu-satunya tujuan dari penelitian. Lebih dari itu, ekosistem keilmuwan sebagai hulu perlu ditingkatkan untuk mengembangkan rasa keingintahuan.

“Yang terjadi di Indonesia justru tidak mengembangkan budaya keingintahuan. Padahal dengan curiosity driven by research, akan menghasilkan bukan hanya ilmu pengetahuan yang baru, tapi juga ilmuwan yang bisa berpikir dan mendorong untuk penelitian yang sifatnya lebih aplikatif. Hulu dari penelitian ini adalah penelitian dasar,” sebutnya.

Sangkot menjelaskan, keberadaan penelitian dasar penting lantaran terus-menerus menimbulkan pertanyaan baru yang tidak ada ujungnya. Sebaliknya, penelitian yang sifatnya terapan atau teknologi memiliki tujuan pasar. Adapun penelitian mendasar dimotori oleh ilmuwannya, sedangkan penelitian terapan dimotori oleh lembaga riset. Di Indonesia, ucap Sangkot, yang perlu ditingkatkan adalah penelitian dasar.

Mengembangkan penelitian diakui Sangkot bukan perkara mudah. Pasalnya, dia menilai sistem pendidikan tinggi yang ada di Tanah Air belum mampu menstimulasi seseorang untuk menjadi ilmuwan. Dia mencontohkan, tidak ada dana penelitian yang memadai sepanjang tahun. Sedangkan ilmuwan harus diberi kesempatan untuk bekerja dan menunjukkan kemampuannya.

“Di Australia, Amerika, dan negara maju lainnya selalu ada dana penelitian yang sifatnya kompetitif. Yang tak kalah pentingnya, kita punya anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi ilmuwan seperti Einstein. Tentu di Indonesia akan sulit karena tidak ada yang membiayai. Einstein itu kan dibiayai untuk berpikir, laboratoriumnya ada di otaknya. Yang dibutuhkan adalah berdiskusi dengan peneliti lainnya, sementara di Indonesia tidak mungkin tanpa ada goals atau plan yang jelas,” tuturnya.

Kendati demikian, peneliti yang turut andil dalam menghidupkan kembali Lembaga Biologi Molekuler Eijkman itu optimistis bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi negara yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini didasari fakta bahwa universitas terus berkembang. Dengan begitu, pekerjaan rumah berikutnya, yakni bagaimana universitas menjamin kesejahteraan para lulusannya. Bukan sekadar siap dipakai di dunia kerja, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang bisa menghasilkan industri-industri yang baru.

“Melihat anak-anak muda kita, saya optimis bahwa kita memiliki kapasitas. Yang jadi masalah apakah kita, baik universitas, perguruan tinggi, maupun pemerintah dapat memberikan peluang itu kepada mereka. Kita tahu kelemahan-kelemahannya. Tapi berani atau tidak kita menyerap tantangan tersebut. Tanpa itu, dalam kompetisi global yang lebih berat, kita tidak akan mendapat peluang,” pungkas Sangkot. (ira)