Science Communication Membentuk Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 20:11 WIB


Makassar (11/8) – Berbagai kegiatan digelar dalam rangka memperingati puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 di Makassar. Pada kesempatan ini, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti mengadakan sebuah seminar Science Communication dengan tema “Mendidik Publik, Membudayakan Riset di Masyarakat”. Acara yang digelar di Aula Kopertis IX Makassar tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan profesional.

Dalam acara seminar, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti mengatakan, saat ini banyak masyarakat Indonesia yang belum menganggap penting ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, hal yang berbau tidak logis dan tidak rasional justru digemari.

“Masyarakat cenderung lebih mempercayai hoax atau hal yang tidak rasional. Contohnya, ada pengobatan yang disembur air percaya, ada orang yang menggandakan uang juga percaya.  Padahal itu tidak masuk dalam logika sains. Sedangkan ada teknologi nuklir yang memiliki banyak manfaat justru ditakuti,” ujar Ghufron di Aula Gedung Kopertis IX, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (11/8).

Oleh karena itu, Seminar Science Communication kali ini mengangkat tentang pentingnya komunikasi sains bagi masyarakat. Adapun komunikasi sains ini bisa dilakukan melalui media cetak, media elektronik, maupun secara face to face atau tatap muka.

Science communication adalah sebuah konsep yang intinya mengomunikasikan sains dari scientist ke scientist, maupun dari scientist ke non-scientist untuk mengubah masyarakat agar lebih berpikir secara rasional,” paparnya.

Lebih lanjut, Ghufron menekankan bahwa fondasi dari science communication adalah riset dan penelitian. Menurut dia, semakin tinggi jabatan akademisi, maka harus semakin banyak penelitiannya.

“Tahun 2015 posisi Indonesia masih rendah. Sejak ada kebijakan dosen dan profesor harus menulis, penelitian di Indonesia semakin meningkat. Tercatat pada 2016, target publikasi ilmiah internasional sebanyak 6.500 jurnal, namun hasilnya mencapai 11.865 jurnal. Sekarang baru setengah tahun sudah mencapai 9.501 jurnal. Ini luar biasa,” lanjutnya.

Ghufron menambahkan, peran perguruan tinggi kini tidak hanya menjadi agent of education. Namun, Dosen dan peneliti harus menjadi agent of research and culture, demi membangun karakter masyarakat yang rasional.

“Kita harus melakukan revolusi mental. Tidak hanya kaum intelektual, tapi masyarakat luas juga. Membantu memberikan pemahaman bahwa sesuatu yang tidak masuk akal, tidak perlu dipercaya. Harus logis dan bisa diuji kapan pun dimana pun,” tegasnya.

Dia berharap, kalangan akademisi dapat memulai terlebih dahulu dalam melakukan komunikasi sains. Kemudian didukung oleh stakeholder lain, termasuk kalangan media.

“Dengan science communication, masyarakat tidak gampang ditipu dan percaya hoax. Semua berbasis rasional agar masyarakat menjadi knowledge citizen,” simpulnya.

Pada kesempatan tersebut, hadir pula Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis dan Ilmuwan Diaspora Indonesia bidang Matematika, Dr Hadi Susanto. Sementara moderator yang memandu seminar, yakni Pemimpin Redaksi CNN Indonesia, Titin Rosmasari.

Sebagai pelaku media, Titin tak menampik bahwa penyebaran hoax menjadi tantangan tersendiri bagi media untuk menyediakan informasi yang akurat bagi masyarakat. Di sisi lain, Ketua KPI, Yuliandre Darwis mengungkapkan, penting untuk membangun masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dengan melibatkan media. Peran strategis tersebut kemudian dikemas dalam konsep science communication melalui tayangan yang memberikan edukasi.

“Sebenarnya masyarakat juga menginginkan tayangan yang berbau pengetahuan. Mudah-mudahan science communication ini menjadi spirit awal atau stimulus para ilmuwan untuk menciptakan suatu inovasi, sekaligus dapat dikomunukasikan kepada masyarakat. Sedangkan peran media memberikan hiburan, namun ada unsur sains, seperti program edutainment,” tandas Yuliandre. (ira/syifa)