Academic Leader, Sebuah Dedikasi Para Dosen Produktif dan Kreatif

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 17:45 WIB


Makassar (10/8) – Puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang dipusatkan di Makassar, Sulawesi Selatan berlangsung meriah. Seremoni tahunan yang turut dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu tidak hanya menampilkan karya-karya iptek melalui pameran “Ritech Expo“,  tetapi juga memberikan apresiasi bagi akademisi, media, maupun masyarakat yang bersumbangsih pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Tanah Air.

Malam Apresiasi Hakteknas ke-22 digelar di Gedung Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada acara tersebut, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti menominasikan dua Dosen yang dinilai telah mengabdikan diri, baik dalam mengajar maupun menghasilkan publikasi serta inovasi yang bermanfaat.

Dua Dosen penerima anugerah Academic Leader itu adalah Teuku Faisal Fathani, Ph.D dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Prof. Dr. dr. Mulyanto dari Universitas Mataram. Pemberian penghargaan dilakukan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti dengan disaksikan oleh seluruh jajaran pejabat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), serta tamu-tamu undangan.

“Penghargaan ini diberikan karena kedua Dosen ini telah berdedikasi tidak hanya dalam akademis, tetapi juga produktif dalam menghasilkan publikasi ilmiah dan kreatif berinovasi. Kami juga sengaja hanya memilih dua Dosen, karena untuk menjadi seorang dengan titel academic leader itu tidak sembarangan, melainkan harus punya peran nyata dalam kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan tinggi,” ucap Ghufron sebelum menyerahkan anugerah penghargaan kepada pemenang, Kamis (10/8).

Salah satu pemenang, Teuku Faisal Fathani, Ph.D merupakan penemu sistem peringatan bencana sedimen. Pria kelahiran Banda Aceh, 26 Mei 1975 ini sehari-hari berprofesi sebagai Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM. Adapun inovasinya, yakni berupa varian alat deteksi dini GAMA-EWS dari lima generasi telah mendapatkan sebanyak lima hak paten (granted), bahkan digunakan di 28 Provinsi di Indonesia, serta di luar negeri, seperti Timor Leste, Myanmar, dan Sri Lanka.

Dalam hal publikasi, pria yang mendapatkan gelar Doktor dari Tokyo University itu sudah menghasilkan 10 publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi dan menjadi penulis 17 buah buku atau book chapter (sebagai penulis dan editor) yang sebagian besar diterbitkan oleh penerbit internasional bereputasi.

Kini, inovasi yang diciptakan Teuku Faisal tersebut sudah digunakan oleh beberapa perusahan besar di Indonesia, di antaranya PT Pertamina Geothermal Energy, PT Freeport Indonesia, United Mercury Group, dan PT Medco International. Oleh sebab itu, GAMA-EWS sudah diproduksi oleh Unit Usaha UGM dengan kapasitas 500 unit per tahun, melibatkan sekira 40 orang tenaga kerja terampil. Guna meningkatkan kapasitas produksi, ke depan pihaknya akan membangun Teaching Industry sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar, khususnya dalam bidang kebencanaan, baik domestik maupun pasar global.

Sementara pemenang selanjutnya, Prof. Dr. dr. Mulyanto merupakan Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Dia berhasil menemukan reagensia diagnosis cepat beberapa penyakit, seperti reagensia anti-HIV dengan metode imunochromatography, reagensia imunochromatography malaria, deteksi virus hepatitis C, dan reagensia HBsAg. Tidak tanggung-tanggung, produk yang dihasilkan Mulyanto sudah dipasarkan di seluruh Indonesia melalui PT Hepatika, bahkan khusus reagensia untuk deteksi malaria sudah digunakan di Kansai Airport dan Osaka, Jepang.

Selama pengabdiannya, lulusan Doktor dari Universitas Airlangga ini telah terbukti memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap ilmu immunologi melalui 24 paper yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi, yaitu dengan H-indeks Scopus = 15. Selain itu, Mulyanto pun banyak melakukan kerja sama penelitian dengan School of Medicine, Jichi Medical University di Jepang untuk menghasilkan inovasi di bidang kedokteran.

Semangat pria yang lahir di Cilacap, 25 Mei 1948 ini juga patut diacungi jempol. Pasalnya, meski akan memasuki usia pensiun tahun depan, Mulyanto masih sangat aktif melakukan penelitian untuk mengembangkan teknik diagnosis penyakit manusia. Hal ini sesuai dengan obsesinya, yakni menghasilkan teknologi diagnosis yang akurat, cepat, praktis, dan terjangkau oleh semua kalangan. (ira)