Bangun Masyarakat Berbasis Sains, Indonesia Menuju Negara dengan High Economy Income

Senin, 14 Agustus 2017 | 18:50 WIB


Jakarta (14/8) – Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia hingga saat ini belum diimbangi oleh sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Jumlah perguruan tinggi yang mencapai lebih dari 4.400 kampus nyatanya belum mampu mencetak lulusan handal, baik dalam hal produktivitas maupun kreativitas. Di sisi lain, Indonesia tengah bermimpi menjadi bangsa dengan ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti menjelaskan, disparitas tersebut perlu ditangani dengan membangun komunikasi serta wacana terkait riset dan inovasi. Caranya, dengan menerapkan science communication antara scientist ke scientist maupun scientist ke non-scientist. Kendati demikian, butuh peran dari ilmuwan maupun media massa untuk membumikan hasil riset kepada masyarakat luas.

“Publikasi ilmiah adalah salah satu cara menyebarkan hasil riset. Perlu diketahui, publikasi internasional Indonesia terindeks Scopus sudah menyalip Thailand dengan 9.501 publikasi per 3 Agustus 2017. Namun, dalam hal inovasi Indonesia masih kalah dengan sejumlah negara di Asia Tenggara. Berdasarkan Global Innovation Index 2017, Indonesia berada di peringkat ke-87, sedangkan Thailand diperingkat ke-51, dan Singapura meraih peringkat ketujuh,” ujar Ghufron di Gedung D Kemristekdikti, Jakarta, Senin (14/8).

Ghufron menyebut, setidaknya ada dua kelemahan ilmuwan dalam melakukan komunikasi sains. Pertama terkait bahasa, dan berikutnya adalah metodologi. Di sisi lain, perguruan tinggi belum sepenuhnya menjadi agen yang membangun kultur meneliti, serta mendidik masyarakat berpikir logis dan rasional.

“Indonesia ini sumber daya manusianya tersedia. Untuk itu, harus ada revolusi mental, di mana membangun publik berpikir logis berdasarkan pada sains dan teknologi. Jika potensi sumber daya manusia ini diasah, maka Indonesia akan menjadi negara yang kaya. Pendapatan yang awalnya di kelas menengah atau middle economy income, bisa menjadi pendapatan tinggi atau high economy income,” paparnya.

Peran science communication diharapkan mampu mentransformasikan Indonesia dari ekonomi berbasis sumber daya alam (SDA) menjadi ekonomi berbasis sains teknologi. Di samping itu, dapat mendidik masyarakat agar tidak mudah tertipu atau percaya dengan hoax, apalagi hal-hal yang tidak rasional. Berkaitan dengan kondisi tersebut, media massa memiliki tantangan untuk memberikan informasi yang akurat dan faktual, tidak justru terbawa pada opini atau post truth yang menyebar cepat di media sosial.

“Ya, saat ini masyarakat cenderung lebih mempercayai hoax atau hal yang tidak rasional. Contohnya, ada pengobatan yang disembur air percaya, ada orang yang menggandakan uang juga percaya.  Padahal itu tidak masuk dalam logika sains. Sedangkan ada teknologi nuklir yang memiliki banyak manfaat justru ditakuti. Science communication inilah mampu menjembatani antara ilmuwan, pemerintah, juga media massa sehingga yang diinformasikan kepada publik itu mampu dibuktikan secara rasional,” tuturnya.

Sebelumnya, Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti telah menggelar Seminar Science Communication bertajuk ‘Mendidik Publik, Membudayakan Riset di Masyarakat’. Pada Seminar Science Communication tersebut, Ilmuwan Diaspora Indonesia bidang matematika, Hadi Susanto mengungkapkan, secara umum kewajiban ilmuwan ada dua, yakni belajar dan melakukan riset. Namun, tak sampai di situ, para ilmuwan tersebut juga harus mengomunikasikan sains kepada masyarakat.

“Kalau peneliti diberikan dana untuk melakukan riset, maka dari jumlah tersebut harus ada yang dialokasikan untuk publikasi ke masyarakat. Karena public outreach itu penting, dan menjadi kewajiban ilmuwan maupun Tri Dharma perguruan tinggi,” terang Associate Professor University of Essex itu.

Science communication, lanjut Hadi, tidak serta-merta untuk memberikan informasi semata kepada masyarakat. Pasalnya, dengan science communication masyarakat juga dapat belajar mengambil keputusan, berdasarkan logika dan rasionalitas. Mereka tak lagi mudah terbawa hoax atau hal-hal yang tidak logis lantaran berpikir berbasis pada ilmu pengetahuan dan sains.

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis menambahkan, penting untuk membangun masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dengan melibatkan media. Peran strategis tersebut kemudian dikemas dalam konsep science communication melalui tayangan yang memberikan edukasi.

“Sebenarnya masyarakat juga menginginkan tayangan yang berbau pengetahuan. Mudah-mudahan science communication ini menjadi spirit awal atau stimulus para ilmuwan untuk menciptakan suatu inovasi, sekaligus dapat dikomunukasikan kepada masyarakat. Sedangkan peran media memberikan hiburan, namun ada unsur sains, seperti program edutainment,” tandas Yuliandre. (ira)